04 January 2026, 15:18

Walkot Solo Sebut Coffee Shop Salah Satu Penyumbang Inflasi Tertinggi, Harga Biji Kopi Dinilai “Agak Anomali”

Respati Ardi menilai menjamurnya kafe kopi atau coffee shop dalam beberapa tahun terakhir ikut menambah tekanan inflasi di daerahnya.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,669
Walkot Solo Sebut Coffee Shop Salah Satu Penyumbang Inflasi Tertinggi, Harga Biji Kopi Dinilai “Agak Anomali”
Ilustrasi. Walkot Solo menyebut saat ini ada setidaknya 174 coffee shop baru di kota tersebut. (stevepb/Pixabay)

SOLO, Perspektif.co.id - Wali Kota Solo, Jawa Tengah, Respati Ardi menilai menjamurnya kafe kopi atau coffee shop dalam beberapa tahun terakhir ikut menambah tekanan inflasi di daerahnya. Ia menyebut, di luar komoditas pangan yang selama ini kerap menjadi penyumbang utama, geliat konsumsi kopi dan pertumbuhan gerai kopi yang sangat cepat membuat permintaan biji kopi melonjak dan berimbas pada kenaikan harga bahan baku.

Mulanya, Respati memaparkan tiga komoditas yang masih menjadi penyumbang inflasi tertinggi di Solo, yakni bawang merah, bawang putih, dan cabai. Namun, ia menegaskan bahwa dorongan inflasi tidak berhenti di sektor bahan pangan. Menurutnya, coffee shop yang terus bertambah juga memberi kontribusi pada kenaikan harga di level konsumsi.

“Coffee shop juga menjadi penyumbang inflasi di ekonomi kita,” kata Respati usai mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan membuka Pasar Murah di Solo, Jumat (2/1).

Respati menjelaskan konsumsi kopi masyarakat meningkat seiring coffee shop makin menjamur, yang pada akhirnya mengerek permintaan biji kopi cukup tinggi. Ia menilai kondisi tersebut berdampak pada kenaikan harga bahan baku yang dinilai tidak wajar, karena tekanan permintaan membuat harga bergerak lebih cepat dari yang seharusnya.

“Karena demand yang cukup tinggi, harga biji kopi juga cukup tinggi. Ada harga-harga yang agak sedikit anomali,” ujar Respati.

Ia juga mengungkapkan jumlah coffee shop baru di Kota Solo telah menembus 174. Fenomena ini dinilainya sebagai bagian dari tren gaya hidup masyarakat. Meski begitu, Respati mengingatkan lonjakan pertumbuhan industri yang terlalu drastis berpotensi tidak sehat bagi stabilitas ekonomi daerah, terutama ketika rantai pasok bahan baku tidak siap menyesuaikan.

“Kalau satu industri peningkatannya drastis pasti tidak sehat. Makanya ini perlu ada penengah, nanti pemerintah hadir sebagai penengah,” kata dia.

Untuk menjaga stabilitas harga, Pemerintah Kota Solo disebut berupaya memperkuat pasokan biji kopi agar kenaikan harga bisa ditekan. Salah satu strategi yang ditempuh adalah menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah yang menjadi sentra penghasil kopi, supaya pasokan lebih terjaga dan harga tidak saling berebut antarwilayah.

“Seperti Temanggung, dia juga penghasil kopi. Supaya harganya bisa stabil dan tidak saling ‘bunuh’,” ujar Respati.

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Kota Solo pada Oktober 2025 mengalami inflasi tahunan (year on year/YoY) sebesar 2,73 persen. Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi YoY tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 12,29 persen. Selanjutnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi YoY 4,21 persen, disusul kelompok penyedia makanan dan minuman/restoran sebesar 3,69 persen.

Berita Terkait