JAKARTA, Perspektif.co.id - Sebanyak 10 saham berkapitalisasi jumbo tercatat menguasai lebih dari 83 persen bobot indeks MSCI Indonesia per April 2026. Deretan emiten tersebut didominasi sektor perbankan, namun juga diisi saham teknologi hingga tambang seperti GOTO dan BRMS.
Data tersebut tercantum dalam MSCI Indonesia Index Factsheet per 30 April 2026. Saat ini, MSCI Indonesia terdiri dari 17 saham yang merepresentasikan sekitar 85 persen kapitalisasi pasar saham kategori large cap dan mid cap di Indonesia.
Dari total konstituen tersebut, 10 saham teratas memiliki bobot gabungan mencapai 83,36 persen terhadap keseluruhan indeks. Kondisi ini menunjukkan pergerakan indeks MSCI Indonesia sangat dipengaruhi oleh segelintir saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia.
Posisi saham dengan bobot terbesar masih ditempati BBCA dengan porsi mencapai 22,14 persen. Dominasi sektor perbankan berlanjut melalui BBRI sebesar 13,91 persen dan BMRI dengan bobot 11,18 persen.
Di luar sektor perbankan, saham TLKM mencatat bobot 9,50 persen, disusul ASII sebesar 8,25 persen dan AMMN sebesar 5,05 persen.
Sementara itu, saham teknologi GOTO memiliki bobot 3,29 persen di MSCI Indonesia. Sedangkan saham tambang BRMS mencatat porsi 3,12 persen dalam indeks tersebut.
Selain itu, ada pula BBNI dengan bobot 3,79 persen serta TPIA sebesar 3,13 persen.
Secara sektoral, indeks MSCI Indonesia masih sangat didominasi sektor keuangan dengan bobot mencapai 51,03 persen. Posisi berikutnya ditempati sektor material sebesar 14,23 persen dan sektor komunikasi dengan kontribusi 9,5 persen.
Di tengah dominasi saham-saham besar tersebut, MSCI sebelumnya juga mengumumkan hasil rebalancing terbaru per 30 April 2026. Dalam penyesuaian itu, tidak ada saham Indonesia baru yang masuk ke MSCI Global Standard Indexes.
Sebaliknya, MSCI justru mengeluarkan enam saham Indonesia dari indeks globalnya. Langkah tersebut diambil di tengah kebijakan pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), penghentian sementara penambahan konstituen baru, serta evaluasi terhadap aksesibilitas pasar modal Indonesia.
MSCI menyebut kebijakan itu dilakukan guna mengurangi turnover indeks dan meminimalkan risiko investability sambil menunggu peningkatan transparansi pasar modal Indonesia.
Berikut daftar 10 saham dengan bobot terbesar di MSCI Indonesia per April 2026:
- BBCA: 22,14 persen
- BBRI: 13,91 persen
- BMRI: 11,18 persen
- TLKM: 9,50 persen
- ASII: 8,25 persen
- AMMN: 5,05 persen
- BBNI: 3,79 persen
- GOTO: 3,29 persen
- TPIA: 3,13 persen
- BRMS: 3,12 persen