11 May 2026, 16:17

Utang RI Hampir Tembus Rp10 Ribu Triliun, Purbaya Malah Minta Dipuji: Rasio Kita Masih Jauh dari Batas Eropa

Bahkan, Purbaya menyebut publik seharusnya memberikan apresiasi terhadap pengelolaan utang pemerintah saat ini.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
6
Utang RI Hampir Tembus Rp10 Ribu Triliun, Purbaya Malah Minta Dipuji: Rasio Kita Masih Jauh dari Batas Eropa
utang indonesia hampir rp10 ribu triliun 2026

JAKARTA, Perspektif.co.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan posisi utang pemerintah Indonesia masih berada dalam kondisi aman meski nilainya nyaris menyentuh Rp10 ribu triliun hingga akhir Maret 2026. Bahkan, Purbaya menyebut publik seharusnya memberikan apresiasi terhadap pengelolaan utang pemerintah saat ini.

Pernyataan itu disampaikan Purbaya menanggapi sorotan mengenai lonjakan utang pemerintah yang meningkat signifikan dalam tiga bulan terakhir. Berdasarkan data pemerintah, total utang Indonesia naik dari Rp9.637,9 triliun pada Desember 2025 menjadi Rp9.920,4 triliun pada akhir Maret 2026.

Meski nominal utang terus bertambah, Purbaya menilai ukuran utama dalam melihat kesehatan fiskal suatu negara bukanlah total utang semata, melainkan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Kalau kita lihat acuan yang paling ketat di Eropa, rasio utang ke PDB berapa? 60 persen. Kita masih jauh,” ujar Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (11/5).

Purbaya menekankan Indonesia masih berada dalam koridor aman dibanding sejumlah negara lain yang memiliki rasio utang jauh lebih tinggi. Menurutnya, selama rasio utang terhadap PDB tetap terkendali, posisi fiskal Indonesia masih relatif sehat dan terjaga.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi respons terhadap meningkatnya perhatian publik terhadap tren kenaikan utang negara yang mendekati angka psikologis Rp10 ribu triliun. Dalam beberapa tahun terakhir, isu utang pemerintah memang terus menjadi sorotan, terutama terkait kemampuan negara menjaga stabilitas fiskal di tengah tekanan ekonomi global.

Pemerintah sendiri sebelumnya menyebut pembiayaan melalui utang masih diperlukan untuk mendukung belanja negara, pembangunan infrastruktur, hingga menjaga pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, strategi pengelolaan utang juga diklaim dilakukan secara hati-hati dengan menjaga keseimbangan tenor, bunga, serta risiko pembiayaan.

Berita Terkait