10 December 2025, 16:24

Harga RAM Melejit 500 Persen, Siap-siap PC dan Laptop Baru Jadi Barang Mewah Mulai 2026

Para analis memperingatkan, gelombang kenaikan harga ini akan berimbas langsung pada harga PC dan laptop konsumen mulai 2026.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
6,618
Harga RAM Melejit 500 Persen, Siap-siap PC dan Laptop Baru Jadi Barang Mewah Mulai 2026
Ilustrasi. Industri PC terguncang akibat lonjakan harga RAM dan SSD hingga 500 persen akibat kelangkaan komponen. Produsen laptop bersiap menaikkan harga jual. (Foto: iStockphoto/KeremYucel)

JAKARTA,Perspektif.co.id – Setelah sempat bernapas lega karena harga kartu grafis (GPU) berangsur stabil, industri PC global kembali diterpa pukulan baru. Kali ini giliran memori RAM dan SSD yang melonjak tajam akibat krisis pasokan chip, didorong ledakan pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) di seluruh dunia. Para analis memperingatkan, gelombang kenaikan harga ini akan berimbas langsung pada harga PC dan laptop konsumen mulai 2026.

Salah satu sinyal paling jelas datang dari CyberPowerPC, produsen PC rakitan besar asal Amerika Serikat. Dalam pernyataan resminya, perusahaan itu terang-terangan mengumumkan bakal menaikkan harga seluruh sistem yang mereka jual mulai 7 Desember 2025. “Harga memori global (RAM) telah melonjak 500 persen, dan harga SSD naik 100 persen,” tulis CyberPowerPC dalam keterangan yang dikutip PCGamer, Kamis (27/11).

Lonjakan permintaan memori untuk server AI sepanjang 2025 disebut sebagai pemicu utama. Infrastruktur AI modern membutuhkan kapasitas memori yang sangat besar, baik DRAM untuk proses komputasi jangka pendek maupun NAND untuk kebutuhan penyimpanan jangka panjang. Akibatnya, fasilitas produksi yang sebelumnya melayani pasar perangkat konsumen kini kewalahan memenuhi order dari pusat-pusat data skala raksasa.

Laporan lembaga riset pasar TrendForce yang dikutip TechSpot menunjukkan betapa ekstremnya situasi saat ini. Harga kontrak DRAM pada kuartal III 2025 tercatat melonjak hingga 171,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. “Kenaikan ini bahkan melampaui laju kenaikan harga emas,” tulis TrendForce dalam laporannya, menggambarkan seberapa panas pasar memori global.

Di sisi suplai, produsen besar juga mulai kewalahan. Sejumlah perusahaan Korea Selatan dikabarkan menghentikan penerimaan pesanan baru untuk modul DDR5 hingga akhir bulan karena stok benar-benar menipis. Di pasar ritel, tekanan harga mulai terasa sejak pertengahan 2025. Data PCPartPicker menunjukkan tren kenaikan stabil untuk RAM DDR4 dan DDR5, dengan lonjakan lebih tajam sejak September. Modul RAM merek Corsair dan Crucial di platform e-commerce global seperti Amazon juga mengalami kenaikan signifikan hanya dalam hitungan minggu.

Di pasar spot, lonjakan harga terlihat jelas di DRAM Exchange. Dalam beberapa hari, harga chip DDR4 16Gb meningkat dari US$28 (sekitar Rp448.000) menjadi US$37 (sekitar Rp592.000). Sementara itu, DDR5 16Gb naik dari US$20 (sekitar Rp320.000) menjadi US$33 (sekitar Rp528.000). Kenaikan serentak di kedua generasi memori ini mengonfirmasi bahwa kelangkaan pasokan terjadi secara menyeluruh.

Produsen kelas dunia ikut mengakui ketatnya pasokan. SK Hynix, salah satu pemain terbesar di pasar memori, dilaporkan telah mengontrak habis stok DRAM, NAND, bahkan chip memori berperforma tinggi HBM hingga tahun depan. “Pasokan sangat terbatas. Beberapa penyedia cloud hanya mendapatkan pemenuhan sekitar 70 persen,” ungkap seorang sumber internal industri kepada media. “OEM bahkan lebih buruk, hanya 30 persen hingga 40 persen,” sambungnya, merujuk pada pabrikan perangkat jadi seperti produsen PC dan laptop.

Menariknya, meski DDR5 adalah standar terbaru, kenaikan harga DDR4 justru tercatat lebih tajam. Para analis menilai, hal ini terjadi karena pabrikan telah mengalihkan kapasitas produksi secara agresif ke DDR5 untuk memenuhi kebutuhan generasi perangkat baru dan server AI. Di sisi lain, permintaan DDR4 dari konsumen PC dan segmen mainstream masih tinggi, sehingga terjadi kekosongan pasokan yang tak terhindarkan.

Adata, salah satu produsen memori besar dunia, memperkirakan situasinya tidak akan membaik dalam waktu dekat. “Kami memperkirakan kelangkaan ini akan berlangsung hingga jauh ke 2026. Pasar memori saat ini sangat bullish,” ujar perusahaan itu dalam proyeksinya. Dengan kata lain, harga tinggi diperkirakan bertahan cukup lama sebelum suplai dan permintaan kembali seimbang.

Kondisi ini memunculkan ironi baru bagi konsumen. Di saat harga GPU yang sempat meroket akibat tren kripto dan AI mulai terkoreksi turun, kini RAM dan SSD justru bergeser menjadi komponen yang menyedot porsi besar dari total biaya perakitan PC. Sejumlah analis memperkirakan, untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, memori berpotensi menjadi salah satu komponen termahal dalam sebuah build PC, menggeser porsi biaya yang selama ini didominasi prosesor dan kartu grafis.

Dampak lanjutan mulai terasa di lini perangkat jadi. Produsen laptop besar disebut-sebut mulai mengkalkulasi ulang struktur biaya dan harga jual mereka untuk tahun depan. Lenovo dilaporkan sudah memberi sinyal kepada jaringan ritel bahwa harga perangkatnya akan disesuaikan mulai Januari 2026, artinya toko akan menerima daftar harga eceran baru yang lebih tinggi. Konsekuensinya, konsumen harus siap membayar lebih untuk membeli laptop baru, bahkan di segmen kelas menengah.

Produsen lain seperti HP dan Dell juga dikabarkan mempertimbangkan langkah serupa. Menurut laporan media Korea Selatan, Chosun Ilbo, kedua perusahaan tengah meninjau kembali lini produk mereka beberapa pekan sebelum tampil di ajang Consumer Electronics Show (CES) 2026. Penajaman ulang portofolio produk ini bisa berarti penyesuaian spesifikasi standar, pengurangan kapasitas memori di model dasar, atau penyesuaian harga untuk menjaga margin di tengah lonjakan biaya komponen.

Di sisi pengguna akhir, terutama gamer dan perakit PC, situasi ini memaksa banyak orang untuk mengatur ulang rencana upgrade. Dengan harga RAM dan SSD yang meroket, strategi seperti menunda pembelian, memilih kapasitas yang lebih kecil, atau memanfaatkan kembali komponen lama bisa menjadi pilihan terpaksa, setidaknya sampai tekanan di pasar memori mulai mereda.

Berita Terkait