20 December 2025, 19:39

Malam 1 Rajab 1447 H Mulai Bakda Maghrib Ini, Ini 7 Amalan yang Bisa Diamalkan Tanpa Mengada-ada Ritual Khusus

Pergantian hari dalam kalender Hijriah dimulai sejak matahari terbenam atau masuk waktu Maghrib.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
7,379
Malam 1 Rajab 1447 H Mulai Bakda Maghrib Ini, Ini 7 Amalan yang Bisa Diamalkan Tanpa Mengada-ada Ritual Khusus
Amalan malam 1 Rajab. (Foto: Freepik/freepik)

Perspektif.co.id - Pergantian hari dalam kalender Hijriah dimulai sejak matahari terbenam atau masuk waktu Maghrib. Karena itu, ketika hilal menandai awal bulan baru, maka “malam” lebih dulu berjalan sebelum tanggalnya tercatat di siang hari berikutnya. 

Merujuk penanggalan Hijriah yang menjadi rujukan pemerintah, 1 Rajab 1447 H jatuh pada Minggu, 21 Desember 2025. Artinya, malam 1 Rajab dimulai pada Sabtu, 20 Desember 2025 setelah salat Maghrib. Dengan kata lain, malam 1 Rajab sudah bisa diisi dengan amalan sejak malam ini. 

Namun, penegasan pentingnya: para ulama mengingatkan bahwa tidak ada ibadah yang secara syariat “wajib” atau “khusus” dipatok untuk malam pertama Rajab. Dalam literatur yang sering dirujuk, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menekankan tidak ditemukannya hadis sahih yang dapat dijadikan hujjah untuk mengkhususkan keutamaan Rajab dengan puasa tertentu atau salat malam tertentu. Prinsipnya, Rajab tetap bisa dihidupkan dengan amal saleh, tetapi tanpa mengklaim ada ritual spesifik yang dipastikan bersumber kuat. 

Rajab sendiri termasuk salah satu bulan haram (bulan mulia) dalam tradisi Islam, sehingga banyak umat memanfaatkannya untuk memperbaiki kualitas ibadah, menahan diri dari maksiat, serta menguatkan disiplin spiritual menjelang Sya’ban dan Ramadhan. Karena tidak ada “paket ibadah khusus” yang dipatenkan, maka yang dianjurkan adalah mengisi malam 1 Rajab dengan amalan-amalan umum yang memang sudah disyariatkan kapan saja. 

Berikut 7 amalan malam 1 Rajab yang dapat dikerjakan mulai bakda Maghrib, sebagaimana rangkuman yang beredar di sejumlah rujukan keislaman populer, dengan catatan: lakukan sebagai amal umum, bukan menganggapnya ritual wajib khusus Rajab. 

  1. Membaca doa awal bulan (doa melihat hilal/awal bulan). Doa awal bulan pada dasarnya bukan “doa khusus Rajab”, melainkan adab menyambut pergantian bulan. Jika tidak melihat hilal langsung, substansinya tetap bisa dibawa sebagai doa pembuka bulan: memohon keamanan, iman, keselamatan, dan petunjuk untuk amal yang diridhai Allah. 
  2. Memperbanyak istighfar, termasuk Sayyidul Istighfar. Banyak tradisi literasi Islam mendorong istighfar sebagai amalan harian, terutama di waktu pagi dan petang. Malam 1 Rajab dapat dijadikan momentum “reset” batin: menata ulang komitmen, mengakui kekurangan, lalu memperbanyak memohon ampunan tanpa harus menunggu momen tertentu. 
  3. Berdoa sesuai hajat dan memperbanyak munajat. Sejumlah rujukan mengutip pendapat Imam Syafi’i dalam Al-Umm tentang beberapa malam yang dinilai baik untuk memperbanyak doa, salah satunya awal malam Rajab, tetapi sifatnya anjuran (mustahab), bukan kewajiban. Karena itu, malam 1 Rajab bisa dipakai untuk doa yang bernapas kebaikan: keluarga, pekerjaan, kesehatan, perlindungan dari musibah, dan ampunan. 
  4. Membaca Al-Qur’an. Ini amalan paling “aman” sekaligus paling bernilai karena tidak bergantung pada klaim pengkhususan waktu tertentu. Membaca, mentadabburi, atau menyicil target bacaan harian dapat menjadi cara sederhana menghidupkan malam 1 Rajab—baik sendiri maupun bersama keluarga. 
  5. Salat sunnah mutlak. Salat sunnah yang tidak terikat sebab tertentu dapat dilakukan kapan saja selain waktu yang dimakruhkan. Malam 1 Rajab bisa dimanfaatkan untuk memperbanyak rakaat ringan, dua rakaat-dua rakaat, sebagai latihan disiplin sekaligus upaya menutup kekurangan ibadah wajib. 
  6. Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Shalawat bukan amalan musiman, tetapi memperbanyaknya di malam 1 Rajab dapat menjadi cara memperhalus hati dan memperkuat ikatan spiritual. Lagi-lagi, ini bukan “paket Rajab”, melainkan amalan umum yang kapan pun bernilai. (detikcom)
  7. Beramal saleh secara umum dan menjaga diri dari perbuatan zalim. Esensi bulan mulia sering dipahami sebagai momentum memperbanyak kebaikan dan menahan diri dari keburukan. Jika ingin praktis, malam 1 Rajab bisa diisi dengan amal sederhana: sedekah, membantu keluarga, memperbaiki hubungan, menahan lisan dari gibah, atau menata ulang rencana ibadah jelang Ramadhan.

Dengan demikian, fokus malam 1 Rajab bukan berburu ritual “unik”, melainkan menguatkan amalan yang landasannya jelas: doa, istighfar, Al-Qur’an, salat sunnah, shalawat, dan amal saleh. Di saat yang sama, pengingat dari para ulama soal kehati-hatian dalil menjadi rambu agar umat tidak mudah menganggap sesuatu sebagai “sunnah khusus” tanpa pijakan yang kuat. 

Berita Terkait