Perspektif.co.id - Tim SAR gabungan kembali menemukan korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Dalam operasi pencarian Kamis (22/1), tim menemukan enam korban di titik yang saling berdekatan, dengan satu korban di antaranya berhasil dievakuasi ke puncak gunung dari kedalaman jurang.
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Andi Sultan, mengatakan satu korban sudah berada bersama tim SAR gabungan setelah proses pengangkatan dari jurang sedalam sekitar 350 meter. “Satu paket telah bersama dengan tim SAR gabungan. Masih ada lima paket lagi yang akan dievakuasi,” kata Andi Sultan, Kamis (22/1).
Andi menjelaskan, enam korban yang ditemukan pada hari itu berada di area sekitar ekor pesawat. Lokasi penemuan disebut berada pada titik koordinat yang jaraknya relatif saling berdekatan. “Ketika ditemukan, jarak masing-masing paket sejauh 50 meter,” ujar Andi, menggambarkan sebaran temuan tim di lereng Bulusaraung.
Berdasarkan laporan lapangan, pencarian pada hari itu dilakukan dengan penyisiran sektor puncak dan area sekitar, melibatkan unsur darat maupun udara. Andi menyebut penyisiran oleh personel puncak dimulai sejak pagi, termasuk di sekitar lokasi ditemukannya bagian ekor pesawat. Dalam rentang waktu sekitar pukul 09.22 hingga 10.11 WITA, tim kemudian menemukan enam korban di titik-titik yang saling berdekatan.
Satu korban yang telah berhasil diangkat rencananya akan dibawa turun menuju Posko Tompobulu melalui jalur darat. Sementara itu, lima korban lain masih menunggu proses evakuasi, dengan tim menyesuaikan strategi berdasarkan kondisi cuaca dan medan.
Upaya dukungan udara pada operasi hari itu juga terkendala cuaca. Helikopter Bell 429 yang disiapkan untuk membawa personel serta logistik menuju lokasi pencarian dilaporkan harus kembali ke home base di Lanud Sultan Hasanuddin karena kondisi di area gunung tidak memungkinkan.
Andi menegaskan tantangan utama operasi SAR kali ini adalah kombinasi medan ekstrem dan dinamika cuaca pegunungan yang cepat berubah. “Medan yang sangat terjal, jarak pandang terbatas, serta cuaca yang cepat berubah menjadi tantangan utama di lapangan. Meski demikian, seluruh personel tetap bekerja maksimal dengan mengutamakan keselamatan,” tegasnya.
Operasi SAR, kata Andi, akan terus dilanjutkan sembari memprioritaskan keselamatan personel. Tim SAR gabungan juga terus mengatur pengerahan Search and Rescue Unit (SRU) pada sektor-sektor pencarian hingga seluruh unsur diarahkan menuju titik-titik temuan untuk mempercepat proses pengangkatan korban berikutnya.
Insiden ATR 42-500 ini sebelumnya memicu pengerahan besar-besaran personel pencarian. Reuters melaporkan pesawat jenis ATR 42-500 yang dioperasikan Indonesia Air Transport sempat dilaporkan hilang kontak dengan 11 orang di dalamnya—terdiri dari delapan kru dan tiga penumpang—dalam penerbangan menuju Makassar setelah berangkat dari Yogyakarta, sebelum kemudian upaya pencarian difokuskan di sekitar Gunung Bulusaraung.
Dengan ditemukannya enam korban di sekitar area ekor pesawat dan baru satu yang berhasil diangkat dari jurang, tim SAR gabungan menegaskan proses evakuasi berikutnya sangat bergantung pada jendela cuaca dan kesiapan peralatan di medan terjal. Pemerintah dan unsur terkait di lapangan menyatakan komitmen melanjutkan pencarian dan pengangkatan korban hingga seluruh proses tuntas.