18 April 2026, 12:10

TSMC Cetak Rekor Pendapatan Rp581 Triliun di Q1 2026, Permintaan Chip AI Nvidia dan Apple Tak Terbendung

TSMC cetak rekor pendapatan Q1 2026 senilai Rp581 triliun, naik 35% YoY didorong permintaan chip AI Nvidia dan Apple yang melampaui ekspektasi analis.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
13
TSMC Cetak Rekor Pendapatan Rp581 Triliun di Q1 2026, Permintaan Chip AI Nvidia dan Apple Tak Terbendung
Pabrik semikonduktor canggih TSMC di Taiwan menjadi tulang punggung industri chip AI global. Pendapatan Q1 2026 melonjak 35% YoY mencapai Rp581 triliun. (Foto: ilustrasi)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), produsen chip kontrak terbesar di dunia, mencatat pendapatan kuartalan terbaru yang melampaui semua ekspektasi pasar—membuktikan bahwa boom infrastruktur kecerdasan buatan global masih jauh dari titik jenuh. Perusahaan yang berbasis di Hsinchu, Taiwan ini mengumumkan pada Jumat 10 April 2026 bahwa pendapatan kuartal pertama tahun ini mencapai NT$1,134 triliun atau setara sekitar US$35,71 miliar (Rp581 triliun), naik 35,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan melampaui konsensus analis Bloomberg di angka NT$1,12 triliun. Lonjakan ini menjadikan Q1 2026 sebagai kuartal dengan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah TSMC, memperpanjang tren pertumbuhan yang konsisten dari kuartal ke kuartal.

Yang paling mencolok dari laporan ini adalah kinerja bulan Maret 2026 secara individual. Berdasarkan laporan CNBC, pendapatan TSMC untuk bulan Maret saja menyentuh NT$415,2 miliar, melesat 45,2 persen dibandingkan Maret tahun lalu—sekaligus menjadi angka pertumbuhan bulanan tertinggi yang pernah dicatat perusahaan ini dalam seluruh sejarah operasionalnya. Angka Maret itu juga tumbuh 30,7 persen secara berurutan dari bulan Februari, mengindikasikan akselerasi permintaan yang semakin kencang justru di penghujung kuartal.

Mesin utama di balik lonjakan ini adalah permintaan chip kecerdasan buatan dari pelanggan-pelanggan kelas berat. Sebagaimana dilaporkan CNBC dan Bloomberg, dua raksasa teknologi yang paling banyak menggerakkan pesanan ke TSMC adalah Apple dan Nvidia—keduanya mengandalkan fabrikasi proses canggih TSMC untuk memproduksi akselerator AI dan chip seri M terbaru mereka.

TSMC memfabrikasi sekitar sembilan dari setiap sepuluh akselerator AI kelas atas yang beredar di planet ini, dengan teknologi proses 3 nanometer dan 5 nanometer yang menjadi tulang punggung efisiensi energi pusat data global.  Segmen komputasi berperforma tinggi dan AI memikul beban pertumbuhan secara keseluruhan, sementara pasar smartphone dan PC justru mengalami tekanan akibat kekurangan pasokan memori di kuartal ini. Analis di SemiAnalysis, Sravan Kundojjala, memberikan penilaian tajam terkait hasil ini kepada CNBC melalui surel.

“Kami berpikir TSMC akan dengan mudah melampaui target pertumbuhan tahunannya sebesar 30 persen,” tulis Kundojjala, seraya menambahkan bahwa segmen AI perusahaan itu yang sesungguhnya memikul seluruh beban saat pasar smartphone dan PC lesu.

Kundojjala juga menyebut bahwa kenaikan harga yang diterapkan TSMC pada chip-chip node terdepannya merupakan faktor besar di balik capaian pendapatan kuartal ini, dan ia memproyeksikan margin kotor TSMC mencapai 64 persen untuk Q1 2026—angka yang berada di ujung atas dari panduan resmi perusahaan yang berkisar 63 hingga 65 persen. Permintaan akselerator AI diproyeksikan tumbuh dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk di kisaran mid-to-high 50 persen hingga tahun 2029, memberikan landasan jangka panjang bagi utilisasi kapasitas dan daya penetapan harga TSMC.

Hasil ini juga menjawab kekhawatiran investor soal dampak konflik geopolitik. Sejumlah investor sebelumnya memperhatikan apakah perang Iran yang meletus pada akhir Februari—tepat di awal sisa kuartal—akan memperlambat pesanan chip AI. Kenyataannya tidak demikian; permintaan dari Apple dan Nvidia terus mengalir, sementara kenaikan harga pada node terdepan TSMC turut menjadi faktor material dalam melampaui konsensus analis.  Hal ini memperkuat pandangan bahwa rantai pasok semikonduktor untuk keperluan AI memiliki ketahanan yang berbeda dari segmen konsumer biasa.

CEO TSMC C.C. Wei dijadwalkan memberikan paparan lengkap pada earnings call penuh yang akan digelar pada 16 April 2026, yang akan menyertakan data margin, panduan kuartal kedua, dan komentar manajemen terkait seluruh tahun fiskal 2026. Wei sebelumnya menyatakan bahwa output node canggih TSMC masih sekitar tiga kali di bawah apa yang diharapkan oleh pelanggan-pelanggan utama untuk dapat mereka gunakan, menggambarkan kesenjangan antara pasokan dan permintaan yang justru menjadi sumber kekuatan harga bagi perusahaan. Investors juga akan mencermati apakah TSMC akan merevisi naik panduan pertumbuhan penuh tahun 2026 yang sebelumnya ditetapkan sekitar 30 persen dalam denominasi dolar AS—sebuah angka yang sudah terlampaui oleh kinerja Q1 saja.

Di sisi ekspansi, TSMC menginvestasikan US$165 miliar (Rp2.689 triliun) untuk membangun fasilitas fabrikasi chip di Arizona dengan rencana hingga 12 pabrik di kawasan tersebut, sekaligus meng-upgrade operasionalnya di Jepang untuk memproduksi chip 3 nanometer, sebagai bagian dari strategi diversifikasi geopolitik yang didorong Undang-Undang CHIPS Amerika Serikat. Kapitalisasi pasar TSMC kini mendekati US$1,6 triliun, hampir dua kali lipat nilai Samsung Electronics, dan saham TSMC yang tercatat di NYSE naik lebih dari 2 persen dalam perdagangan pra-pasar setelah laporan ini dirilis.

Berita Terkait