TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Tesla akhirnya mencapai tonggak krusial dalam pengembangan chip kecerdasan buatan generasi terbarunya setelah berbulan-bulan didera penundaan demi penundaan. CEO Elon Musk mengumumkan pada 15 April 2026 bahwa chip AI5 Tesla telah berhasil melewati proses tape-out, sebuah tahapan penting di mana desain final chip dikirimkan ke pabrik semikonduktor untuk memulai proses fabrikasi. Pengumuman itu datang lewat unggahan Musk di X pada pukul 03.21 dini hari waktu Pasifik, disertai foto chip yang langsung menggemparkan komunitas teknologi global.
Dalam unggahannya di X, Musk menulis: “Selamat kepada tim desain chip @Tesla_AI atas tape-out AI5! AI6, Dojo3, dan chip-chip menarik lainnya sedang dalam pengerjaan.”
Tape-out merupakan momen ketika desain sebuah chip dinyatakan terkunci dan diteruskan ke foundry semikonduktor untuk difabrikasi. Ini adalah pencapaian penting, namun bukan garis finish. Setelah tape-out, chip masih harus diproduksi secara fisik, diuji dalam bentuk silikon, divalidasi, lalu ditingkatkan ke produksi volume. Untuk sebuah akselerator AI kelas otomotif, proses tersebut biasanya memakan waktu 12 hingga 18 bulan. Artinya, kendaraan Tesla yang menggunakan chip AI5 secara massal baru bisa terwujud paling cepat pada pertengahan hingga akhir 2027.
Keterlambatan ini bukan hal baru bagi Tesla. Musk sempat menjanjikan AI5 akan hadir di kendaraan pada “paruh kedua 2025” sejak Juni 2024. Pada Juli 2025, ia mengklaim desain AI5 sudah “selesai”, yang banyak pihak artikan sebagai tahap tape-out. Namun pada November 2025, Tesla secara resmi mendorong jadwal produksi volume AI5 ke pertengahan 2027, memaksa Cybercab untuk diluncurkan menggunakan perangkat keras AI4 generasi saat ini. Bahkan pada Januari 2026, Musk kembali menyebut desain AI5 “hampir selesai”, enam bulan setelah menyatakan chip itu sudah rampung. Kronologi panjang ini menunjukkan betapa kompleks dan berisikonya pengembangan chip AI kelas otomotif dari nol.
Untuk mengisi kekosongan selama penundaan, Tesla secara diam-diam memperkenalkan komputer “AI4.5” sebagai solusi sementara pada kendaraan Model Y 2026 akhir tahun lalu. Perusahaan membutuhkan lebih banyak compute untuk terus melatih jaringan neural FSD (Full Self-Driving) yang semakin besar sementara AI5 terus meleset dari jadwal. Langkah ini mencerminkan tekanan kompetitif yang dihadapi Tesla di tengah persaingan kendaraan otonom yang semakin sengit.
Sementara itu, Tesla mengalokasikan US$20 miliar atau sekitar Rp327 triliun dalam belanja modal untuk 2026 guna mendanai Terafab dan proyek-proyek non-kendaraan lainnya, termasuk robotaxi Cybercab dan robot humanoid Optimus. Skala investasi ini menempatkan Tesla sebagai salah satu pemain terbesar dalam perlombaan infrastruktur semikonduktor global, sebuah posisi yang sebelumnya hanya dimiliki oleh raksasa chip seperti TSMC, Samsung, dan Intel.
Terafab adalah pabrik fabrikasi semikonduktor terencana yang dikembangkan bersama oleh Tesla, xAI, SpaceX selaku induk xAI, dan Intel. Proyek senilai US$20 hingga 25 miliar atau sekitar Rp327 triliun hingga Rp409 triliun ini diumumkan Musk pada 21 Maret 2026 di Austin, Texas, dan dirancang untuk menghasilkan kapasitas komputasi AI lebih dari satu terawatt per tahun. Fasilitas ini dirancang untuk menyatukan seluruh rantai produksi semikonduktor di bawah satu atap, mulai dari desain chip, litografi, fabrikasi, produksi memori, pengemasan canggih, hingga pengujian.
Intel bergabung ke proyek Terafab bersama SpaceX dan Tesla untuk membangun pabrik semikonduktor baru di Texas, meskipun ruang lingkup kontribusinya belum sepenuhnya diungkapkan secara rinci kepada publik. Keikutsertaan Intel menjawab pertanyaan besar yang mengemuka sejak Terafab diumumkan: bagaimana dua perusahaan tanpa pengalaman fabrikasi chip seperti Tesla dan SpaceX bisa menjalankan fasilitas sekelas ini?
Dalam pernyataan resminya di X, Intel menegaskan: “Kemampuan kami dalam merancang, memfabrikasi, dan mengemas chip berkinerja ultra-tinggi dalam skala besar akan membantu mempercepat ambisi Terafab untuk menghasilkan 1 TW per tahun komputasi guna mendukung kemajuan AI dan robotika.”
Kalimat tersebut mengandung makna yang dalam: Intel menyebut kemampuannya dalam mendesain, memfabrikasi, dan mengemas chip sebagai fondasi keberhasilan Terafab. Itu bukan hubungan sebatas pemasok. Itu adalah Intel yang menjalankan pabriknya sendiri di dalam proyek milik Musk. Menurut laporan Electrek, realitas ini berbeda jauh dari narasi awal Terafab sebagai proyek “vertikal integrasi penuh” yang dikendalikan Tesla.
Intel membawa proses node 18A miliknya yang mutakhir, dilengkapi arsitektur transistor gate-all-around, pengiriman daya dari sisi belakang wafer, dan teknologi stacking 3D canggih melalui EMIB dan Foveros. Teknologi ini dianggap sebagai senjata Intel untuk bersaing dengan TSMC N2 dan Samsung 2nm dalam perebutan pasar fabrikasi chip AI generasi berikutnya.
Lini chip yang sudah direncanakan mencakup AI5 untuk sistem Full Self-Driving Tesla dan penerapan awal Optimus, AI6 untuk produksi robot dalam skala penuh, serta varian D3 yang dikeraskan untuk lingkungan luar angkasa. Prosesor-prosesor ini tidak hanya dirancang untuk mendukung otonomi di darat, tetapi juga infrastruktur AI orbital masa depan dan konsep mass driver lunar. Visi jangka panjang ini menempatkan Terafab bukan sekadar pabrik chip, melainkan bagian dari ambisi Musk membangun peradaban multi-planet.
Tesla dilaporkan menggunakan TSMC untuk produksi AI5, sementara lini 2nm Samsung dikaitkan dengan chip AI6 generasi berikutnya. Laporan sebelumnya menyebutkan AI6 telah mengalami kemunduran sekitar enam bulan akibat masalah yield pada lini 2nm Samsung, mendorong produksi massal ke kuartal keempat 2027 paling cepat. Kondisi ini menunjukkan bahwa ambisi Musk terus berbenturan dengan realita keras industri semikonduktor.
Pabrik semikonduktor konvensional biasanya membutuhkan lima hingga tujuh tahun dari peletakan batu pertama hingga produksi volume. Target waktu Terafab yang menyebutkan produksi kecil chip AI5 pada 2026 dan volume penuh pada 2027 disebut sangat agresif menurut standar industri. Namun, mengingat gaya operasi khas perusahaan-perusahaan yang dipimpin Musk, tidak sedikit analis yang menilai tenggat waktu ini lebih bersifat aspirasional daripada operasional.