JAKARTA, Perspektif.co.id - Koalisi militer pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara ke Provinsi al-Dhale, Yaman, wilayah yang disebut sebagai basis penting kelompok separatis Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC). Serangan terjadi setelah pemimpin STC Aidarous al-Zubaidi tidak menghadiri perundingan yang dijadwalkan digelar di Riyadh, Arab Saudi, di tengah eskalasi perebutan wilayah di selatan Yaman.
Mengutip laporan yang bersumber dari AFP, koalisi Saudi sebelumnya mengajukan ultimatum 48 jam kepada al-Zubaidi untuk datang ke Riyadh guna membahas situasi keamanan, setelah pasukan STC merebut wilayah luas pada bulan lalu sebelum kemudian dipukul mundur. (detiknews) Namun, al-Zubaidi dilaporkan gagal menaiki pesawat menuju Riyadh, sementara koalisi menuding ia mengerahkan “pasukan besar” di lapangan.
Reuters melaporkan, koalisi Saudi menyatakan telah melakukan serangan udara “terbatas” yang bersifat pre-emptive di al-Dhale setelah memantau pergerakan pasukan bersenjata yang meninggalkan kamp-kamp mereka. Sumber lokal dan sumber di internal STC menyebut terdapat lebih dari 15 serangan di provinsi tersebut.
Dari sisi korban, dua sumber rumah sakit yang dikutip AFP menyampaikan sedikitnya empat warga sipil tewas dan enam orang terluka akibat serangan di al-Dhale. (dawn.com) Di sisi lain, pemberitaan media internasional juga menyoroti kekhawatiran meluasnya kekerasan ke Aden—kota pelabuhan selatan yang menjadi pusat pengaruh STC—seiring memanasnya konflik antar faksi anti-Houthi.
Krisis ini juga menyeret dinamika politik di internal pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional. Reuters menyebut Dewan Kepemimpinan Kepresidenan (Presidential Leadership Council/PLC) yang didukung Saudi mencopot al-Zubaidi dari keanggotaan dewan dan merujuknya ke jaksa dengan sangkaan, antara lain, pengkhianatan tingkat tinggi serta menghasut pemberontakan bersenjata dan menyerang otoritas konstitusional. )
Sementara itu, STC menyampaikan bahwa al-Zubaidi tetap berada di Aden untuk mengawasi operasi keamanan dan militer, meski Reuters menyatakan tidak dapat memverifikasi keberadaannya. Pada saat yang sama, muncul ketidakpastian soal jalannya perundingan di Riyadh, termasuk siapa yang akan memimpin delegasi STC dalam forum tersebut. Reuters mencatat, sempat ada pernyataan STC kehilangan kontak dengan delegasinya, sebelum kemudian salah satu pejabat STC mengabarkan telah tiba di Riyadh dan pertemuan akan berjalan.
Perkembangan terbaru ini memperlebar retakan antara dua kekuatan utama Teluk, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), yang selama ini berada dalam satu koalisi melawan kelompok Houthi namun memiliki kepentingan berbeda di selatan Yaman. Reuters menilai eskalasi di selatan memicu “rift” besar Saudi–UEA, menyusul manuver STC yang didukung UEA dan respons militer dari kubu yang berpihak pada pemerintah Yaman dukungan Riyadh. (Reuters) The Guardian bahkan menggambarkan tensi Saudi–UEA terkait masa depan Yaman memasuki titik didih, dengan risiko dampak lebih luas pada arsitektur aliansi kawasan.
Dalam konteks konflik yang telah berjalan panjang, Arab Saudi memandang stabilitas perbatasan dan keutuhan Yaman sebagai faktor strategis, terutama untuk menahan ancaman Houthi di utara. Namun, perebutan pengaruh di selatan—di tengah persaingan kepentingan regional—membuat situasi semakin rapuh. Kekhawatiran paling dekat adalah Aden terseret ke kekerasan terbuka apabila faksi-faksi bersenjata kembali berhadapan, sementara jalur dialog belum menunjukkan kepastian hasil.