01 June 2026, 20:06

Meta Pangkas 8.000 Karyawan Demi AI: Budaya Kerja Disebut Mirip 'Squid Game'

Meta pangkas 8.000 karyawan untuk AI. Mantan insinyur sebut budaya kerja Meta mirip Squid Game yang beracun. Simak dampak restrukturisasi global 2026.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
60
Meta Pangkas 8.000 Karyawan Demi AI: Budaya Kerja Disebut Mirip 'Squid Game'
Meta resmi memangkas 8.000 karyawan untuk mempercepat pengembangan AI. Budaya kerja di perusahaan ini disorot tajam karena disebut mirip 'Squid Game' oleh mantan insinyur. (Foto: Meta)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Meta resmi memulai babak restrukturisasi besar-besaran dengan memangkas sekitar 8.000 karyawan secara global pada Rabu, 20 Mei 2026. Keputusan drastis yang mencakup 10 persen tenaga kerja perusahaan ini dilakukan demi mengalihkan fokus investasi perusahaan secara agresif ke pengembangan teknologi AI. Proses pemberhentian dilakukan secara bergelombang mulai pukul 4 pagi waktu setempat, dimulai dari kantor Singapura dan menyebar ke seluruh wilayah, meninggalkan banyak staf dengan akses internal yang diputus secara mendadak.

Di tengah kekacauan tersebut, muncul kritik tajam dari mantan insinyur Meta, Jeremy Bernier, yang secara terang-terangan menyamakan lingkungan kerja di perusahaan tersebut dengan serial populer "Squid Game". Bernier mengungkapkan bahwa sistem performance review berbasis stack-ranking yang diterapkan Meta menciptakan atmosfer kompetisi yang beracun, di mana setiap karyawan dipaksa untuk mementingkan kelangsungan hidup pribadi di atas kolaborasi tim demi mempertahankan posisi mereka dalam siklus evaluasi enam bulan.

"Meta adalah perusahaan paling beracun tempat saya pernah bekerja. Ada alasan mengapa banyak yang menyebutnya sebagai 'Squid Game', 'Hunger Games', atau 'Lord of the Flies'," ujar Jeremy Bernier melalui unggahannya di platform X.

Ia menambahkan bahwa budaya "bottom-up" yang dibanggakan perusahaan hanyalah sandiwara semata, karena keputusan karir karyawan sangat bergantung pada pengaruh technical leads yang memiliki otoritas besar tanpa akuntabilitas yang jelas. Bernier mengklaim bahwa sistem ini memicu perilaku saling menjatuhkan antar rekan kerja, di mana karyawan harus terus waspada agar tidak tersingkir di tengah upaya perusahaan merampingkan organisasi.

"Satu-satunya misi yang menyatukan perusahaan adalah upaya bertahan hidup secara individu. Selamatkan diri Anda sendiri agar tetap bisa mendapatkan stock vesting, dan jangan ragu untuk mengorbankan orang lain jika diperlukan," tegas Jeremy Bernier melalui akun X pribadinya.

Selain masalah budaya, restrukturisasi ini juga melibatkan pemindahan sekitar 7.000 karyawan ke dalam tim yang difokuskan pada pengembangan infrastruktur AI. Sebagai bagian dari dukungan pasca-pemutusan hubungan kerja (PHK), perusahaan dikabarkan memberikan paket pesangon bagi karyawan terdampak di Amerika Serikat berupa gaji selama empat bulan, kompensasi tambahan berdasarkan masa kerja, serta dukungan layanan kesehatan. Jika dikonversi ke kurs rupiah saat ini (asumsi kurs Rp15.900 per USD), paket dasar gaji tersebut mencakup dukungan finansial yang cukup signifikan bagi transisi karir karyawan yang terkena dampak.

Berita Terkait