16 April 2026, 16:04

Krisis Energi Makin Parah! China Mendesak Iran Segera Buka Selat Hormuz Saat Pasokan BBM Menipis

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali berdampak langsung pada pasokan energi global.

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
47
Krisis Energi Makin Parah! China Mendesak Iran Segera Buka Selat Hormuz Saat Pasokan BBM Menipis
China desak Iran buka Selat Hormuz krisis BBM / Doc ; Istimewa

Perspektif.co.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali berdampak langsung pada pasokan energi global. China secara terbuka mendesak Iran untuk segera membuka kembali jalur vital Selat Hormuz setelah pasokan minyak mentahnya dilaporkan mengalami penurunan signifikan.

Desakan itu disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Rabu (15/4). Komunikasi tersebut menyoroti pentingnya memulihkan kembali aktivitas perdagangan internasional yang selama ini bergantung pada jalur strategis tersebut.

Dalam pernyataan resminya, Wang menegaskan bahwa kepentingan Iran sebagai negara pesisir tetap harus dihormati, namun stabilitas jalur pelayaran internasional juga tidak boleh diabaikan. “Kedaulatan, keamanan, serta hak dan kepentingan sah Iran sebagai negara pesisir Selat Hormuz harus dihormati dan dijunjung tinggi,” ujar Wang.

Ia menambahkan, “(Namun) kebebasan dan keamanan navigasi di selat internasional ini harus dipastikan. Memulihkan lalu lintas normal di selat ini merupakan seruan bersama dari komunitas internasional.”

Percakapan tersebut berlangsung di tengah situasi gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat yang telah berjalan selama dua pekan sejak 8 April. Meski sempat menyepakati pembukaan kembali Selat Hormuz pada awal masa gencatan senjata, Iran kemudian membatalkan keputusan itu.

Langkah tersebut diambil setelah serangan yang masih berlangsung oleh Israel terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon, yang merupakan sekutu Iran. Sejak meningkatnya eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, Iran secara efektif menutup akses Selat Hormuz.

Penutupan jalur ini membawa dampak besar bagi pasar energi global. Selat Hormuz diketahui menjadi jalur distribusi bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, sehingga gangguan di wilayah ini langsung memicu kekhawatiran krisis energi di berbagai negara.

China termasuk negara yang paling terdampak. Data bea cukai menunjukkan bahwa impor minyak mentah negara tersebut pada Maret mengalami penurunan sebesar 2,8 persen. Kondisi ini mencerminkan tekanan terhadap pasokan energi domestik di tengah meningkatnya kebutuhan industri.

Analis dari JLC Network Technology, Han Zhengji, menilai upaya China untuk menutup kekurangan pasokan dengan mengalihkan impor dari kawasan Afrika dan Amerika Selatan belum sepenuhnya mampu mengimbangi dampak gangguan logistik akibat konflik.

“Situasi di Timur Tengah dapat memperketat pasokan minyak mentah China pada bulan April, meskipun dampaknya akan diredam oleh upaya berkelanjutan Beijing untuk mendiversifikasi sumber impornya,” ujar Han.

Selain menyoroti isu energi, Wang Yi juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas kawasan melalui jalur diplomasi. Ia menyatakan bahwa China mendukung upaya mempertahankan gencatan senjata serta mendorong dialog damai sebagai solusi jangka panjang.

Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan kepentingan rakyat Iran serta mencerminkan harapan masyarakat internasional untuk meredakan konflik di kawasan yang selama ini menjadi pusat ketegangan geopolitik dunia.

Berita Terkait