10 November 2025, 14:45

Marsinah Disandingkan dengan Soeharto, Prabowo Anugerahkan 10 Gelar Pahlawan Nasional

Penetapan merupakan kajian Kementerian Sosial dan Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan menyaring 49 usulan menjadi menjadi 10 nama prioritas.

Reporter: Redaksi Perspektif
Editor: Deden M Rojani
2,989
Marsinah Disandingkan dengan Soeharto, Prabowo Anugerahkan 10 Gelar Pahlawan Nasional
Marsinah disandingkan dengan Soeharto menjadi Pahlawan Nasional. / Doc: istimewa

JAKARTA, Perspektif.co.id — Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11). Deretan penerima berasal dari lintas latar—mantan presiden, tokoh pendidikan dan agama, pejuang bersenjata, hingga aktivis buruh—dengan nama Marsinah, Soeharto, dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tampil berdampingan di deretan terdepan foto penghormatan. 

“Jasa para pahlawan harus kita kenang. Mereka telah mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan, kedaulatan, dan kehormatan bangsa,” ujar Presiden saat memimpin hening cipta.

Penganugerahan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/2025. Sepuluh tokoh yang ditetapkan ialah Abdurrahman Wahid, Jenderal Besar HM Soeharto, Marsinah, Mochtar Kusumaatmadja, Rahmah El Yunusiyyah, Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, Sultan Muhammad Salahuddin, Syaikhona Muhammad Khalil, Tuan Rondahaim Saragih, dan Zainal Abidin Syah. Penetapan dilakukan setelah proses kajian Kementerian Sosial dan Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan menyaring 49 usulan dari berbagai daerah menjadi 10 nama prioritas.

Gus Dur dipandang berjasa di bidang perjuangan politik dan pendidikan Islam, dengan rekam jejak membela demokrasi, kemanusiaan, dan pluralisme. Soeharto ditetapkan atas kiprah perjuangannya sejak masa revolusi, antara lain memimpin pelucutan senjata pasukan Jepang di Yogyakarta pada 1945. Adapun Marsinah dinilai sebagai simbol keberanian buruh dan perjuangan hak asasi manusia, mewakili suara rakyat kecil untuk keadilan sosial. 

“Ini bagian dari cara kita menghormati para pendahulu, terutama para pemimpin yang memiliki jasa luar biasa bagi bangsa,” kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi usai rapat terbatas, sehari sebelum penganugerahan.

Nama hukum internasional Mochtar Kusumaatmadja diakui lewat kontribusi konsep negara kepulauan yang menopang Deklarasi Djuanda. Rahmah El Yunusiyyah ditetapkan atas perintisan pendidikan perempuan Islam di Sumatera Barat. Sarwo Edhie Wibowo dikenang melalui perannya dalam TKR pada masa perang kemerdekaan 1945–1949. Sultan Muhammad Salahuddin berkontribusi di pendidikan dan diplomasi, termasuk pendirian sekolah-sekolah awal di NTB pada 1920-an. 

Syaikhona Muhammad Khalil dihormati sebagai ulama karismatik yang membangun tradisi pendidikan keislaman. Tuan Rondahaim Saragih, “Napoleon dari Batak”, memimpin perlawanan bersenjata di Simalungun melawan kolonial, sementara Zainal Abidin Syah, Sultan Tidore ke-37, dikenang atas perjuangan politiknya pascakemerdekaan.

Upacara dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming, jajaran menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan lembaga negara, para gubernur asal penerima, serta keluarga ahli waris. Potret para tokoh diletakkan berderet di aula utama, menandai momentum rekonsiliasi memori bangsa terhadap beragam kontribusi sejarah dari level negara, pesantren, kampus, hingga pabrik. 

“Kita ingin memastikan generasi sekarang mengingat pengorbanan itu sebagai fondasi untuk hidup merdeka dan sejahtera,” tegas Presidenn.

Berita Terkait