08 July 2026, 14:53

RW Bebas TBC Diperkuat, Pemkot Tangsel Ajak Warga Bersama Putus Rantai Penularan

TBC masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian bersama. Penyakit yang menular melalui udara ini dapat menyerang siapa saja.

Reporter: Deden M Rojani
Editor: Zainur Akbar
9
RW Bebas TBC Diperkuat, Pemkot Tangsel Ajak Warga Bersama Putus Rantai Penularan
Pemerintah Kota Tangerang Selatan terus memperkuat upaya percepatan eliminasi tuberkulosis (TBC) melalui program RW Bebas TBC. / Doc: Humas

TANGERANG SELATAN, Perspektif.co.id – Pemerintah Kota Tangerang Selatan terus memperkuat upaya percepatan eliminasi tuberkulosis (TBC) melalui program RW Bebas TBC. Program berbasis kewilayahan tersebut mengedepankan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, hingga warga untuk meningkatkan deteksi dini, mempercepat penanganan pasien, serta memutus rantai penularan penyakit di lingkungan masyarakat.

TBC masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian bersama. Penyakit yang menular melalui udara ini dapat menyerang siapa saja. Namun, dengan pemeriksaan sejak dini, pengobatan yang dijalankan hingga tuntas, serta dukungan lingkungan sekitar, TBC dapat disembuhkan sekaligus dicegah penyebarannya.

Sebagai bentuk komitmen meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Kesehatan terus memperluas berbagai strategi percepatan eliminasi TBC. Salah satunya diwujudkan melalui penguatan program RW Bebas TBC yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam pengendalian penyakit.

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat didorong untuk mengenali gejala TBC sejak awal, mengajak warga yang mengalami batuk berkepanjangan agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, serta memberikan dukungan kepada pasien agar disiplin menjalani pengobatan hingga dinyatakan sembuh. Langkah tersebut diharapkan mampu menekan angka penularan sekaligus menghilangkan stigma terhadap pasien maupun penyintas TBC.

Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menegaskan bahwa keberhasilan eliminasi TBC tidak dapat hanya mengandalkan peran pemerintah maupun tenaga kesehatan, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.

"Eliminasi TBC bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tenaga kesehatan, tetapi merupakan gerakan bersama. Melalui program RW Bebas TBC, kami ingin membangun kepedulian masyarakat agar semakin mengenali gejala TBC, tidak ragu memeriksakan diri, serta mendukung pasien menjalani pengobatan hingga tuntas. Dengan kolaborasi yang kuat, kita dapat mewujudkan lingkungan yang lebih sehat dan mempercepat tercapainya eliminasi TBC di Kota Tangerang Selatan," ujar Benyamin, Rabu (8/7/2026).

Selain memperkuat pelayanan di seluruh fasilitas kesehatan, Pemerintah Kota Tangerang Selatan juga mengintensifkan edukasi kepada masyarakat, memperluas pelacakan kontak erat, meningkatkan kapasitas kader kesehatan, serta memperkuat sinergi dengan pemerintah wilayah hingga tingkat RT dan RW. Pendekatan promotif dan preventif tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan kepatuhan menjalani pengobatan.

Menurut Benyamin, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam menciptakan suasana yang kondusif bagi pasien untuk menyelesaikan pengobatan, sehingga target eliminasi TBC dapat tercapai sesuai yang diharapkan.

"Untuk itu, saya atas nama Pemerintah Kota Tangerang Selatan mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menghapus stigma terhadap TBC. Penyakit ini dapat disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan secara disiplin sesuai anjuran tenaga kesehatan," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, Allin Hendalin Mahdaniar, mengatakan program RW Bebas TBC merupakan strategi untuk memperkuat peran masyarakat dalam menemukan kasus lebih awal sekaligus memastikan setiap pasien mendapatkan pendampingan hingga menyelesaikan pengobatan.

"Melalui RW Bebas TBC kami ingin membangun sistem kewaspadaan di tingkat lingkungan. Semakin cepat kasus ditemukan dan pasien segera menjalani pengobatan, maka peluang memutus rantai penularan akan semakin besar. Karena itu, kolaborasi antara tenaga kesehatan, kader, RT/RW, tokoh masyarakat, hingga keluarga menjadi sangat penting," ujar Allin.

Ia menambahkan, Dinas Kesehatan akan terus memperluas edukasi, meningkatkan kemampuan kader kesehatan, serta memperkuat layanan skrining di seluruh fasilitas kesehatan agar target eliminasi TBC dapat tercapai. Menurutnya, keberhasilan program tersebut tidak hanya diukur dari penurunan angka kasus, tetapi juga meningkatnya kesadaran masyarakat untuk tidak memberikan stigma terhadap penderita TBC dan mendukung mereka hingga sembuh sepenuhnya.

Berita Terkait