JAKARTA, Perspektif.co.id - Fenomena astronomi langka tengah menghiasi langit belahan selatan Bumi. Sebuah komet bernama C/2025 R3 PanSTARRS dilaporkan melintas di sekitar Bumi dan diperkirakan baru akan kembali lagi sekitar 170 ribu tahun mendatang.
Komet tersebut berasal dari wilayah terluar Tata Surya dan kini menjadi perhatian para astronom dunia karena orbitnya yang sangat panjang. Kemunculan objek langit ini disebut menjadi kesempatan langka bagi manusia modern untuk menyaksikannya secara langsung.
Astronom dari Te Whatu Stardome, Josh Aoraki, menjelaskan komet itu sebelumnya terlihat dari belahan Bumi utara sebelum akhirnya berputar mengelilingi Matahari dan mulai tampak dari kawasan selatan.
“Komet bernama C/2025 R3 PanSTARRS ini sebelumnya melintasi belahan Bumi utara, namun kini telah berputar mengelilingi Matahari dan mulai terlihat dari selatan,” ujar Josh Aoraki.
Meski cukup terang, komet tersebut tidak dapat disaksikan langsung dengan mata telanjang. Pengamat membutuhkan alat bantu seperti teleskop, teropong, atau kamera khusus untuk melihat detail penampakannya di langit malam.
“Ini cukup mudah difoto, yang selalu menyenangkan,” kata Aoraki.
Pengamat astronomi di Selandia Baru, Australia, Afrika Selatan, hingga kawasan Pasifik disebut memiliki peluang terbaik untuk menyaksikan fenomena tersebut sebelum cahayanya semakin memudar dalam dua pekan mendatang.
Menurut para astronom, waktu terbaik untuk mengamati komet adalah sekitar satu jam setelah Matahari terbenam dengan arah pandang menuju cakrawala barat yang terbuka dan minim hambatan.
Saat terlihat, komet ini menampilkan warna biru kehijauan dengan ekor kabur yang memanjang di langit malam. Penampilannya disebut menyerupai meteor berbulu kecil yang bergerak perlahan.
“Kamu bisa melihat koma dan ekornya seperti meteor berbulu kecil di langit,” ujar Aoraki.
C/2025 R3 PanSTARRS diketahui berasal dari Awan Oort, yaitu lapisan raksasa yang dipenuhi objek es dan mengelilingi bagian paling jauh Tata Surya.
Komet tersebut baru ditemukan pada 2025 dan termasuk dalam kategori komet berperiode panjang. Dibutuhkan sekitar 170 ribu tahun bagi komet itu untuk menyelesaikan satu kali orbit mengelilingi Matahari.
Namun, para ilmuwan menyebut lintasan komet sangat sulit diprediksi secara pasti. Saat mendekati Matahari, komet akan kehilangan sebagian massa akibat pemanasan, yang dapat memengaruhi arah dan orbitnya.
“Sangat sulit memprediksi lintasannya, karena saat mengelilingi Matahari, komet kehilangan massa, dan itu bisa mengubah jalurnya,” kata Aoraki.
Ia bahkan menyebut ada kemungkinan komet tersebut tidak akan kembali lagi ke Tata Surya jika terdorong keluar akibat perubahan lintasan.
“Jadi mungkin ia kembali dalam waktu tersebut, tapi juga bisa saja terlempar keluar dari tata surya sepenuhnya,” ujarnya.