JAKARTA, Perspektif.co.id - Langit malam pada Mei 2026 menghadirkan fenomena astronomi langka yang jarang terjadi, yakni kemunculan dua kali Bulan Purnama dalam satu bulan kalender. Fenomena ini menjadi perhatian para pengamat langit karena purnama kedua yang muncul pada akhir Mei dikenal sebagai Blue Moon.
Fenomena purnama pertama sebenarnya telah terjadi pada 2 Mei 2026 dan dikenal dengan sebutan Flower Moon. Puncak fase purnama tersebut berlangsung sekitar pukul 00.23 WIB dini hari.
Nama Flower Moon berasal dari tradisi masyarakat asli Amerika yang mengaitkan fase Bulan Purnama di bulan Mei dengan musim mekarnya bunga liar saat musim semi berlangsung. Tradisi penamaan tersebut hingga kini masih populer dalam dunia astronomi modern.
Tak hanya menjadi purnama biasa, Flower Moon tahun ini juga tercatat sebagai micro moon pertama sepanjang 2026. Kondisi itu terjadi karena posisi Bulan berada di titik terjauh dari Bumi dalam lintasan orbitnya.
Pada saat fenomena berlangsung, jarak Bulan diperkirakan mencapai sekitar 402.003 kilometer dari Bumi. Angka tersebut lebih jauh dibandingkan rata-rata jarak Bulan ke Bumi yang biasanya berada di kisaran 384.472 kilometer.
Akibat posisi yang lebih jauh tersebut, ukuran Bulan saat terlihat dari Bumi tampak sedikit lebih kecil dan cahaya yang dipantulkan juga terlihat lebih redup dibandingkan purnama pada umumnya.
Fenomena langka berikutnya akan kembali terjadi pada malam 30 Mei hingga dini hari 31 Mei 2026. Pada periode itu, masyarakat dapat menyaksikan Blue Moon atau purnama kedua dalam satu bulan kalender.
Puncak Blue Moon diperkirakan terjadi pada 31 Mei 2026 sekitar pukul 15.45 WIB. Namun, waktu terbaik untuk menikmati fenomena tersebut dari Indonesia adalah pada malam 30 Mei hingga menjelang dini hari 31 Mei saat Bulan terlihat jelas di langit malam.
Blue Moon kali ini juga disebut sebagai micro moon paling jauh sepanjang tahun 2026. Ukurannya diperkirakan tampak sekitar 7 persen lebih kecil dibandingkan rata-rata Bulan Purnama biasa.
Meski memiliki nama Blue Moon, fenomena tersebut tidak membuat Bulan benar-benar berubah warna menjadi biru. Istilah itu hanya merujuk pada kejadian langka ketika dua kali Bulan Purnama muncul dalam satu bulan kalender yang sama.
Fenomena ini terjadi karena siklus fase Bulan berlangsung sekitar 29,5 hari. Sementara sebagian besar bulan dalam kalender Masehi memiliki jumlah hari lebih panjang, sehingga sesekali memungkinkan muncul dua kali purnama dalam periode satu bulan.
Kemunculan Blue Moon tergolong cukup langka dan biasanya hanya terjadi setiap dua hingga tiga tahun sekali. Fenomena ini juga melahirkan ungkapan populer dalam bahasa Inggris, yakni “once in a blue moon” yang digunakan untuk menggambarkan kejadian yang sangat jarang terjadi.
Sebelumnya, Blue Moon terakhir tercatat muncul pada 19 Agustus 2024. Setelah fenomena Mei 2026, Blue Moon berikutnya diperkirakan baru akan kembali terjadi pada 31 Desember 2028.
Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan fenomena langka ini secara maksimal, pengamat astronomi menyarankan memilih lokasi dengan minim polusi cahaya dan kondisi langit cerah. Pengamatan terbaik dapat dilakukan dengan mengarahkan pandangan ke langit bagian timur setelah Matahari terbenam.