TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Perang chip kecerdasan buatan memasuki babak paling dramatis. Cerebras Systems, startup pembuat chip AI berbasis wafer-scale asal Sunnyvale, California, resmi mengajukan prospektus pembaruan kepada Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat pada 4 Mei 2026, dengan target penggalangan dana hingga 3,5 miliar dolar AS—setara Rp 57,1 triliun—melalui penawaran saham perdana (IPO) di bursa Nasdaq. Langkah ini menjadikan Cerebras sebagai penantang paling serius terhadap dominasi Nvidia dalam infrastruktur komputasi AI, sekaligus menempatkannya sebagai IPO teknologi terbesar sepanjang 2026 sejauh ini, sebagaimana dilaporkan CNBC, Bloomberg, dan TechCrunch.
Dalam prospektus yang diperbarui, Cerebras menawarkan 28 juta saham dengan kisaran harga antara 115 hingga 125 dolar AS per lembar. Pada ujung atas kisaran tersebut, valuasi perusahaan diperkirakan mencapai 26,6 miliar dolar AS. Dengan memperhitungkan opsi overallotment yang dipersiapkan untuk penjamin emisi, total perolehan bisa mencapai hingga 4,03 miliar dolar AS. Saham Cerebras akan diperdagangkan dengan ticker CBRS, dan menurut Bloomberg, IPO dijadwalkan harga akhirnya ditetapkan pada 13 Mei 2026, dengan perdagangan perdana dimulai keesokan harinya.
Sinyal permintaan dari investor institusional sudah membara bahkan sebelum roadshow resmi dimulai. Bloomberg melaporkan bahwa Morgan Stanley selaku lead underwriter meminta investor institusional yang memasukkan order untuk menyertakan jumlah saham dan harga maksimum yang bersedia mereka bayar—langkah yang dikenal sebagai limit order—sebagai indikasi bahwa permintaan terhadap saham Cerebras sudah sangat tinggi. Lebih mencolok lagi, bank-bank penjamin emisi dikabarkan telah menerima indikasi pesanan senilai lebih dari 10 miliar dolar AS untuk saham yang ditawarkan senilai 3,5 miliar dolar AS, menurut Bloomberg.
Kepercayaan investor ini bukan tanpa dasar. Cerebras membangun reputasinya di atas fondasi teknologi chip yang benar-benar berbeda dari semua pemain lain di pasar. Alih-alih memotong wafer silikon menjadi ratusan chip kecil, Cerebras menggunakan seluruh wafer untuk menciptakan Wafer-Scale Engine (WSE)—sebuah semikonduktor raksasa yang 58 kali lebih besar dari chip B200 milik Nvidia, dengan 900.000 inti komputasi. Keunggulan arsitektur ini, menurut klaim perusahaan, memangkas latensi secara drastis karena seluruh pemrosesan berlangsung dalam satu keping chip tanpa perlu komunikasi lintas chip yang memperlambat sistem GPU konvensional.
Secara finansial, Cerebras menunjukkan lompatan signifikan. Pendapatan kuartal keempat perusahaan tumbuh sekitar 76 persen secara tahunan menjadi 510 juta dolar AS, dengan laba bersih 87,9 juta dolar AS untuk periode yang sama. Namun demikian, secara keseluruhan tahun 2025, Cerebras masih mencatat kerugian operasional sebesar 146 juta dolar AS, dengan dua pelanggan terbesar menyumbang 86 persen dari total pendapatan—sebuah risiko konsentrasi pelanggan yang akan diperhatikan ketat oleh investor publik.
Pelanggan terbesar yang dimaksud adalah OpenAI. Dalam kontrak senilai lebih dari 20 miliar dolar AS yang diumumkan Januari 2026, OpenAI berkomitmen menyerap kapasitas komputasi Cerebras sebesar 750 megawatt hingga 2028. OpenAI juga memberikan pinjaman modal kerja sebesar 1 miliar dolar AS kepada Cerebras. Tak hanya itu, Amazon Web Services menandatangani term sheet yang mengikat secara hukum untuk menjadi hyperscaler besar pertama yang mendeploy chip Cerebras di pusat datanya guna mempercepat inferensi AI, termasuk untuk model Llama 4 milik Meta Platforms.
Keterkaitan erat antara Cerebras dan OpenAI bahkan melampaui kontrak bisnis. Di antara daftar investor angel Cerebras tercantum nama-nama petinggi OpenAI, mulai dari CEO Sam Altman, Presiden Greg Brockman, hingga mantan chief scientist Ilya Sutskever, serta Intel CEO Lip-Bu Tan dan sejumlah tokoh teknologi lainnya. Hubungan ini bahkan sempat dijadikan bukti oleh Elon Musk dalam gugatannya terhadap OpenAI. Andrew Feldman, co-founder sekaligus CEO Cerebras, memilih tidak menjual satupun sahamnya dalam IPO ini. Setelah IPO selesai, Feldman akan memegang 10,3 juta saham yang nilainya bisa mencapai 1,28 miliar dolar AS di ujung atas kisaran harga yang ditetapkan.
Perjalanan Cerebras menuju pasar publik tidak mulus. Perusahaan pertama kali mengajukan S-1 ke SEC pada September 2024, namun IPO tersebut terpaksa ditarik karena adanya tinjauan dari Committee on Foreign Investment in the United States (CFIUS) terhadap investasi G42, perusahaan AI berbasis Abu Dhabi, yang merupakan pelanggan utama Cerebras dan sempat mendapat sorotan terkait hubungan bisnisnya di China.
Setelah G42 merestrukturisasi kepemilikannya menjadi saham tanpa hak suara dan memenuhi persyaratan regulator AS, Cerebras kembali mengajukan S-1 pada April 2026 dengan profil keuangan yang jauh lebih kuat. Jika berhasil terlaksana, IPO Cerebras akan menjadi yang terbesar di sektor teknologi sepanjang 2026, sekaligus membuka jalan bagi kemungkinan penawaran saham perdana lebih besar lagi di masa mendatang—termasuk SpaceX dan kemungkinan OpenAI serta Anthropic. Sementara itu, aktivitas IPO di bursa AS secara keseluruhan sudah mencapai 17,6 miliar dolar AS sepanjang tahun ini, hampir dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu, seiring pasar bersiap menghadapi apa yang berpotensi menjadi IPO terbesar sepanjang masa jika SpaceX terealisasi dengan target 75 miliar dolar AS.