07 May 2026, 08:50

ByteDance Resmi Akhiri Era Gratis: Doubao Siap Berbayar Rp163 Ribu–Rp1,2 Juta/Bulan, Tren AI China Berubah Total

ByteDance umumkan Doubao berbayar tiga tier: Rp163 rb–Rp1,2 jt/bulan. Era gratis AI China berakhir, 345 juta pengguna terimbas perubahan besar ini.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
117
ByteDance Resmi Akhiri Era Gratis: Doubao Siap Berbayar Rp163 Ribu–Rp1,2 Juta/Bulan, Tren AI China Berubah Total
Chatbot AI ByteDance dengan 345 juta pengguna aktif bulanan di China, kini bersiap meluncurkan layanan berbayar tiga tier mulai Mei 2026. (Foto: Bytedance/Doubao)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — ByteDance, induk perusahaan TikTok, secara resmi memulai babak baru dalam sejarah industri kecerdasan buatan (AI) Tiongkok setelah chatbot andalannya, Doubao, mengumumkan rencana peluncuran layanan berlangganan berbayar—sebuah langkah yang mengguncang pasar dan langsung menjadi topik terpanas di Sina Weibo pada Senin, 5 Mei 2026, dengan label “eksplosif” yang disematkan jutaan pengguna.

Berdasarkan informasi yang muncul di halaman App Store Doubao yang pertama kali dikonfirmasi oleh media China termasuk The Beijing News dan Shanghai Securities News, ByteDance menyiapkan tiga tingkatan langganan: versi standar seharga 68 yuan (sekitar Rp163.000) per bulan, versi enhanced 200 yuan (sekitar Rp480.000) per bulan, dan versi profesional 500 yuan (sekitar Rp1,2 juta) per bulan—dengan paket tahunan tertinggi mencapai 5.088 yuan (sekitar Rp12,2 juta). Caixin Global melaporkan seluruh paket ini dikenakan melalui sistem berlangganan berkelanjutan.

ByteDance mengonfirmasi rencana tersebut kepada Global Times pada Senin, menegaskan bahwa detail teknis masih dalam tahap pengujian dan informasi lengkap akan dirilis melalui saluran resmi sebelum peluncuran lebih luas. Perusahaan menegaskan versi gratis Doubao tetap tersedia untuk kebutuhan sehari-hari.

“Fitur berbayar ini berfokus pada tugas-tugas kompleks yang membutuhkan daya komputasi tinggi, seperti pembuatan presentasi PPT, analisis data presisi, dan produksi video,” demikian pernyataan resmi ByteDance yang dikutip Seoul Economic Daily. Strategi ini menempatkan Doubao sebagai alat produktivitas profesional yang melampaui fungsi percakapan biasa.

Keputusan bersejarah ini bukan tanpa tekanan. Berdasarkan laporan BigGo Finance dan data internal Volcano Engine—divisi cloud ByteDance—konsumsi token harian Doubao telah menembus 120 triliun token per hari pada 2026, melonjak seribu kali lipat hanya dalam dua tahun sejak aplikasi ini diluncurkan pada Mei 2024. Angka ini menempatkan ByteDance sejajar dengan OpenAI dan Google sebagai salah satu dari sedikit perusahaan di dunia yang melewati ambang “ratusan triliun” token harian.

Dominasi Doubao di pasar AI konsumen China tidak terbantahkan. Menurut laporan QuestMobile AI Insights Maret 2026 yang dikutip Caixin Global, Doubao memimpin pasar AI China dengan 345 juta pengguna aktif bulanan per Maret 2026 , jauh melampaui Qwen milik Alibaba di posisi kedua dengan 166 juta pengguna, DeepSeek dengan 127 juta, dan Yuanbao milik Tencent. TechNode dalam laporannya 6 Mei 2026 menambahkan bahwa fitur berbayar yang disiapkan menargetkan skenario komputasi tinggi seperti pembuatan PowerPoint, analisis data, dan produksi video—area yang identik dengan biaya operasional lebih tinggi dan kebutuhan profesional.

Namun tantangan monetisasi ini bukan hal baru bagi industri AI Tiongkok. Baidu’s Ernie Bot sebelumnya mencoba model berlangganan berbayar namun justru menggratiskan sepenuhnya layanannya pada April 2025 , sementara Zhipu AI dan Moonshot AI juga mencoba berbagai skema serupa tanpa keberhasilan yang bertahan lama. Kini, dengan Doubao memimpin langkah ini, analis melihat pergeseran struktural yang lebih dalam.

“Industri AI China, yang lama dikenal sebagai kuburan langganan berbayar, sedang mengalami pergeseran,” tulis Seoul Economic Daily dalam analisisnya.

Tekanan biaya cloud yang terus meningkat menjadi katalis utama: penyedia cloud besar termasuk Alibaba, Tencent, dan Baidu—yang selama ini memimpin persaingan harga murah—menaikkan harga layanan hingga sekitar 30% mulai bulan lalu.

Liu Dingding, pengamat industri veteran yang dikutip Global Times, menilai eksplorasi layanan berbayar Doubao mencerminkan pencarian model bisnis yang berkelanjutan di sektor AI China. “Tugas-tugas tersebut biasanya mengonsumsi lebih banyak daya komputasi dan waktu penalaran, yang berarti biaya lebih tinggi bagi perusahaan,” kata Liu. Reaksi pengguna di Weibo terbelah: sebagian menganggap harga terlalu tinggi, sebagian berencana beralih ke alternatif gratis, namun tidak sedikit yang menerima langkah ini sebagai sesuatu yang tak terhindarkan.

China Securities Journal menyimpulkan bahwa “praktik industri yang selama ini hanya memangkas harga dan tidak pernah menaikkannya kini mulai runtuh.” Bagi ByteDance, model “alat dasar gratis + skenario profesional berbayar” yang kini diterapkan Doubao bisa menjadi cetak biru yang menentukan apakah era monetisasi AI konsumen benar-benar bisa bertahan di pasar China—atau sekadar percobaan lain yang akan berakhir dengan kembali ke gratis.

Berita Terkait