19 April 2026, 16:43

OpenAI Gelontorkan Rp327 Triliun ke Chip Cerebras, Ancam Dominasi Nvidia dan Siapkan IPO $35 Miliar

OpenAI gelontorkan Rp327 triliun ke Cerebras, dapat saham 10%, sekaligus picu IPO $35 miliar. Dominasi Nvidia terancam serius di 2026.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
6
OpenAI Gelontorkan Rp327 Triliun ke Chip Cerebras, Ancam Dominasi Nvidia dan Siapkan IPO $35 Miliar
Kesepakatan OpenAI dan Cerebras senilai Rp327 triliun untuk chip AI 2026, ancam dominasi Nvidia dan picu IPO Cerebras dengan valuasi Rp573 triliun. (Foto: AI Generated)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — OpenAI menyetujui kesepakatan senilai lebih dari 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp327 triliun kepada startup chip kecerdasan buatan Cerebras Systems selama tiga tahun ke depan, menjadikan perjanjian ini sebagai salah satu transaksi infrastruktur AI terbesar dalam sejarah industri teknologi. Laporan eksklusif The Information yang terbit Kamis (17/4) menyebutkan bahwa kontrak ini mencakup penggunaan server berbasis chip buatan Cerebras untuk mendukung operasional ChatGPT dan model-model AI lainnya milik OpenAI, seiring meningkatnya kebutuhan komputasi yang tidak lagi bisa dipenuhi semata-mata oleh GPU konvensional berbasis Nvidia.

Kesepakatan terbaru ini merupakan kelipatan dua dari perjanjian sebelumnya yang disepakati pada Januari lalu, di mana OpenAI berkomitmen membeli hingga 750 megawatt kapasitas komputasi dari Cerebras dalam kontrak senilai lebih dari 10 miliar dolar AS. Eskalasi nilai kontrak yang berlipat ganda dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan ini mencerminkan betapa cepatnya kebutuhan infrastruktur AI bertumbuh di tahun 2026, saat persaingan antara OpenAI, Google DeepMind, dan Anthropic semakin sengit di setiap lini — dari model bahasa besar hingga kemampuan inferensi real-time.

Struktur keuangan dari perjanjian ini terbilang tidak lazim di industri; OpenAI dilaporkan membukukan pembayaran awal kepada Cerebras senilai sekitar 1 miliar dolar AS sebagai “working capital deposit” yang dicatat sebagai aset di neraca keuangan, bukan sebagai beban pengeluaran biasa, sehingga biaya komputasi yang secara normal akan tercatat sebagai pengeluaran murni berubah menjadi piutang berbunga yang dapat menghasilkan pendapatan bunga. Langkah akuntansi yang tak biasa ini dinilai kalangan analis sebagai cara OpenAI memperindah laporan keuangannya menjelang rencana penawaran saham perdana (IPO) yang terus dipersiapkan oleh perusahaan pimpinan Sam Altman tersebut.

Berdasarkan laporan The Information, OpenAI juga akan menerima waran saham untuk kepemilikan minoritas di Cerebras, dengan potensi porsi kepemilikan yang dapat bertambah seiring meningkatnya total belanja. Jika total pengeluaran OpenAI mencapai 30 miliar dolar AS dalam tiga tahun ke depan, maka warran tersebut bisa dikonversi menjadi saham setara dengan sekitar 10 persen kepemilikan di Cerebras. Ini berarti OpenAI tidak hanya membeli kapasitas komputasi — melainkan juga membangun posisi strategis sebagai pemegang saham di perusahaan chip yang kini menjadi salah satu pesaing paling diperhitungkan bagi Nvidia.

Secara bersamaan, Cerebras merilis dokumen IPO-nya ke publik hari ini, mengungkap bahwa kontrak dengan OpenAI bernilai lebih dari 20 miliar dolar AS dan mencakup opsi tambahan kapasitas hingga 1,25 gigawatt melalui tahun 2030, sekaligus mengonfirmasi bahwa OpenAI telah menerima waran untuk membeli hingga 33,4 juta lembar saham Cerebras yang akan berlaku jika OpenAI memenuhi target pembelian 2 gigawatt kapasitas komputasi pada 2030.

Dalam prospektus IPO yang diajukan, Cerebras berencana meraih dana segar sekitar 3 miliar dolar AS dengan target valuasi minimal 35 miliar dolar AS — angka yang merepresentasikan premium sekitar 60 persen dibanding valuasi terakhirnya di pasar privat sebesar 22 miliar dolar AS pada Februari 2026. SiliconAngle melaporkan bahwa Morgan Stanley akan meningkatkan fasilitas kredit bergulir untuk Cerebras hingga 850 juta dolar AS pasca-IPO, memberikan likuiditas tambahan bagi ekspansi infrastruktur data center yang tengah dipercepat perusahaan tersebut.

Perjalanan Cerebras menuju pasar publik bukan tanpa hambatan. Perusahaan yang berbasis di Sunnyvale, California ini pertama kali mengajukan IPO pada September 2024, namun terpaksa menarik pengajuan tersebut pada Oktober tahun yang sama ketika regulator AS membuka tinjauan keamanan nasional terkait hubungannya dengan perusahaan teknologi berbasis Uni Emirat Arab, G42, yang saat itu menyumbang 87 persen pendapatan Cerebras. Perubahan situasi terjadi setelah CFIUS memberikan izin ketika Cerebras merestrukturisasi kepemilikan G42 menjadi saham non-voting, secara efektif memangkas pengaruh G42 dalam tata kelola perusahaan, sementara kontrak OpenAI memberikan jalur kredibel bagi Cerebras untuk keluar dari ketergantungan pendapatan pada satu klien tunggal.

Polymarket, platform prediksi pasar berbasis blockchain, kini menempatkan Cerebras sebagai perusahaan paling berpeluang kedua untuk melaksanakan IPO di tahun 2026 dengan probabilitas 93 persen, hanya kalah dari SpaceX, sementara OpenAI sendiri baru berada di angka 38 persen menurut kalkulasi para trader di platform tersebut. Sentimen pasar yang luar biasa positif ini muncul tepat setelah detail perjanjian dengan OpenAI terungkap ke publik, sekaligus mengonfirmasi asumsi lama bahwa akses ke klien besar kelas dunia adalah kunci terbuka lebarnya pintu pasar modal bagi perusahaan chip AI.

Dari sisi teknologi, keunggulan Cerebras terletak pada arsitektur wafer-scale chip yang dikembangkan selama lebih dari satu dekade. Sistem chip Cerebras diklaim mampu menjalankan inferensi AI hingga 15 kali lebih cepat dibanding sistem berbasis GPU konvensional untuk tugas-tugas seperti coding agent dan voice chat, menjadikannya solusi latensi rendah yang kompetitif untuk mendukung layanan real-time ChatGPT. Sachin Katti dari tim infrastruktur komputasi OpenAI menyatakan dalam unggahan blog resmi perusahaan bahwa Cerebras menghadirkan solusi inferensi berlatensi rendah yang memperkuat kemampuan OpenAI dalam menjalankan AI real-time berskala besar bagi jutaan pengguna di seluruh dunia.

OpenAI sendiri merencanakan pengeluaran 45 miliar dolar AS untuk komputasi sepanjang tahun ini dan melonjak menjadi 90 miliar dolar AS tahun depan, dengan total belanja komputasi lima tahun yang dilaporkan melampaui angka 650 miliar dolar AS  — sebuah skala investasi yang mendefinisikan ulang makna “infrastruktur AI” dan sekaligus menegaskan bahwa persaingan di industri ini bukan lagi soal siapa yang memiliki algoritma terbaik, melainkan siapa yang mampu mengamankan pasokan daya komputasi dalam jumlah yang hampir tak terbayangkan sebelumnya.

Berita Terkait