24 January 2026, 17:38

Wisata Guci Tegal Diterjang Banjir Bandang Lagi: Pancuran Air Panas Rata Tanah, 3 Jembatan Putus

Kawasan wisata alam Guci di Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, kembali diterjang banjir bandang.

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
1,243
Wisata Guci Tegal Diterjang Banjir Bandang Lagi: Pancuran Air Panas Rata Tanah, 3 Jembatan Putus
Kawasan wisata alam Guci, Kabupaten Tegal, kembali diterjang banjir bandang. Akibatnya, kolam air panas dan 3 jembatan hancur. (Detikcom/Imam Suripto).

TEGAL, Perspektif.co.id - Kawasan wisata alam Guci di Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, kembali diterjang banjir bandang. Dampaknya, fasilitas pemandian air panas rusak berat, sementara tiga jembatan di area wisata dilaporkan putus sehingga akses antartitik wisata terganggu.

Banjir bandang kali ini dipicu peningkatan debit Kali Gung yang terjadi tiba-tiba setelah hujan deras mengguyur wilayah lereng Gunung Slamet selama beberapa hari terakhir. Air bah dari arah hulu meluncur deras membawa material lumpur, pasir, batu, hingga ranting dan kayu, lalu menghantam fasilitas yang berada di sepanjang aliran sungai kawasan wisata. 

Satgas Penanggulangan Bencana BPBD Kabupaten Tegal, M Wisnu Imam, menyebut sejumlah titik pemandian dan jembatan terdampak parah. Ia menegaskan salah satu pancuran utama di lokasi wisata rusak berat. “Pancuran 13 rata dengan tanah,” kata Wisnu Imam saat menjelaskan kondisi terbaru di Guci, Sabtu (24/1). 

Selain Pancuran 13, kerusakan juga menyasar beberapa titik pancuran lain dan jembatan penghubung. Laporan lapangan menyebut tiga jembatan yang putus berada di Jedor, Kaligung (sekitar Pancuran 13), serta jembatan gantung di sekitar Pancuran 5—yang selama ini menjadi jalur penting mobilitas pengunjung dan warga setempat.

Seorang warga Desa Guci, Taufik, menggambarkan banjir datang mendadak pada Jumat (23/1) sekitar pukul 16.30 WIB. Ia mengaku sempat mendengar suara gemuruh dari arah hulu sebelum air berwarna keruh menerjang kawasan wisata. “Tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Air langsung datang besar dan keruh,” ujarnya.

Menurut penuturan warga, puncak banjir terjadi dini hari sekitar pukul 02.00 WIB dengan ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar tujuh meter. Arus yang bercampur lumpur dan pasir membuat jembatan tak mampu menahan hantaman, hingga akhirnya roboh dan terputus. 

Kerusakan tak hanya menghantam infrastruktur penghubung. Sejumlah fasilitas penunjang wisata juga terdampak, mulai dari area pancuran yang tertimbun lumpur, pagar pembatas di sepanjang sungai yang rusak, hingga lapak pedagang yang terseret arus. Bahkan, satu unit alat berat di area Pancuran 13 dilaporkan ikut hanyut atau mengalami kerusakan. 

Di tengah proses penanganan darurat, sebagian pihak kembali menyoroti kondisi lingkungan lereng Gunung Slamet sebagai faktor yang perlu mendapat perhatian serius. Ketua Masyarakat Adat Reksawana Guci, Sobirin, menilai perubahan tutupan lahan memperbesar risiko banjir bandang dan longsor. Ia memperingatkan, “Lereng Gunung Slamet benar-benar jadi bom waktu,” sambil mendorong penanaman tanaman berakar kuat secara berkelanjutan, bukan seremonial. 

Saat ini, aparat setempat bersama relawan masih bersiaga untuk pendataan kerusakan serta memastikan tidak ada warga atau wisatawan yang terjebak akibat putusnya akses jembatan. Sementara itu, kondisi terbaru kawasan wisata Guci dipantau mengingat hujan masih berpotensi turun dan material banjir bisa kembali terbawa arus. 

Berita Terkait