Perspektif.co.id - Bupati Aceh Tamiang Armia Fahmi membeberkan kondisi daerahnya yang disebut masih terpukul akibat banjir bandang dan longsor hebat yang terjadi pada akhir November 2025. Dalam rapat koordinasi pemulihan pascabencana bersama DPR dan kementerian/lembaga di Banda Aceh, Selasa (30/12/2025), Armia menyebut dampak bencana menjalar ke hampir seluruh sendi kehidupan warga, mulai dari pemerintahan hingga roda ekonomi.
Armia melaporkan, seluruh kecamatan di Aceh Tamiang terdampak. Total ada 12 kecamatan dengan 216 desa yang ikut terimbas, dan situasi di lapangan sempat membuat aktivitas pelayanan publik hingga keamanan ikut terganggu.
“Kami laporkan 12 kecamatan dengan 216 desa di wilayah kami semuanya terimbas terkena banjir bandang. Dan semuanya dalam keadaan lumpuh, baik dari pemerintahan, TNI-Polri, dan perekonomian,” kata Armia dalam rapat tersebut.
Ia mengatakan pemulihan berjalan bertahap selama sebulan terakhir dengan dukungan berbagai pihak. Armia menegaskan pihaknya berupaya mengejar target pembersihan pusat kota, karena lumpur menjadi hambatan utama untuk menghidupkan kembali perdagangan dan mobilitas warga.
“Kami sudah menargetkan satu minggu ibu kota kabupaten harus bersih dari lumpur… sudah melihat 80 persen lumpur sudah dapat kami bersihkan… Insyaallah bisa kita selesaikan 2 hari,” ujarnya.
Di sisi lain, Armia menyebut kerja pemulihan belum selesai karena masalah terbesar justru berada di desa-desa. Ia meminta tambahan alat berat dari pemerintah pusat untuk mempercepat pembersihan lumpur yang menutup akses permukiman dan lahan produktif.
“Sekarang ini masalahnya di desa-desa kami perlu alat berat yang banyak karena kita punya 216 desa semuanya ada lumpur,” kata Armia. Ia menambahkan, percepatan pembersihan lumpur dibutuhkan agar masyarakat bisa kembali aman beraktivitas, termasuk untuk ekonomi dan pertanian.
Sejumlah laporan juga menyoroti dampak pada sektor pangan dan pertanian, termasuk sawah yang tertutup lumpur dalam luasan besar. Kondisi ini dinilai ikut menahan pemulihan ekonomi lokal, karena sumber penghidupan warga banyak bergantung pada pertanian dan rantai pasok komoditas. (tvOne News)
Armia turut melaporkan geliat ekonomi mulai didorong lewat pembersihan sentra perdagangan. Pasar dibersihkan agar pedagang tidak lagi berjualan dadakan di pinggir jalan dan aktivitas jual-beli bisa kembali normal tanpa mengganggu lalu lintas. Ia juga menyampaikan listrik dan jaringan telekomunikasi perlahan pulih, yang dinilai penting untuk mempercepat logistik dan distribusi bantuan. (detikcom)
Namun, pemulihan di Aceh Tamiang juga menghadapi persoalan lain: tumpukan kayu gelondongan sisa banjir bandang yang terkumpul di sejumlah titik. Armia meminta pemerintah pusat—khususnya Kementerian Kehutanan—memberikan kejelasan hukum soal pemanfaatan kayu tersebut agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. “Kami nanti mohon fatwa dari Menteri Kehutanan, mau diapakan kayu ini, apakah diserahkan kepada kami untuk kami jadikan papan atau balok atau kusen, sehingga ada fatwa yang kuat atau dasar hukum yang kuat untuk kami melakukan hal tersebut,” ujar Armia. (detiknews)
Ia menekankan permintaan kepastian itu bukan sekadar administratif, melainkan untuk memastikan langkah pemda membantu warga tidak berujung persoalan hukum. “Ini perlu ada penegasan. Jangan sampai kami di kemudian hari kami dipanggil-panggil lagi sama APH,” katanya.
Dalam kesempatan lain pada rangkaian rapat yang sama, Armia juga mengungkap sisi emosional saat meninjau dampak bencana di wilayahnya. Ia mengaku kerap tak kuasa menahan tangis ketika melihat penderitaan warga dan menyatakan akan terus memantau proses pemulihan. “Saya kadang-kadang melihat kondisi pada siang hari dan baru saya menangis… bagaimanapun juga saya adalah bagian dari mereka,” ucap Armia.