Perspektif.co.id - Penyakit ginjal menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di dunia dan terus menunjukkan tren peningkatan, termasuk di Indonesia. Data terbaru mencatat lebih dari 1,5 juta penduduk mengalami gagal ginjal pada 2023, dengan biaya penanganan mencapai Rp2,92 triliun.
Jumlah tersebut mencakup pasien hemodialisa dan kasus gagal ginjal akut pada anak yang juga meningkat.
Para ahli mengingatkan, penyakit ginjal kerap berkembang tanpa gejala jelas hingga mencapai tahap kronis. Karena itu, deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah kerusakan ginjal semakin parah. Berikut sejumlah tanda awal yang sering tidak disadari.
Pertama, kekurangan energi dan sulit berkonsentrasi. Penurunan fungsi ginjal menyebabkan penumpukan limbah dalam darah, memicu rasa lemas berlebihan. Kondisi ini juga bisa berkaitan dengan anemia yang umum terjadi pada pasien ginjal.
Kedua, kulit kering dan gatal. Banyak orang menilai gejala ini sebagai masalah kulit biasa. Padahal, gangguan keseimbangan mineral dan elektrolit akibat fungsi ginjal melemah dapat memicu rasa gatal menetap.
Tanda berikutnya adalah sulit tidur. Ketika ginjal gagal menyaring racun, kualitas tidur biasanya terganggu. Sejumlah studi menunjukkan insomnia dan gangguan tidur lebih sering dialami penderita ginjal kronis.
Selanjutnya, mata bengkak saat bangun tidur. Kondisi ini dapat menjadi sinyal kebocoran protein ke urine (proteinuria) akibat fungsi filtrasi ginjal terganggu. Banyak pasien mengira gejala ini sekadar kelelahan.
Terakhir, pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki. Ginjal yang melemah tidak mampu mengeluarkan natrium secara optimal, sehingga memicu retensi cairan. Edema di ekstremitas bawah sering menjadi tanda awal gagal ginjal, namun juga dapat berhubungan dengan penyakit jantung atau hati.
Masyarakat diimbau segera berkonsultasi ke tenaga medis bila mengalami salah satu gejala tersebut secara berulang. Penanganan dini dapat meningkatkan peluang pemulihan dan mencegah komplikasi lebih lanjut.***