Perspektif.co.id - Biji nangka rebus kerap jadi camilan favorit karena rasanya gurih—sebagian orang menyebut teksturnya mirip kacang—serta cukup mengenyangkan. Di balik itu, sejumlah sumber kesehatan menilai biji nangka juga mengandung nutrisi seperti protein, serat, dan vitamin B (terutama thiamine dan riboflavin), plus mineral penting seperti magnesium dan fosfor. Dalam ulasan Vinmec, satu porsi sekitar 28 gram disebut mengandung 53 kalori, 11 gram karbohidrat, 2 gram protein, dan riboflavin sekitar 8% dari kebutuhan harian.
Namun, camilan ini tidak selalu aman untuk semua orang—terutama bila dikonsumsi berlebihan atau dikonsumsi oleh kelompok tertentu yang sedang menjalani pengobatan. Healthline mengingatkan ada beberapa “possible health concerns” yang patut diperhatikan, mulai dari potensi peningkatan risiko perdarahan hingga gangguan penyerapan nutrisi jika biji nangka dimakan tidak matang.
Berikut lima efek samping yang perlu diwaspadai saat mengonsumsi biji nangka rebus. Pertama, risiko perdarahan pada orang yang mengonsumsi obat tertentu. Healthline menyebut biji nangka “have the ability to decrease blood clotting” sehingga dapat meningkatkan risiko perdarahan bila dikonsumsi bersamaan obat yang juga meningkatkan risiko perdarahan. Dalam artikel yang sama, Healthline bahkan menuliskan peringatan singkat: “If you’re taking medications that may increase the risk of bleeding, you should avoid consuming jackfruit seeds.” (Healthline) Vinmec juga menggarisbawahi poin serupa dan merinci kelompok obat yang perlu ekstra hati-hati seperti aspirin, antikoagulan, antiplatelet, serta NSAID (misalnya ibuprofen atau naproxen).
Kedua, kandungan antinutrien yang bisa mengganggu penyerapan nutrisi bila tidak diolah dengan benar. Healthline menjelaskan biji nangka mentah mengandung tannin dan trypsin inhibitors, yang dapat mengganggu kemampuan tubuh menyerap nutrisi serta pencernaan protein—karena itu biji nangka “should never be consumed raw” dan perlu dipanaskan. (Healthline) Riset yang mempelajari perlakuan panas pada biji nangka juga menunjukkan perebusan dapat menurunkan faktor antinutrisi seperti phytate dan tannin. Dalam studi Nguyen, perebusan pada suhu 100°C dilaporkan menurunkan kadar antinutrien, dan penulis menyimpulkan biji nangka sebaiknya direbus setidaknya 25 menit untuk menekan phytate dan tannin ke tingkat yang lebih aman dikonsumsi.
Ketiga, keluhan pencernaan berupa gas dan kembung, terutama bila porsinya kebablasan atau tubuh sensitif terhadap asupan serat tinggi. Secara umum, konsumsi serat berlebihan dapat memicu perut begah, gas, dan rasa tidak nyaman, apalagi jika peningkatan serat terjadi mendadak. Health.com mencatat gejala yang umum muncul saat serat terlalu tinggi antara lain bloating (kembung), gas, konstipasi, hingga diare, sehingga dianjurkan menaikkan serat secara bertahap dan memastikan asupan cairan cukup.
Keempat, konstipasi atau susah buang air besar. Ini sering terjadi bukan karena seratnya “jelek”, melainkan karena serat tinggi tanpa diimbangi cairan dapat membuat feses lebih keras atau memicu masalah pencernaan pada sebagian orang. Health.com menempatkan konstipasi sebagai salah satu tanda klasik saat asupan serat berlebihan, terutama bila tidak dibarengi hidrasi memadai atau peningkatan serat terlalu cepat. Karena biji nangka termasuk camilan berserat, pola konsumsi dan kecukupan minum menjadi faktor penentu apakah tubuh nyaman atau justru “ngambek”.
Kelima, risiko reaksi alergi pada sebagian orang. Walau tidak terjadi pada semua orang, literatur ilmiah mencatat alergi nangka dapat muncul dan pada kasus tertentu berkaitan dengan pollen-food allergy syndrome (PFAS)/oral allergy syndrome, bahkan pernah dilaporkan anafilaksis pada individu tertentu. Karena respons alergi bisa bervariasi, rujukan dari organisasi anafilaksis menyebut gejala berat dapat melibatkan pembengkakan di saluran napas dan kesulitan bernapas, sehingga bila ada riwayat alergi makanan tertentu, pendekatannya sebaiknya lebih hati-hati.
Dengan profil manfaat dan risikonya, biji nangka rebus tetap bisa dinikmati, tetapi kuncinya ada pada pengolahan dan porsi. Memastikan biji matang sempurna (tidak mentah), membatasi porsi wajar, serta memperhatikan kondisi kesehatan—terutama bila sedang mengonsumsi pengencer darah/obat tertentu atau memiliki riwayat alergi—menjadi langkah sederhana untuk meminimalkan efek samping. Bila Anda sedang dalam pengobatan rutin atau punya kondisi medis khusus, konsultasi ke tenaga kesehatan sebelum menjadikan biji nangka sebagai camilan harian bisa jadi keputusan paling aman.