15 January 2026, 17:03

Susu Formula Diduga Tercemar Cereulide Sulit Dikenali dari Bau-Rasa, Dokter Ingatkan Waspada Gejala Muntah-Diare

Kekhawatiran orang tua terhadap isu dugaan kontaminasi toksin cereulide pada susu formula produk Nestlé kembali menguat

Reporter: Anggi Ranf
Editor: Zainur Akbar
1,501
Susu Formula Diduga Tercemar Cereulide Sulit Dikenali dari Bau-Rasa, Dokter Ingatkan Waspada Gejala Muntah-Diare
Ilustrasi susu formula (Foto: Getty Images/Tamer Soliman)

Perspektif.co.id - Kekhawatiran orang tua terhadap isu dugaan kontaminasi toksin cereulide pada susu formula produk Nestlé kembali menguat seiring adanya penarikan produk di puluhan negara. Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan menemukan dua nomor bets produk susu formula bayi yang terkait penarikan global tersebut tercatat pernah diimpor ke Tanah Air, meski hasil pengujian sampel menyebut toksin cereulide tidak terdeteksi pada batas kuantifikasi tertentu. 

BPOM menyebut produk yang dimaksud adalah S-26 Promil Gold pHPro 1 untuk bayi usia 0–6 bulan, dengan nomor izin edar ML 562209063696 serta nomor bets 51530017C2 dan 51540017A1. “Produk yang terdampak tersebut hanya produk S-26 Promil Gold pHPro 1 (formula bayi untuk usia 0-6 bulan), nomor izin edar ML 562209063696 dengan nomor bets 51530017C2 dan 51540017A1,” demikian pernyataan BPOM. 

Dalam keterangan yang diterima detikcom, BPOM menjelaskan berdasarkan penelusuran data impor, dua bets itu memang masuk Indonesia. Namun uji laboratorium terhadap sampel dari dua bets tersebut menunjukkan cereulide tidak terdeteksi, dengan catatan limit of quantitation/LoQ <0,20 µg/kg

Meski hasil uji menyatakan tidak terdeteksi, BPOM tetap meminta langkah kehati-hatian. Otoritas pengawas itu menyebut PT Nestlé Indonesia diminta menghentikan distribusi dan menghentikan impor untuk produk terkait, serta dilakukan penarikan sukarela terhadap produk dengan bets yang disebut. BPOM juga menyampaikan imbauan kepada masyarakat yang sudah memiliki produk dengan nomor bets tersebut untuk segera menghentikan penggunaan dan melakukan pengembalian atau penukaran melalui jalur yang disediakan perusahaan. 

Di tengah situasi itu, pertanyaan yang paling sering muncul di kalangan orang tua adalah: apakah susu formula yang tercemar cereulide bisa dikenali secara kasatmata? Spesialis penyakit dalam dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH menegaskan hal itu sulit dilakukan hanya dengan mengandalkan indera manusia. Menurutnya, makanan atau minuman yang terkontaminasi toksin tersebut umumnya tidak menunjukkan perubahan mencolok pada bau, rasa, maupun bentuk. 

“Cereulide, yaitu racun yang dihasilkan oleh bakteri Bacillus cereus. Bila terkonsumsi makan akan menimbulkan gejala mual, muntah hingga diare yang bisa membahayakan karena bisa menyebabkan dehidrasi berat pada anak,” kata dr Aru saat dihubungi detikcom, Kamis (15/1/2026). 

Pernyataan itu menegaskan bahwa upaya “mengenali” produk tercemar lewat pengecekan visual atau penciuman bukanlah pegangan yang aman. Dalam konteks isu ini, rujukan yang dianggap paling relevan adalah informasi resmi mengenai nomor bets/lot, penelusuran distribusi, serta hasil uji laboratorium dan langkah mitigasi yang diumumkan otoritas.

Dr Aru juga menekankan pentingnya respons cepat bila bayi atau anak menunjukkan gejala yang mengarah pada gangguan saluran cerna berat. Ia mengatakan orang tua perlu memastikan asupan cairan cukup terlebih dahulu sebelum membawa anak ke tenaga kesehatan, agar risiko dehidrasi dapat ditekan. Setelah itu, pasien perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk penanganan lebih lanjut sesuai kondisi klinis. (detikHealth

“Terpenting adalah jangan sampai terjadi dehidrasi berat,” ucap dr Aru.

Sementara itu, isu penarikan produk secara global menjadi sorotan karena melibatkan banyak negara dan sejumlah merek nutrisi bayi. Dalam laporan Reuters, Nestlé menyebut penarikan dilakukan sebagai langkah kehati-hatian, dan hingga saat itu belum ada penyakit yang dikonfirmasi terkait produk yang ditarik, di tengah proses investigasi dan pengetatan pengawasan mutu. 

Bagi konsumen di Indonesia, BPOM menegaskan fokusnya pada dua bets yang teridentifikasi terkait data impor, lengkap dengan nomor izin edar dan nomor bets. Dengan adanya penjelasan dokter bahwa kontaminasi toksin seperti cereulide tidak bisa diandalkan dari perubahan bau atau rasa, pengecekan nomor bets pada kemasan menjadi langkah yang paling masuk akal untuk memilah produk yang perlu dihentikan penggunaannya sesuai imbauan otoritas. 

Di sisi lain, BPOM juga menyatakan belum ada laporan kejadian sakit yang terkonfirmasi akibat konsumsi susu formula bayi terkait isu tersebut di Indonesia, sembari tetap menerapkan prinsip kehati-hatian melalui penghentian distribusi, penghentian impor, serta penarikan sukarela untuk bets yang disebut. 

Berita Terkait