LUMAJANG, Perspektif.co.id - Kasus kematian tragis seorang petani penolak tambang pasir di Lumajang kembali menjadi sorotan publik setelah kisahnya ramai diperbincangkan di media sosial. Pria bernama Salim disebut tewas setelah mengalami penganiayaan brutal yang diduga berkaitan dengan penolakannya terhadap aktivitas tambang pasir yang dianggap merusak lingkungan dan lahan pertanian warga.
Berdasarkan narasi yang beredar, Salim dikenal sebagai salah satu petani yang vokal menentang aktivitas penambangan pasir di wilayah tempat tinggalnya. Ia disebut berulang kali menyuarakan protes terhadap tambang yang diduga menyebabkan kerusakan jalur irigasi hingga membuat sawah warga terdampak air laut dan tidak lagi bisa ditanami padi.
Selama bertahun-tahun, masyarakat desa di kawasan tersebut menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Namun sejak aktivitas tambang pasir mulai masuk, kondisi lingkungan disebut berubah drastis dan berdampak langsung terhadap sumber penghidupan warga.
“Selama bertahun-tahun warga desa di Lumajang menggantungkan hidup dari sawah. Namun sejak tambang pasir masuk, kehidupan mereka hancur,” demikian narasi yang beredar dalam unggahan tersebut.
Salim dikabarkan berkali-kali melayangkan surat kepada pemerintah untuk meminta tindakan tegas terhadap aktivitas tambang pasir. Namun upaya tersebut disebut tidak membuahkan hasil sehingga ia bersama warga berencana menggelar aksi demonstrasi.
Ketegangan memuncak ketika rumah Salim disebut didatangi puluhan orang sebelum aksi protes dilakukan. Dalam narasi yang beredar, sekitar 40 orang mendatangi kediamannya sebagai bentuk intimidasi terhadap penolakan tambang.
“Setiap hari suara Salim makin lantang saja. Ia pun berencana melakukan demo bersama warga. Namun sebelum aksi dimulai, rumahnya digeruduk 40 pria,” tulis unggahan tersebut.
Peristiwa kekerasan yang menimpa Salim disebut terjadi di depan warga desa. Korban dikabarkan diseret ke jalan, dianiaya, hingga mengalami penyiksaan berat. Saat kejadian, Salim disebut tengah menggendong cucunya.
“Salim yang saat itu sedang menggendong cucunya, tiba-tiba diseret ke jalan, dibacok, dan disiksa oleh puluhan orang,” demikian isi narasi dalam unggahan.
Akibat penganiayaan tersebut, Salim akhirnya meninggal dunia. Kasus ini memicu kemarahan publik dan kembali membuka perdebatan soal konflik agraria, tambang ilegal, hingga perlindungan terhadap warga yang memperjuangkan lingkungan hidup.
Narasi yang beredar juga menyebut aksi brutal tersebut dilakukan sebagai bentuk peringatan kepada warga lain agar tidak menentang aktivitas tambang pasir di kawasan itu.
“Ia meregang nyawa usai dianiaya tanpa henti,” tulis unggahan tersebut.
Dalam unggahan yang sama, disebut pula bahwa dalang pembunuhan Salim diduga melibatkan pihak yang memiliki kedekatan dengan aktivitas tambang. Namun hingga kini belum ada penjelasan resmi terbaru dari aparat penegak hukum terkait perkembangan kasus tersebut.