LEBAK, Perspektif.co.id - Penyajian program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Cigemblong, Kabupaten Lebak, Banten, menuai sorotan setelah beredar video paket makanan yang diduga tidak siap santap karena berisi telur dan jagung yang masih mentah. Dalam video yang beredar pada Sabtu (24/1/2026), tampak ompreng berisi buah lengkeng, susu, dan tahu. Seorang guru kemudian memecahkan telur yang masih mentah dan memperlihatkan potongan jagung yang belum matang.
Dalam rekaman tersebut, sang guru mempertanyakan kelayakan menu MBG serta kesiapan fasilitas sekolah jika siswa diminta mengolah makanan sendiri. “Makanan MBG di SMA 1 Cigemblong kondisi MBG-nya tidak layak. Telurnya masih mentah, jagungnya juga mentah. Masa siswa harus memasak sendiri? Di sekolah dari mana kompor untuk memasak?” ujar guru pria itu.
Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Cigemblong, Pepi Habibi, membenarkan peristiwa itu terjadi pada Jumat (23/1). Ia menyebut terdapat 100 porsi MBG yang berisi telur mentah dari total 227 siswa penerima MBG pada hari tersebut. “Sekitar 100 porsi dari total 227 siswa penerima MBG hari itu bermasalah,” kata Pepi.
Pepi juga menyampaikan, persoalan kualitas menu MBG di sekolahnya disebut bukan kali pertama terjadi. Ia mengungkapkan pada 12 Januari lalu, pihak sekolah menemukan sayuran berbelatung serta buah melon yang dibagikan dalam kondisi berlendir. “Pertama ditemukan belatung pada sayuran, kedua buah melon yang dibagikan sudah berlendir, ketiga telur mentah. Ini berulang,” ungkapnya.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari Yayasan Amanah Permas Agung turut memberi penjelasan. Kepala SPPG, Rasudin, mengakui ada telur mentah yang terdistribusikan kepada siswa SMAN 1 Cigemblong, dengan estimasi sekitar 15 kilogram. “Sekitar 15 kilogram,” ujarnya.
Rasudin menegaskan kejadian tersebut diklaim bukan unsur kesengajaan, melainkan kelalaian petugas dapur dalam proses pengemasan. Ia menyebut posisi telur mentah dan telur matang berdekatan sehingga tercampur. “Ini bukan unsur kesengajaan, melainkan kelalaian dalam proses kerja,” jelasnya.
Ia menyatakan pihaknya akan memperketat pengawasan serta meningkatkan kedisiplinan petugas, terutama terkait kebersihan dan keamanan pangan agar kejadian serupa tidak kembali terulang. “Setiap tahapan harus dicek berulang kali. Kalau semua dijalankan sesuai prosedur, kejadian seperti ini bisa dihindari,” kata Rasudin.