26 June 2026, 05:17

Leica SL3-P Resmi Diluncurkan: Kamera Full-Frame 44MP dengan Video 8K dan Logo Merah Ikonik Dihapus

Leica SL3-P resmi meluncur 25 Juni 2026 dengan sensor 44MP BSI, video 8K Open Gate, ProRes 5,8K, AF hibrida 819 titik, harga Rp 108,7 juta.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
74
Leica SL3-P Resmi Diluncurkan: Kamera Full-Frame 44MP dengan Video 8K dan Logo Merah Ikonik Dihapus
Leica SL3-P dengan lensa APO-Macro-Elmarit-SL 1:2.8/100 — kamera mirrorless full-frame 44MP paling komprehensif dalam sejarah SL-System, diluncurkan 25 Juni 2026. (Foto: Leica Camera AG)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Leica Camera AG secara resmi memperkenalkan Leica SL3-P pada 25 Juni 2026, menjadikannya kamera full-frame paling komprehensif yang pernah diproduksi pabrikan asal Jerman itu sepanjang sejarahnya. Sebagaimana dilaporkan oleh PRNewswire dan dikonfirmasi melalui situs resmi Leica, kamera mirrorless berbasis L-Mount ini diposisikan di antara SL3 berkekuatan 60MP dan SL3-S berkapasitas 24MP, mengisi celah strategis dalam ekosistem SL-System yang telah dibangun sejak 2015. Tersedia secara global mulai hari yang sama di Leica Stores, Leica Online Store, dan dealer resmi, SL3-P hadir dengan banderol harga USD 6.690 atau setara Rp 108,7 juta, sementara versi Eropa dipatok €5.990.

Leica juga menawarkan tiga paket kit peluncuran: SL3-P 28–70 Vario Kit seharga USD 7.790 (sekitar Rp 126,6 juta), SL3-P 24–70 Vario Kit seharga USD 8.390 (sekitar Rp 136,3 juta), dan SL3-P 24–70 & 70–200 Vario Kit seharga USD 10.995 (sekitar Rp 178,6 juta), menawarkan penghematan hingga USD 2.450 dibandingkan pembelian satuan.

Jantung dari SL3-P adalah sensor BSI full-frame 44 megapiksel baru yang menghadirkan keseimbangan ideal antara resolusi tinggi dan kualitas gambar luar biasa, dengan dynamic range hingga 14 aperture stop yang mampu merekam gradasi tonal paling halus sekalipun. Mode Multishot menghasilkan gambar beresolusi sangat tinggi hingga 176 megapiksel, sementara rentang ISO 50 hingga 200.000 memberikan fleksibilitas di berbagai kondisi cahaya.

Sistem autofocus hibrida baru pada SL3-P menggabungkan tiga teknologi fokus sekaligus — phase detection (PDAF), depth mapping, dan contrast detection — untuk menghasilkan pemfokusan yang cepat, presisi, dan andal. Dengan continuous shooting hingga 40 frame per detik disertai dukungan autofocus penuh, pelacakan subjek yang ditingkatkan dengan 819 titik AF, dan pengenalan subjek berbasis machine learning, SL3-P diklaim mampu menangani subjek paling dinamis sekalipun.

Di sisi video, CineD melaporkan bahwa SL3-P hadir sebagai kamera paling berkapasitas video dalam sejarah lini SL, mengusung sensor BSI full-frame 44MP baru dengan sistem autofocus hibrida, perekaman internal hingga 8K Open Gate dalam format 3:2, dukungan Apple ProRes hingga 5,8K, dukungan anamorphic, false color, dan dua LUT sinema baru dalam ruang warna L-Log, semuanya terbungkus dalam bodi minimalis buatan Jerman berproteksi cuaca IP54 tanpa logo merah Leica.

Kapabilitas video meliputi 8,1K Open Gate dalam format 3:2 hingga 24p, HDMI RAW 8K Open Gate, perekaman 8K pada 30p, smooth motion 5,9K hingga 60fps, serta slow-motion 4K pada 120p. Integrasi codec Apple ProRes hingga 5,8K, dikombinasikan dengan dua LUT baru — Leica Pure dan Leica Cine — untuk ruang warna L-Log, membuka kebebasan maksimal dalam pasca-produksi profesional.

Untuk keperluan monitoring di lapangan, Leica menyertakan false color, dukungan anamorphic de-squeeze, kontrol yang dapat dikustomisasi, serta in-body image stabilization (IBIS) yang kini menjadi andalan lini SL. Kombinasi false color, anamorphic monitoring, IBIS yang kuat, dan tombol yang dapat diprogram ulang ini secara spesifik ditujukan bagi kru kecil dan operator solo yang membutuhkan perangkat produksi tanpa harus membawa bodi kamera sinema khusus.

Electronic viewfinder SL3-P menampilkan layar OLED berresolusi 5,76 juta piksel yang beroperasi pada 60 atau 120fps, dengan pembesaran 0,76x dalam format 3:2 dan cakupan field of view 100 persen, memberikan representasi gambar yang autentik bahkan saat kamera dipanning dengan cepat atau merekam subjek bergerak.

TechRadar dalam ulasan awalnya menyebut bahwa IBIS lima sumbu yang diklaim mampu memberikan kompensasi hingga 5 stop bekerja secara diam dan efektif, sementara daya tahan baterai menjadi salah satu keunggulan nyata dengan klaim 383 bidikan per siklus standar CIPA.

Desain SL3-P menjadi pernyataan estetis yang disengaja. Seluruh strategi desain kamera ini menekankan efisiensi, konektivitas, dan ketahanan lintas foto dan video, dengan antarmuka pengguna yang didesain ulang serta dukungan tethering profesional untuk keperluan studio dan komersial. Kamera ini diproduksi dan dirancang di Jerman dengan sasis full-metal yang direkayasa untuk tuntutan penggunaan profesional, berproteksi cuaca IP54, dan mengusung desain serba hitam khas P-Series yang menghilangkan logo titik merah tradisional demi penggunaan lebih discreet dalam fotografi dokumenter dan jurnalistik.

Konektivitas profesional turut hadir melalui dukungan tethering langsung ke Lightroom Classic dan Capture One, serta Camera-to-Cloud via Adobe Frame.io yang memungkinkan foto dan video dikirim langsung dari kamera ke cloud untuk kebutuhan pasca-produksi secara instan.  Leica juga menyematkan teknologi Content Credentials sesuai standar Content Authenticity Initiative (CAI) untuk melindungi hak kekayaan intelektual para kreator.

Bersamaan dengan peluncuran SL3-P, Leica memperkenalkan dua lensa baru. Summilux-SL 50 f/1.4 ASPH. diklaim sebagai lensa autofocus paling kompak di dunia pada panjang fokus dan apertur ini, dengan dimensi 74mm diameter dan 75,5mm panjang, bobot 584 gram, 11 bilah apertur, dua elemen asferis, filter thread E67, jarak fokus minimum 50cm, sealing IP54, dan lapisan AquaDura.  Lensa ini dibanderol €4.500 (sekitar Rp 81,5 juta) dan tersedia akhir 2026.

Lensa kedua, APO-Macro-Elmarit-SL 100 f/2.8, menghidupkan kembali nama lensa legendaris Leica tahun 1987. Lensa ini menawarkan koreksi apokromatik, jarak fokus minimum 30cm, dan rasio reproduksi maksimum 1:1, sekaligus berfungsi sebagai telefoto pendek untuk fotografi potret, dengan bobot 862 gram termasuk hood yang disertakan.  Harganya €2.450 (sekitar Rp 44,3 juta), juga tersedia akhir 2026.

Tom’s Guide yang telah menguji SL3-P selama 10 hari menyimpulkan, “Untuk pertama kalinya sebuah kamera Leica menghadirkan video 8K/30fps Open Gate, dan di samping itu pengguna mendapatkan hingga 5 stop IBIS serta performa dynamic range yang kuat. Jika mampu membelinya, SL3-P adalah salah satu kamera mirrorless terbaik yang bisa dibeli saat ini.”

TechRadar menilai, “Leica SL3-P adalah kamera yang dibuat dengan sangat baik dan dipikirkan dengan indah, memberikan kepuasan bagi fotografer yang mengutamakan keahlian dan kualitas gambar di atas kecepatan dan fleksibilitas. Desain minimalisnya terasa seperti pernyataan nyata, bukan sekadar afektasi, dan sensor BSI 44,7MP menghasilkan gambar yang luar biasa.”

B&H Explora mencatat bahwa SL3-P menandai kembalinya Leica ke pasar setelah merayakan ulang tahun ke-100 pada 2025, sebagai kamera baru pertama mereka di 2026, sekaligus membawa performa video sekelas sinema untuk melengkapi rekam jejak fotografinya dan menciptakan sistem komprehensif yang dirancang bagi kreator hybrid modern.

Berita Terkait