05 May 2026, 09:57

OpenAI Siap Bikin Ponsel Tanpa Aplikasi, AI Agent Gantikan Semua—Produksi Massal 2028

OpenAI garap ponsel AI agent tanpa aplikasi bersama Qualcomm & MediaTek, produksi massal 2028. Ancaman serius bagi Apple dan Google.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
66
OpenAI Siap Bikin Ponsel Tanpa Aplikasi, AI Agent Gantikan Semua—Produksi Massal 2028
Konsep ponsel OpenAI yang menampilkan antarmuka AI agent berbasis tugas—menggantikan grid aplikasi konvensional. Produksi massal ditargetkan pada 2028. (Foto: Ilustrasi)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — OpenAI tengah mengembangkan smartphone revolusioner yang dirancang bukan sekadar untuk menjalankan aplikasi, melainkan untuk menghapus konsep aplikasi itu sendiri. Analis industri terkemuka Ming-Chi Kuo dari TF International Securities mengungkapkan dalam sebuah catatan riset bahwa perusahaan AI asal San Francisco tersebut sedang mengerjakan ponsel pintar bersama tiga mitra strategis: MediaTek dan Qualcomm sebagai pengembang prosesor, serta Luxshare sebagai mitra eksklusif untuk ko-desain sistem sekaligus manufaktur perangkat. Laporan yang dirilis Kuo melalui akun X resminya pada 27 April 2026 ini langsung mengguncang pasar saham global dan memicu spekulasi besar soal masa depan industri ponsel pintar.

Kuo menegaskan bahwa hanya dengan mengendalikan penuh sistem operasi sekaligus perangkat keras, OpenAI baru bisa menghadirkan layanan AI agent yang benar-benar komprehensif—inilah alasan kuat mengapa CEO Sam Altman diduga mengambil keputusan bergerak ke arah ini. Filosofi di balik ponsel ini sepenuhnya berbeda dari paradigma smartphone yang sudah berjalan lebih dari satu dekade sejak era iPhone dan Android pertama kali lahir. Alih-alih membuka aplikasi satu per satu untuk menyelesaikan tugas, pengguna cukup menyampaikan apa yang ingin mereka capai, lalu AI agent-lah yang akan menangani seluruh prosesnya secara otomatis di balik layar—dari memesan restoran, mengirim pesan ke teman, hingga mengatur transportasi, semuanya dikoordinasikan oleh satu antarmuka tunggal berbasis kecerdasan buatan.

Kuo turut membagikan gambar konsep antarmuka ponsel OpenAI tersebut. Berbeda dari layar beranda Android maupun iPhone yang dipenuhi ikon aplikasi berbentuk grid, tampilan ponsel OpenAI berfokus pada tugas—menampilkan daftar pekerjaan yang sedang berlangsung beserta persentase progresnya, mulai dari pemesanan tiket pesawat, briefing kondisi pasar, pengingat membalas email penting, hingga pembayaran premi asuransi. Layar terbagi menjadi empat seksi utama: Home, Actions, Memory, dan Inbox.

“Hanya dengan menguasai penuh sistem operasi dan perangkat keras, OpenAI baru bisa menghadirkan layanan AI agent secara menyeluruh,” tulis Ming-Chi Kuo dalam unggahannya di X, sebagaimana dikutip Decrypt pada 27 April 2026.

Dari sisi arsitektur pemrosesan, perangkat ini dirancang untuk menangani tugas-tugas ringan secara langsung di dalam perangkat—termasuk kesadaran konteks, manajemen memori, dan eksekusi model AI berukuran kecil—sementara tugas komputasi yang lebih berat akan dialihkan ke infrastruktur cloud. Hal ini dilakukan guna menjaga keseimbangan antara performa tinggi dan efisiensi daya baterai. Qualcomm CEO Cristiano Amon pun telah berulang kali menyuarakan visi serupa sepanjang 2026, bahwa AI agent pada akhirnya akan menggantikan sistem operasi mobile dan aplikasi sebagai lapisan interaksi utama manusia dengan perangkat genggamnya.

Proyeksi Kuo menunjukkan angka yang ambisius: jika berhasil, ponsel ini berpotensi mencapai pengiriman tahunan 300 hingga 400 juta unit—angka yang melampaui volume iPhone Apple saat ini dan menempatkan perangkat tersebut dalam persaingan langsung dengan dua raksasa yang kini menguasai sekitar 40 persen pasar smartphone global. Sebagai gambaran skala ambisi tersebut, spesifikasi perangkat dan daftar pemasok komponen diperkirakan baru akan difinalisasi pada akhir 2026 atau kuartal pertama 2027, dengan produksi massal dijadwalkan dimulai pada 2028.

Pasar bereaksi cepat dan dramatis begitu laporan Kuo tersebar. Saham Qualcomm melonjak hingga 12 persen dalam sesi perdagangan intraday hanya berdasarkan catatan analis tersebut, hampir menghapus seluruh kerugian yang dialami sepanjang 2026, meski kenaikan itu sedikit mereda di jam-jam berikutnya. Di sisi lain, saham Apple tercatat turun 1,9 persen seiring meningkatnya kekhawatiran investor atas ancaman persaingan baru yang datang langsung dari pemain AI paling berpengaruh di dunia saat ini.

Perlu dicatat bahwa proyek ponsel ini terpisah dari jalur hardware OpenAI yang sudah lebih dulu diumumkan—yakni perangkat hasil kolaborasi dengan mantan kepala desain Apple, Jony Ive, yang dikembangkan oleh startup io senilai akuisisi 6,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp104,6 triliun (kurs Rp16.350). Perangkat pertama dari kolaborasi Ive tersebut digambarkan sebagai form factor non-ponsel—semacam perangkat wearable yang mengandalkan input audio dan video dari lingkungan sekitar—dan dijadwalkan hadir pada paruh kedua 2026.

Chief Global Affairs Officer OpenAI, Chris Lehane, sebelumnya menyatakan bahwa perusahaan tengah on track untuk mengumumkan produk hardware pertamanya pada paruh kedua 2026, yang saat itu masih banyak dispekulasikan sebagai earbuds berdesain unik. OpenAI sendiri tidak memberikan komentar atas laporan terbaru Kuo hingga artikel ini ditulis. Namun dengan munculnya laporan rantai pasokan yang sangat spesifik ini—menyebut nama Qualcomm, MediaTek, dan Luxshare secara bersamaan—sinyal bahwa OpenAI sedang membangun ekosistem hardware ambisius jangka panjang kian sulit untuk diabaikan oleh industri teknologi global.

Dari perspektif bisnis, Kuo menganalisis bahwa OpenAI berencana menggabungkan langganan dengan hardware dan membangun ekosistem pengembang baru berbasis AI agent—sebuah model yang berpotensi mendisrupsi total cara perangkat lunak didistribusikan dan dimonetisasi di platform mobile selama ini. Jika visi ini terwujud, ponsel OpenAI tidak sekadar menjadi gadget baru di pasaran, melainkan deklarasi perang terbuka terhadap hegemoni Apple dan Google yang telah mendominasi ekosistem aplikasi mobile selama hampir dua dekade.

Berita Terkait