JAKARTA, Perspektif.co.id - Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.400 per dolar Amerika Serikat, memicu respons cepat dari Bank Indonesia yang menegaskan komitmennya menjaga stabilitas mata uang nasional di tengah gejolak global yang belum mereda.
Pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.410 per dolar AS pada perdagangan Selasa (5/5) pagi menandai salah satu titik terendah dalam beberapa waktu terakhir. Posisi tersebut tercatat melemah sekitar 17 poin atau 0,10 persen dibandingkan penutupan sebelumnya, memperpanjang tren tekanan yang terjadi sejak meningkatnya ketidakpastian global.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G Hutapea, menyatakan bahwa pergerakan rupiah tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan pelemahan mata uang negara berkembang lainnya akibat dampak konflik geopolitik global. “Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Menurut data yang disampaikan BI, pelemahan mata uang emerging market terjadi secara luas. Peso Filipina tercatat melemah 6,58 persen, baht Thailand 5,04 persen, rupee India 4,32 persen, peso Chile 4,24 persen, sementara rupiah turun 3,65 persen dan won Korea Selatan melemah 2,29 persen. Kondisi ini mencerminkan tekanan eksternal yang merata, terutama sejak memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Bank sentral menilai faktor global masih menjadi pemicu utama tekanan terhadap rupiah, terutama meningkatnya ketidakpastian akibat eskalasi geopolitik serta penguatan dolar AS. Dalam merespons kondisi tersebut, BI menegaskan akan terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi berlapis di pasar keuangan.
Erwin menjelaskan bahwa intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah ini dilakukan secara konsisten guna menjaga keseimbangan pasar dan meredam volatilitas nilai tukar.
“Bank Indonesia terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” lanjutnya.
Di sisi lain, sejumlah analis melihat tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Analis mata uang menilai penguatan dolar AS menjadi faktor dominan yang menekan mata uang Asia, termasuk rupiah. Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya tensi geopolitik global yang memicu arus modal keluar dari negara berkembang.
Pelaku pasar saat ini juga disebut masih menunggu rilis data ekonomi domestik, termasuk produk domestik bruto (PDB) kuartal I, yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan rupiah ke depan. Meski demikian, pelemahan diperkirakan tidak akan terlalu dalam karena adanya intervensi aktif dari bank sentral.