05 May 2026, 10:06

Krisis RAM Global Tunda MacBook Pro OLED dan Mac Studio, Apple Bayar Samsung Dua Kali Lipat Harga Chip

Apple tunda MacBook Pro OLED dan Mac Studio akibat krisis RAM global. Bayar Samsung 2x lipat harga chip DRAM. Harga mulai turun Q3 2026?

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
77
Krisis RAM Global Tunda MacBook Pro OLED dan Mac Studio, Apple Bayar Samsung Dua Kali Lipat Harga Chip
Chip DRAM retak akibat krisis RAM global 2026 memaksa Apple menunda MacBook Pro OLED dan Mac Studio. Apple bayar Samsung dua kali lipat harga chip demi amankan pasokan. (Foto: Ilustrasi)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Krisis memori global yang dipicu oleh ekspansi besar-besaran pusat data kecerdasan buatan masih terus memukul industri perangkat keras konsumen, dan kini Apple menjadi salah satu korban paling terdampak. Bloomberg, melalui kolumnis teknologi senior Mark Gurman, melaporkan bahwa Apple tengah menghadapi hambatan produksi serius akibat kelangkaan memori berskala industri, dan peluncuran MacBook Pro terbaru mengalami penundaan ringan yang berpotensi menggeser jadwalnya ke awal tahun depan. Dua produk unggulan Apple — MacBook Pro berdesain ulang dengan layar OLED dan Mac Studio generasi terbaru — terpaksa tertunda dari rencana semula karena chip DRAM dan NAND flash yang menjadi komponen kunci produksi tidak tersedia dalam jumlah memadai.

Dalam laporan terbarunya kepada Bloomberg, Gurman menyebutkan bahwa para sumber internal Apple mengonfirmasi penundaan ini sebagai skenario yang “sangat mungkin terjadi,” mencakup Mac Studio yang semula dijadwalkan rilis sekitar pertengahan tahun, namun kini realistisnya baru tersedia pada Oktober 2026. Sementara itu, MacBook Pro dengan touchscreen berbasis panel OLED tandem yang membawa desain punch-hole menggantikan notch, bersama upgrade ke chip Apple M6 Pro dan M6 Max, kini diperkirakan baru memasuki pasar pada awal 2027 — mundur dari estimasi sebelumnya yang menarget akhir 2026. Ini menjadi penundaan desain ulang MacBook Pro paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir, mengingat model ini disebut-sebut sebagai iterasi paling ambisius sejak kehadiran chip M1 pada 2021.

Penyebab utama tekanan ini adalah ledakan permintaan server AI di seluruh dunia. Apple bahkan dilaporkan telah membuat kesepakatan berbiaya tinggi, termasuk membayar Samsung dua kali lipat dari harga sebelumnya untuk chip DRAM guna mengamankan pasokan bagi lini produknya. Langkah agresif tersebut dilakukan karena Samsung, SK Hynix, dan Micron — tiga produsen yang menguasai sekitar 95 persen produksi DRAM global — telah mengalihkan sebagian besar kapasitas pabrik mereka ke produksi High Bandwidth Memory (HBM) bermargine tinggi untuk infrastruktur GPU AI, yang secara struktural mengurangi pasokan chip DRAM konvensional bagi pasar konsumen dan perangkat komputasi umum.

Menurut analis senior Gartner, Kanishka Chauhan, permintaan memori sangat kuat, didorong oleh investasi AI yang terus berlanjut. HBM yang digunakan dalam aplikasi AI menuntut harga yang jauh lebih tinggi dibanding memori konvensional, sehingga para produsen mengalokasikan kapasitas produksi yang lebih besar ke HBM.  Dampak dari realokasi kapasitas ini terasa langsung di rantai pasokan Apple — inventori DRAM global saat ini hanya tersisa sekitar dua hingga empat minggu, jauh di bawah ambang sehat, sehingga hampir tidak ada buffer apabila permintaan tiba-tiba melonjak.

Apple bahkan sudah menarik opsi konfigurasi 512 GB RAM untuk Mac Studio dari toko daringnya pada Maret 2026, sementara estimasi pengiriman berbagai konfigurasi Mac mini dan Mac Studio dengan RAM tinggi di toko AS kini bisa mencapai empat hingga lima bulan. Kondisi ini mencerminkan betapa seriusnya tekanan yang dialami bahkan oleh perusahaan dengan manajemen rantai pasokan sekaliber Apple. Opsi upgrade RAM 256 GB untuk Mac Studio, yang sebelumnya dibanderol Rp 40,9 juta (sekitar $2.500) dari $1.600 untuk upgrade 96 GB ke 256 GB, kini naik menjadi $2.000 atau sekitar Rp 32,8 juta, dengan daftar tunggu hingga bulan Mei mendatang.

Lembaga riset Gartner memproyeksikan lonjakan harga gabungan DRAM dan SSD sebesar 130 persen pada akhir 2026, yang akan mendorong harga PC naik 17 persen dan harga smartphone naik 13 persen dibanding level 2025. Gartner bahkan memperkirakan pengiriman PC global akan menurun 10,4 persen dan pengiriman smartphone akan terkoreksi 8,4 persen sepanjang tahun ini. Kondisi ini mendorong para analis menggunakan istilah baru “memflation” untuk menggambarkan inflasi komponen memori yang sistemik dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala ini.

Meski demikian, ada secercah sinyal yang sedikit melegakan. Gartner memproyeksikan bahwa harga DRAM jenis low-power, termasuk LP4X yang digunakan pada banyak perangkat mobile dan laptop, diperkirakan akan mengalami penurunan sekitar 13 persen pada kuartal ketiga 2026 seiring dengan normalisasi bertahap di segmen tersebut.  Skenario terbaik menurut para analis adalah penurunan harga mulai Q3 2026 yang berlanjut hingga normalisasi di Q4 2026, meskipun skenario ini hanya memiliki probabilitas sekitar 20 persen. Skenario paling realistis dengan probabilitas 60 persen menempatkan normalisasi harga baru terjadi antara Q1 hingga Q2 2027.

Sekalipun MacBook Pro M6 akhirnya diluncurkan, Apple kemungkinan tidak akan sepenuhnya menghentikan penjualan lini M5 yang ada saat ini, karena desain ulang dengan touchscreen, panel OLED, dan sasis baru akan menambah signifikan biaya komponen, mendorong model baru tersebut ke titik harga yang jauh lebih tinggi. Strategi dua-level ini, menurut Wccftech, merupakan langkah taktis Apple untuk meratakan permintaan di tengah keterbatasan pasokan yang masih berlangsung, sekaligus menjaga aksesibilitas produk bagi segmen pengguna yang lebih luas.

CEO Apple Tim Cook sendiri telah menyatakan secara terbuka bahwa kelangkaan perangkat keras juga berdampak pada prosesor, dan ia menyebut ini sebagai kekhawatiran utama perusahaan saat ini. Pernyataan tersebut mengonfirmasi bahwa krisis komponen yang awalnya tampak sebagai masalah memori semata kini telah berkembang menjadi gangguan rantai pasokan yang lebih luas, mempengaruhi jadwal produksi di hampir seluruh segmen lini Mac premium Apple.

Berita Terkait