07 January 2026, 16:39

Kades Panggalih Garut Viral Usai Keluarganya Intimidasi Warga, Wahyu Mengaku Tak Paham Pengeluaran Desa

Sosok Kepala Desa (Kades) Panggalih, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, bernama Wahyu

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
2,113
Kades Panggalih Garut Viral Usai Keluarganya Intimidasi Warga, Wahyu Mengaku Tak Paham Pengeluaran Desa
INTIMIDASI WARGA - Kepala Desa Panggalih, Kecamatan Cisewu, Garut, bernama Wahyu (kanan) berkunjung ke Lembur Pakuan setelah video keluarganya mengintimidasi warga.

Garut, Perspektif.co.id - Sosok Kepala Desa (Kades) Panggalih, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, bernama Wahyu, menjadi sorotan setelah video yang memperlihatkan dugaan intimidasi keluarga kades terhadap seorang warga bernama Holis Muhlisin (31) ramai beredar di media sosial. Insiden itu mencuat usai Holis aktif mengunggah progres sekaligus kritik pembangunan infrastruktur desa, terutama soal kondisi jalan, melalui akun Facebook pribadinya.

Dalam materi video yang viral, Holis disebut mendapat kata-kata kasar hingga perlakuan fisik seperti penarikan pakaian oleh pihak keluarga kades karena tidak terima dengan kritik terkait pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut. Setelah kasus ini meluas, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memanggil pihak-pihak terkait untuk bertemu di kediamannya di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang.

Sejumlah laporan menyebut Dedi lebih dulu berkomunikasi dengan Holis dan juga melakukan sambungan komunikasi dengan Kades Wahyu melalui panggilan video. Setelah itu, Wahyu datang ke Lembur Pakuan bersama perangkat desa, termasuk sekretaris desa (sekdes), serta anggota keluarga. 

Dalam pertemuan tersebut, Dedi menanyakan langsung duduk perkara yang memicu ketegangan. Salah satu anggota keluarga Wahyu, yang disebut terekam dalam video, menyampaikan bahwa kemarahan mereka bukan semata dipicu kritik jalan rusak, melainkan karena adanya tudingan korupsi terhadap Wahyu. “Sanes tina kritik jalan rusak (bukan karena kritik jalan rusak), tapi tudingan bapak korupsi,” ujar menantu Wahyu saat menjawab pertanyaan Dedi, sebagaimana dikutip dari laporan yang merujuk tayangan pertemuan itu.

Dedi kemudian menanyakan langsung kepada Wahyu terkait tudingan tersebut. Wahyu menyampaikan bantahan dan menegaskan klaimnya tidak melakukan korupsi. “Abdi mah teu korupsi. Abdi mah sebagai kepala desa bertanggung jawab penuh ka lembur kelahiran abdi,” kata Wahyu. Dedi menyatakan tetap akan mendorong audit anggaran dana desa untuk memastikan transparansi sekaligus menjawab polemik yang terlanjur berkembang di publik.

Dalam versi kronologi yang kamu sertakan, Wahyu juga menyampaikan permintaan maaf kepada warga terkait tindakan keluarganya. “Sekarang, kepada warga-warga khususnya Desa Panggalih, dari keluarga saya juga meminta maaf yang sebesar-besarnya,” ucap Wahyu. Ia juga menjelaskan bahwa Holis tidak melaporkan dirinya maupun keluarganya ke polisi, meski sempat ada panggilan kepolisian setempat untuk mediasi.

Di hadapan Dedi, Wahyu turut disorot soal pengelolaan dan transparansi pengeluaran desa. Dedi menilai ada kemungkinan kepala desa tidak memahami detail pengeluaran, dan kondisi itu kerap terjadi di sejumlah wilayah. Wahyu mengiyakan ketika ditanya soal pengeluaran desa dan menjawab singkat, “Tidak tahu,” sambil mengangguk, berdasarkan kutipan yang kamu lampirkan.

Kasus ini berawal dari aktivitas Holis yang sehari-hari berjualan telur keliling. Ia mengaku rutin mengantar dagangan menggunakan sepeda motor dan harus melintasi jalan rusak di desanya. Dalam sehari, Holis menyebut bisa menjual sekitar 50 kilogram telur dengan keuntungan kisaran Rp100 ribu per hari. Ia juga mengungkap pernah mengalami insiden jatuh hingga telur yang dibawa pecah. “Pernah jatuh dan telur yang dibawa pecah jadi rugi,” kata Holis, sebagaimana dikutip dari laporan yang juga merujuk tayangan kanal Dedi Mulyadi. 

Holis menegaskan unggahannya ditujukan untuk mendorong perbaikan dan keterbukaan, bukan menyerang pribadi. “Pengen ada keterbukaan… saya mengkritik demi kemajuan Desa Panggalih,” ujarnya. (Radar Bogor) Dalam materi yang kamu sertakan, Holis juga menyebut dukungan dari berbagai pihak membuat keluarganya lebih tenang setelah kasus ini viral. Ia berharap sorotan publik dapat berdampak pada perubahan nyata, termasuk perbaikan jalan desa dan jalan kabupaten di wilayah selatan Garut, serta ingin kembali beraktivitas normal tanpa tekanan.

Di sisi pemerintah daerah, Wakil Bupati Garut Putri Karlina disebut menginstruksikan Inspektorat Kabupaten Garut untuk melakukan audit pengelolaan Dana Desa di Panggalih sebagai langkah memastikan transparansi dan memberi informasi objektif kepada publik. (Mevin.ID) Putri juga mengingatkan bahwa kritik merupakan konsekuensi yang melekat pada jabatan publik dan tidak semestinya direspons dengan emosi. \

Dalam materi yang kamu lampirkan, Wahyu juga menyatakan percaya diri akan kembali maju pada pilkades berikutnya setelah masa jabatannya berakhir. “Semoga menang lagi, biar saja kalau desa ribut juga,” kata Wahyu. Dedi menimpali agar Wahyu tidak arogan dan siap menerima kritik sebagai bagian dari kepemimpinan.

Berita Terkait