Perspektif.co.id - Kebiasaan jarang mengganti celana dalam dan membiarkannya lembap seharian kerap dianggap persoalan sepele. Namun dari sisi kesehatan, kebiasaan ini bisa menjadi “pintu kecil” yang memperbesar risiko infeksi saluran kemih (ISK), terutama pada perempuan. ISK sendiri terjadi ketika bakteri masuk ke saluran kemih lalu berkembang biak, dengan bagian yang paling sering terdampak adalah kandung kemih (sistitis). Bakteri yang paling umum menjadi pemicunya adalah Escherichia coli (E. coli), yang sebenarnya hidup normal di saluran pencernaan manusia.
Catatannya, celana dalam yang kotor bukan berarti otomatis “menciptakan” bakteri penyebab ISK. Namun kebiasaan jarang mengganti celana dalam bisa menciptakan lingkungan yang hangat dan lembap di area genital—kondisi yang disukai bakteri untuk bertahan dan berkembang. Kelembapan dapat muncul akibat keringat, aktivitas fisik, atau penggunaan pakaian yang terlalu ketat. Dalam situasi ini, bakteri dari area sekitar anus menjadi lebih mudah berpindah ke uretra (saluran kencing). Jika bakteri mencapai uretra dan berkembang biak, risiko ISK pun meningkat, terutama bila kebersihan dasar tidak terjaga.
Kerentanan perempuan terhadap ISK juga bukan sekadar soal kebiasaan, tetapi dipengaruhi faktor anatomi. Perempuan lebih sering mengalami ISK karena uretranya lebih pendek dan letaknya lebih dekat dengan anus—area yang menjadi sumber bakteri seperti E. coli. Kondisi ini membuat perpindahan bakteri ke saluran kemih relatif lebih mudah terjadi dibanding laki-laki.
Lantas, seberapa sering idealnya mengganti celana dalam? Sejumlah rujukan kesehatan menyarankan standar minimal mengganti celana dalam setidaknya sekali sehari untuk menjaga area tetap kering dan bersih. Dalam konteks kesehatan vulva dan vagina, bahan serta kebiasaan perawatan pakaian dalam ikut menentukan kenyamanan dan risiko iritasi maupun infeksi. Cleveland Clinic, misalnya, menekankan pilihan bahan dan kebiasaan sederhana seperti “pilih 100% katun” dan “ganti celana dalam setiap hari” untuk mendukung kesehatan area intim.
Bagi orang dengan aktivitas tinggi, sering berkeringat, atau rutin berolahraga, mengganti celana dalam dua kali sehari kerap dianggap lebih ideal—terutama setelah tubuh banyak berkeringat. Celana dalam yang lembap setelah olahraga sebaiknya segera diganti, bukan dibiarkan “mengering sendiri” di tubuh, karena kelembapan yang menetap dapat menahan panas dan menjadi tempat mikroorganisme berkembang. Pada titik ini, isu “jarang ganti” bukan semata soal kebersihan visual, tetapi soal mengurangi waktu paparan lembap di area genital.
Selain frekuensi, bahan celana dalam juga berpengaruh. Katun umumnya lebih disarankan karena menyerap keringat dan membantu sirkulasi udara, sehingga area tetap lebih kering. Sebaliknya, bahan sintetis cenderung menahan panas dan kelembapan, sehingga berpotensi meningkatkan rasa tidak nyaman, iritasi, hingga memperbesar risiko gangguan tertentu pada sebagian orang yang sensitif. Karena itu, celana dalam yang “lebih adem” dan tidak terlalu ketat sering diposisikan sebagai pilihan yang lebih aman untuk pemakaian harian.
Meski begitu, penting ditegaskan: tidak semua orang yang jarang mengganti celana dalam otomatis akan terkena ISK. Namun, risiko dapat meningkat ketika kebiasaan itu bertemu faktor lain—misalnya kebersihan setelah dari toilet yang kurang tepat, kebiasaan menahan buang air kecil, kurang minum, atau aktivitas seksual yang memudahkan bakteri “terdorong” masuk ke uretra. Karena itulah pencegahan ISK sering ditekankan sebagai gabungan kebiasaan kecil yang konsisten, bukan hanya satu faktor tunggal.
Sejumlah langkah pencegahan sederhana yang sering direkomendasikan untuk menekan risiko ISK antara lain mengelap dari depan ke belakang setelah buang air untuk mengurangi perpindahan bakteri dari anus ke uretra; memperbanyak cairan agar membantu “membilas” saluran kemih; buang air kecil setelah aktivitas seksual; memilih mandi pancuran ketimbang berendam terlalu lama; serta menghindari produk kewanitaan yang keras atau beraroma kuat seperti semprotan, bedak, maupun praktik douching yang dapat memicu iritasi pada sebagian orang. Rekomendasi pencegahan semacam ini juga tercantum dalam panduan edukasi kesehatan publik.