26 February 2026, 17:25

Waspada Kurma “Palsu” Beredar Jelang Ramadan! Ini Tanda-tandanya Biar Tidak Salah Beli

Permintaan kurma biasanya melonjak tajam saat memasuki bulan Ramadan

Reporter: Anggi Ranf
Editor: Zainur Akbar
465
Waspada Kurma “Palsu” Beredar Jelang Ramadan! Ini Tanda-tandanya Biar Tidak Salah Beli
Ilustrasi. Harus tahu cara membedakan kurma asli dan palsu. (iStockphoto/Galiyah Assan)

Perspektif.co.id - Permintaan kurma biasanya melonjak tajam saat memasuki bulan Ramadan. Buah yang identik dengan sahur dan berbuka puasa itu hampir selalu hadir di meja makan keluarga, baik sebagai camilan pembuka, campuran hidangan, maupun konsumsi harian untuk menambah energi. Namun di tengah meningkatnya peredaran kurma di pasar tradisional hingga ritel modern, konsumen diingatkan agar tidak mudah terkecoh oleh produk yang tampilannya menarik tetapi diduga sudah diberi tambahan gula atau sirup glukosa.

Kurma dikenal sebagai sumber energi cepat karena kandungan kalorinya didominasi karbohidrat, dengan sedikit protein. Selain itu, kurma juga mengandung mineral dan vitamin yang kerap dibutuhkan tubuh, mulai dari kalium, magnesium, zat besi, vitamin B6, hingga antioksidan. Karena alasan gizi dan tradisi konsumsi itulah, kurma menjadi salah satu komoditas pangan musiman yang permintaannya ikut terdongkrak setiap Ramadan.

Masalahnya, tidak semua kurma yang beredar benar-benar alami. Sebagian produk dapat diproses dengan penambahan pemanis untuk meningkatkan rasa, menambah daya tarik tampilan, atau memperpanjang kesan “lebih segar” di mata konsumen. Praktik penambahan gula atau sirup glukosa berpotensi membuat kurma terasa terlalu manis, lebih lengket, dan tampak lebih mengilap dibanding karakter kurma yang wajar. Di sinilah konsumen perlu lebih teliti, terutama ketika membeli kurma kiloan atau kurma kemasan yang tidak mencantumkan informasi komposisi secara jelas.

Salah satu cara termudah membedakan kurma alami dan kurma yang diduga sudah “dipermanis” adalah dengan mencermati karakter rasa. Kurma yang baik umumnya punya manis yang lembut dan terasa merata sampai ke bagian dalam daging buah. Sebaliknya, kurma yang diberi tambahan pemanis kerap menampilkan manis yang “meledak” di permukaan, bahkan pada beberapa orang bisa memicu sensasi ngilu di gigi. Indikasi lain yang kerap muncul adalah perbedaan rasa: bagian luar terasa jauh lebih manis dibanding bagian dalam, seolah ada lapisan gula yang menempel di kulit dan permukaan daging buah. Dalam panduan memilih kurma, salah satu patokan yang sering digunakan adalah prinsip sederhana: kurma berkualitas biasanya tidak membutuhkan tambahan gula karena rasa manis alaminya sudah kuat. “Kurma asli memiliki rasa manis yang alami dan lembut,” menjadi salah satu kalimat kunci yang kerap diulang dalam edukasi konsumen.

Selain rasa, tekstur juga dapat menjadi pembeda penting. Kurma yang alami umumnya kenyal, lembut, tetapi tetap padat saat ditekan. Buahnya tidak terasa terlalu basah dan tidak meninggalkan lengket berlebihan di tangan. Sementara itu, kurma yang diduga diberi sirup gula cenderung lebih lengket, tampak mengilap “berlebihan”, dan kadang terasa terlalu lunak. Kondisi ini bisa terjadi karena proses pemanasan atau perendaman yang membuat cairan gula menyerap, lalu memengaruhi struktur daging buah. Sejumlah rujukan konsumen juga menyebut, kurma berkualitas punya kekenyalan yang pas—tidak lembek—dan tidak membuat tangan seperti dilapisi gula.

Petunjuk berikutnya bisa dilihat dari warna dan tampilan. Kurma yang baik biasanya berwarna cokelat tua yang relatif merata dan terlihat alami. Permukaannya boleh saja berkerut, tetapi tidak tampak retak berlebihan dan tidak terlihat seperti “berminyak”. Jika kurma tampak terlalu basah, terlalu licin, atau seperti dilapisi cairan, konsumen patut curiga adanya penambahan pemanis atau perlakuan tertentu untuk memoles penampilan. Aroma juga perlu diperhatikan. Kurma segar dan alami umumnya punya wangi manis yang wajar, tidak menusuk. Apabila tercium bau aneh atau aroma yang terlalu tajam dan tidak lazim, konsumen sebaiknya mempertimbangkan untuk tidak membeli.

Uji sederhana lain yang kerap dipakai adalah dengan menekan kurma atau membiarkannya terbuka beberapa saat. Saat ditekan perlahan, kurma asli cenderung tetap lentur dan tidak kaku. Sebaliknya, kurma yang telah diproses dengan tambahan gula dapat terasa lebih keras di bagian luar namun tetap lengket di permukaannya—seolah ada lapisan yang mengering di kulitnya. Beberapa orang juga menggunakan “tes semut” sebagai indikator praktis. Kurma dengan kandungan gula tinggi di bagian luar lebih mudah dikerubuti semut jika dibiarkan terbuka, karena gula di permukaan lebih dominan dan cepat menarik serangga.

Dari sisi belanja, konsumen juga dianjurkan memperhatikan kemasan dan asal produk, terutama bila membeli kurma dalam bentuk kemasan ritel. Label komposisi menjadi titik krusial. Kurma yang benar-benar alami idealnya hanya mencantumkan satu bahan, yaitu kurma, tanpa tambahan pemanis lain. “Kurma asli seharusnya hanya mencantumkan satu bahan, yaitu kurma,” menjadi pedoman yang banyak dipakai saat memeriksa label. Kemasan yang baik biasanya rapi, tersegel, dan—bila memungkinkan—transparan agar kondisi buah bisa terlihat. Konsumen juga disarankan menghindari kemasan yang berisi cairan berlebih, karena kondisi itu dapat mengindikasikan adanya sirup atau perlakuan tertentu yang membuat kurma tampak lebih menarik.

Peningkatan konsumsi kurma selama Ramadan membuat edukasi konsumen menjadi penting, bukan hanya demi rasa, tetapi juga untuk menjaga manfaat gizi yang seharusnya diperoleh dari buah tersebut. Dengan mencermati rasa, tekstur, warna, aroma, uji sederhana, serta informasi komposisi dan kondisi kemasan, masyarakat bisa lebih percaya diri memilih kurma berkualitas. Di tengah pasar yang makin ramai dan pilihan yang makin beragam, ketelitian menjadi kunci agar konsumen tidak “tertipu manis”, sekaligus tetap mendapatkan kurma yang sesuai kebutuhan kesehatan dan daya beli selama Ramadan.

Berita Terkait