14 January 2026, 15:06

Bidet Praktis, Tapi Kalau Disemprot Kencang Bisa Bikin Risiko Infeksi Vagina Naik, Ini Peringatan Dokter

Kebiasaan membersihkan area kewanitaan memakai bidet sudah jamak di Indonesia karena dianggap praktis dan lebih bersih setiap kali buang air.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
2,207
Bidet Praktis, Tapi Kalau Disemprot Kencang Bisa Bikin Risiko Infeksi Vagina Naik, Ini Peringatan Dokter
Ilustrasi. Semprotan bidet yang terlalu kencang bisa berbahaya untuk kesehatan vagina. (iStock/eldemir)

JAKARTA, Perspektif.co.id - Kebiasaan membersihkan area kewanitaan memakai bidet sudah jamak di Indonesia karena dianggap praktis dan lebih bersih setiap kali buang air. Namun, dokter mengingatkan cara pakainya tidak boleh sembarangan, terutama bila semprotan air diarahkan langsung ke area vagina dengan tekanan terlalu kuat. Kebiasaan itu dinilai dapat mengganggu “ekosistem” alami organ intim dan justru meningkatkan risiko infeksi.

Dokter Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital MT Haryono, Agus Rizal, menyebut tekanan air bidet yang terlalu kuat bisa mengubah keseimbangan bakteri baik yang secara alami menjaga kesehatan vagina. “Tekanan air yang kuat bisa mengganggu keseimbangan bakteri alami di vagina. Akibatnya, risiko infeksi justru meningkat,” kata Agus dalam temu media yang digelar Eka Hospital BSD di Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Secara biologis, vagina memang punya sistem pertahanan alami. Mikroba “baik” yang didominasi bakteri dari genus Lactobacillus berperan menciptakan lingkungan asam yang membantu menekan pertumbuhan mikroba oportunistik dan patogen. Kondisi ini berkaitan dengan kestabilan pH dan kesehatan jaringan mukosa. Ketika keseimbangan tersebut terganggu, risiko masalah seperti vaginosis bakterialis (BV) dan infeksi jamur dapat meningkat. Praktik pembersihan intravagina seperti douching sudah lama diperingatkan oleh otoritas kesehatan karena dapat mengacaukan keseimbangan bakteri normal di vagina dan terkait peningkatan risiko BV. 

Dalam konteks penggunaan bidet, Agus menjelaskan semprotan bertekanan tinggi dikhawatirkan ikut “menyapu” bakteri baik di area vagina serta mengiritasi jaringan yang sensitif. Kondisi tersebut bisa membuat area intim lebih rentan terhadap keluhan yang mengganggu, mulai dari rasa perih, gatal, hingga infeksi. Prinsipnya, semakin agresif pembersihan dilakukan pada area yang memiliki flora normal, semakin besar peluang keseimbangan itu terganggu—serupa dengan alasan mengapa douching tidak dianjurkan dalam banyak panduan kesehatan perempuan. 

Risiko lain yang disorot adalah kemungkinan bakteri dari area luar terdorong masuk ke uretra atau saluran kemih, terutama bila arah semprotan tidak tepat. Infeksi saluran kemih (ISK) memang lebih sering dialami perempuan karena uretra lebih pendek, sehingga bakteri lebih mudah mencapai kandung kemih. Meski penelitian mengenai hubungan bidet dan infeksi urogenital masih bervariasi, sejumlah kajian menilai praktik kebersihan setelah buang air—termasuk arah pembersihan—berkaitan dengan risiko infeksi saluran kemih. Agus menegaskan, “Semprotan bidet yang keras juga berisiko menimbulkan iritasi dan peradangan. Jaringan vagina yang sensitif bisa mengalami luka-luka mikro, memicu rasa perih, tidak nyaman, hingga peradangan berkepanjangan,” ujarnya.

Dalam situasi yang lebih berat, Agus mengingatkan infeksi yang tidak tertangani dapat menjalar ke organ reproduksi bagian atas seperti rahim dan tuba falopi. Kondisi ini dikenal sebagai radang panggul atau pelvic inflammatory disease (PID), yang tergolong serius dan bisa memengaruhi kesehatan reproduksi. Sejumlah rujukan klinis juga mengaitkan praktik pembersihan intravagina (douching) dengan peningkatan risiko PID pada sebagian perempuan, sehingga praktik “menyemprot ke dalam” perlu dihindari. 

Agar tetap aman, Agus menyarankan penggunaan bidet dilakukan lembut dan fokus pada area luar (vulva), bukan menyemprotkan air ke dalam lubang vagina. Tekanan air sebaiknya diatur serendah mungkin, cukup untuk membilas, bukan “menghantam” jaringan sensitif. “Arah semprotan juga penting. Selalu semprot dari depan ke belakang untuk mencegah bakteri dari anus masuk ke vagina atau uretra,” kata Agus.

Ia juga mengingatkan perempuan menghindari kebiasaan douching—membilas bagian dalam vagina—karena vagina pada dasarnya mampu membersihkan diri. Sejumlah panduan kesehatan perempuan menekankan kebersihan cukup dilakukan pada bagian luar dengan air hangat, tanpa praktik pembersihan intravagina yang berisiko mengganggu flora normal.  Setelah membersihkan, area intim dianjurkan dikeringkan dengan cara menepuk perlahan menggunakan handuk bersih atau tisu agar tidak lembap berkepanjangan.

Pada akhirnya, bidet bukan “musuh”, tetapi cara pakainya yang menentukan. Praktik yang terlalu agresif, tekanan terlalu tinggi, dan arah semprotan yang keliru bisa mengubah tujuan dari menjaga kebersihan menjadi membuka peluang iritasi serta infeksi. Jika muncul keluhan seperti nyeri, gatal hebat, keputihan berbau menyengat, atau keluhan berulang pada saluran kemih, pemeriksaan ke tenaga kesehatan tetap menjadi langkah yang paling aman.

Berita Terkait