TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Elon Musk memicu gelombang diskusi global setelah memposting pernyataan provokatif di platform X miliknya pada 15 Maret 2026, menegaskan bahwa kecerdasan buatan pada akhirnya akan membuat seluruh pekerjaan manusia bersifat pilihan, bukan keharusan. Pernyataan itu muncul sebagai respons langsung terhadap analisis viral milik Andrej Karpathy, mantan direktur AI di Tesla sekaligus salah satu pendiri OpenAI, yang merilis peta risiko otomatisasi untuk 342 profesi di Amerika Serikat berdasarkan data resmi Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS).
Analisis tersebut, yang dipublikasikan di karpathy.ai/jobs, memberikan skor paparan AI dari 0 hingga 10 untuk setiap pekerjaan, menggambarkan betapa dalamnya penetrasi teknologi ke pasar kerja modern. Musk, yang memimpin Tesla, SpaceX, dan xAI, dengan cepat menangkap momentum dari analisis itu dan menggunakannya sebagai landasan untuk visinya tentang tatanan ekonomi pasca-AI. Langkah tersebut seketika menjadi tajuk utama media teknologi global, dari Fortune, Bloomberg Technology, hingga Wired.
“All jobs will be optional.” Kutipan singkat namun berdampak besar itu ditulis Musk di X pada 15 Maret 2026, merespons analisis Karpathy yang dalam hitungan jam langsung viral di seluruh platform media sosial termasuk Reddit dan Weibo.
Musk menambahkan bahwa masa depan yang dikendalikan AI akan melahirkan sebuah konsep yang ia sebut sebagai universal high income, sebuah gagasan di mana kelimpahan produksi berbasis teknologi otomatis akan mendistribusikan kemakmuran kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa syarat. Pernyataan itu sontak memperkuat posisi Musk sebagai salah satu suara paling berpengaruh sekaligus kontroversial dalam perdebatan tentang masa depan ketenagakerjaan global. Menurut laporan Stocktwits dan Fortune, sentimen publik terhadap komentar tersebut terpolarisasi tajam, dengan sebagian merayakannya sebagai visi utopis sementara yang lain menyebutnya sebagai utopia yang tidak berdasar.
Empat hari sebelumnya, tepatnya pada 11 Maret 2026, Musk telah meletakkan fondasi argumen tersebut di hadapan audiens lebih luas dalam percakapan terbuka bersama Peter Diamandis di konferensi teknologi bertajuk Abundance Summit. Di forum tersebut, dilaporkan oleh 36Kr dan IT Home, Musk memproyeksikan bahwa skala ekonomi global berpotensi membengkak hingga sepuluh kali lipat dalam satu dekade ke depan, didorong oleh lonjakan produktivitas yang dipicu AI dan robotika.
Ia menyebut bahwa output barang dan jasa akan tumbuh jauh melampaui pertumbuhan jumlah uang yang beredar, menciptakan tekanan deflasi struktural yang akan mengubah fundamentalisme ekonomi yang selama ini dikenal dunia. Proyeksi tersebut, menurut Musk, memiliki probabilitas keberhasilan sekitar 80 persen, dengan syarat tidak ada guncangan geopolitik ekstrem seperti perang dunia ketiga yang memutus rantai kemajuan teknologi saat ini. Pernyataan senada sebelumnya juga disampaikan Musk di World Economic Forum di Davos pada Januari 2026, sebagaimana dikutip Forum Ekonomi Dunia (WEF).
“Kami pada dasarnya hanya akan mengeluarkan uang kepada orang-orang. Output barang dan jasa sejauh ini akan melebihi pasokan uang yang secara efektif Anda mengalami deflasi.” Musk menguraikan logika ekonominya secara lebih teknis di Abundance Summit, sebagaimana dikutip Bitget News dan Futunn: deflasi, menurutnya, adalah konsekuensi alami ketika laju pertumbuhan produksi melampaui pertumbuhan pasokan uang.
Dalam skenario terbaik yang ia bayangkan, uang pada akhirnya akan kehilangan relevansinya sama sekali karena kecerdasan buatan generasi masa depan tidak akan lagi menggunakan mata uang manusia, melainkan hanya peduli pada energi dan massa dalam satuan watt dan ton. Konsep Universal High Income (UHI) yang diusung Musk ini secara konseptual berbeda dari Universal Basic Income (UBI) yang lebih umum dikenal, karena UHI bukan sekadar jaring pengaman kemiskinan melainkan refleksi dari kelimpahan total yang dihasilkan otomatisasi masif. Situs analisis Tax Project Institute mencatat bahwa Musk pertama kali memperkenalkan terminologi UHI pada akhir 2023, dengan catatan reflektif bahwa bahkan jika kebutuhan material terpenuhi, pertanyaan lebih dalam tentang bagaimana manusia menemukan makna di dunia tanpa pekerjaan wajib tetap terbuka lebar.
Analisis Karpathy yang memicu respons Musk tersebut menunjukkan data yang tidak sedikit mengejutkan kalangan profesional kerah putih di seluruh dunia. Berdasarkan laporan Awesome Agents dan Glen Rhodes yang mengutip langsung data karpathy.ai/jobs, sebanyak 42 persen dari 342 pekerjaan yang dianalisis mendapat skor paparan AI di atas 7, mewakili sekitar 59,9 juta pekerja di AS dengan total massa upah sebesar 3,7 triliun dolar AS atau setara sekitar Rp60.600 triliun.
Pekerjaan yang sepenuhnya berbasis layar komputer seperti transkripsionis medis mendapat skor sempurna 10, sementara pengembang perangkat lunak dan analis data mendapat skor 8 hingga 9, mengindikasikan kerentanan tinggi terhadap otomatisasi AI. Sebaliknya, pekerjaan fisik seperti tukang ledeng, pekerja konstruksi, dan perawat rumah tangga hanya mendapat skor 0 hingga 1, karena sifat pekerjaannya yang mengharuskan kehadiran fisik dan navigasi dunia nyata yang tidak dapat didigitalisasi. Profesi berpendapatan di atas 100.000 dolar AS per tahun justru memiliki rata-rata skor paparan tertinggi sebesar 6,7 dari 10, menurut laporan Fortune, yang berarti pekerjaan bergaji tinggi adalah yang paling terancam dalam transisi ini.
Karpathy sendiri bersikap hati-hati terhadap interpretasi berlebihan terhadap proyeknya, dan bahkan menghapus repositori GitHub-nya tak lama setelah rilis. Dalam pernyataan di X yang dikutip Fortune, ia menyebut proyek tersebut sebagai “proyek dua jam di Sabtu pagi yang terinspirasi dari buku yang sedang saya baca,” sebuah klarifikasi yang meredam sebagian kepanikan publik namun tidak mengurangi dampak diskursusnya. Meski demikian, situs interaktif di karpathy.ai/jobs tetap dapat diakses publik, dan pipeline sumber terbukanya masih tersedia untuk siapa pun yang ingin menjalankan penilaian risiko serupa secara mandiri.
Citadel Securities, sebagaimana dilaporkan Fortune, juga mengeluarkan bantahan terhadap skenario malapetaka ekonomi, dengan menunjukkan bahwa data posting pekerjaan di Indeed justru menunjukkan permintaan terhadap insinyur perangkat lunak naik 11 persen secara tahunan hingga awal 2026. Kesenjangan antara kemampuan teoritis AI dan penerapan nyatanya di lapangan, menurut analis Citadel, masih cukup lebar untuk mempertahankan stabilitas pasar kerja dalam jangka pendek.
Di tingkat korporasi, narasi pemutusan hubungan kerja berbasis AI kian menguat. Business Insider melaporkan bahwa perusahaan teknologi seperti Atlassian dan Block telah memangkas sejumlah posisi dengan secara eksplisit menyebut AI sebagai alasan utama di balik keputusan tersebut, memperkuat kekhawatiran bahwa transisi menuju otomatisasi tidak sepenuhnya akan berjalan mulus seperti yang dibayangkan Musk. Sementara itu, NDTV melaporkan bahwa pejabat Australia telah secara terbuka menolak proposal terkait skema pendapatan universal, dengan alasan bahwa implementasi kebijakan semacam itu membutuhkan lebih dari sekadar janji kemakmuran teknologi tanpa kerangka fiskal yang konkret.
Fortune juga mencatat bahwa Menteri Investasi Inggris Lord Jason Stockwood mengakui pemerintah Inggris sedang mempertimbangkan penerapan skema pendapatan dasar universal sebagai langkah antisipasi terhadap gelombang PHK yang dipicu otomatisasi AI. Perdebatan ini menegaskan bahwa meski visi Musk mendapat perhatian luas, jalan dari retorika menuju kebijakan publik masih panjang dan penuh hambatan struktural.