07 February 2026, 17:11

Heboh Meme Obama Jadi Kera, Trump Tetap Ngotot Tak Mau Minta Maaf Meski Dikecam Internal Republik

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak meminta maaf usai mengunggah sebuah video yang menggambarkan Presiden AS ke-44 Barack Obama dan istrinya

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
982
Heboh Meme Obama Jadi Kera, Trump Tetap Ngotot Tak Mau Minta Maaf Meski Dikecam Internal Republik
Trump menolak meminta maaf setelah posting video menggambarkan Presiden AS ke-44 Barack Obama dan istrinya, Michele, jadi kera. (AFP/Mandel Ngan)

Perspektif.co.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak meminta maaf usai mengunggah sebuah video yang menggambarkan Presiden AS ke-44 Barack Obama dan istrinya, Michelle Obama, sebagai kera di tengah hutan. Unggahan tersebut sempat muncul di akun media sosial milik Trump, Truth Social, pada Kamis (5/2/2026), sebelum akhirnya dihapus setelah menuai kecaman luas.

Video itu langsung memantik kontroversi dan kritik keras, termasuk dari kalangan internal Partai Republik sendiri, karena dinilai mengandung unsur rasisme. Namun Trump bersikukuh bahwa dirinya tidak bersalah dan menolak anggapan bahwa unggahan tersebut mencerminkan sikap diskriminatif.

Saat ditanya wartawan mengenai tudingan rasisme, Trump justru menegaskan klaimnya sebagai pemimpin yang paling tidak rasis. “Saya adalah presiden yang paling tidak rasis yang pernah Anda miliki dalam waktu yang lama,” ujar Trump kepada awak media. Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa insiden tersebut tidak akan berdampak pada elektabilitas Partai Republik, termasuk di kalangan pemilih kulit hitam, menjelang pemilu mendatang.

Trump turut memberikan versinya terkait kronologi video itu terunggah. Ia mengaku hanya melihat bagian awal rekaman tersebut dan menyerahkan pengelolaan unggahan kepada stafnya. “Saya melihat bagian awalnya. Baik-baik saja. Itu adalah unggahan yang kuat terkait kecurangan Pemilu,” kata Trump. Ia menambahkan, “Pada akhirnya tak ada yang tahu. Jika mereka melihat, mungkin mereka cukup bijak untuk menghapusnya.”

Kecaman paling keras datang dari Senator Tim Scott, satu-satunya anggota Senat Partai Republik yang berkulit hitam. Scott secara terbuka menyebut video tersebut sebagai unggahan paling rasis yang pernah ia lihat berasal dari Gedung Putih. “Saya berharap semoga itu palsu karena itu adalah hal paling rasis yang pernah saya lihat dari Gedung Putih ini. Presiden harus menghapusnya,” tulis Scott di media sosial X.

Keesokan harinya, Scott disebut telah berbicara langsung dengan Trump untuk membahas kontroversi tersebut. Seorang anggota Senat mengungkapkan bahwa Gedung Putih bergerak cepat menghapus video itu karena memicu kegaduhan di internal pemerintahan. “Seorang staf Gedung Putih secara keliru membuat unggahan tersebut. Unggahan itu telah dihapus,” ujar senator tersebut.

Penasihat Gedung Putih kemudian ikut memberikan klarifikasi dengan menyalahkan kelalaian staf. “Presiden tidak mengetahui video itu dan sangat kecewa dengan staf yang menyebarkannya,” kata seorang penasihat Trump. Meski demikian, pernyataan ini bertolak belakang dengan pengakuan Trump yang menyebut sempat melihat bagian awal video tersebut.

Sumber yang mengetahui aktivitas Trump di media sosial menyebutkan bahwa sang presiden kerap mengunggah konten secara pribadi di Truth Social, terutama pada larut malam hingga dini hari. Trump juga diketahui sering membagikan ulang unggahan pihak lain secara langsung. Pada siang hari, ia biasanya menandai unggahannya dengan inisial “DJT” sebagai penanda bahwa konten tersebut diposting sendiri olehnya.

Meski begitu, sumber yang sama menyebutkan bahwa sejumlah ajudan dekat Trump, termasuk Natalie Harp, terkadang ikut mengetik unggahan yang didiktekan langsung oleh Trump. Selain Harp, Dan Scavino, mantan wakil kepala staf yang mengelola media sosial Trump pada periode pertama, juga masih memiliki akses ke akun politikus Partai Republik tersebut.

Berita Terkait