02 December 2025, 23:33

Warga Aceh Tamiang Mengaku 4 Hari Tak Makan, Terpaksa Rebus Air Banjir untuk Diminum

Warga yang terdampak banjir bandang dan longsor di Kabupaten Aceh Tamiang mengaku belum tersentuh bantuan memadai hingga hari keempat bencana.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,618
Warga Aceh Tamiang Mengaku 4 Hari Tak Makan, Terpaksa Rebus Air Banjir untuk Diminum
Ilustrasi. Warga terdampak bencana banjir bandang dan longsor di Kabupaten Aceh Tamiang belum mendapatkan bantuan. (ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS).

Perspektif.co.id - Warga yang terdampak banjir bandang dan longsor di Kabupaten Aceh Tamiang mengaku belum tersentuh bantuan memadai hingga hari keempat bencana. Di tengah lumpuhnya akses logistik, sebagian warga terpaksa bertahan hidup dengan memanfaatkan apa saja yang tersisa dan bahkan merebus air banjir untuk dijadikan minum.

Irwan, jurnalis Transmedia yang juga menjadi salah satu korban terdampak, menceritakan kondisi yang dialami dirinya dan warga sekitar. Ia menyebut sudah berhari-hari tidak mendapat pasokan makanan layak.

“Kami sudah tiga sampai empat hari nyaris tidak makan. Soal bantuan, sampai sekarang belum ada satu pun yang benar-benar kami terima. Apa pun bentuknya belum sampai ke sini,” ujar Irwan, dikutip dari siaran CNN Indonesia TV, Selasa (2/12).

Menurut Irwan, situasi di Aceh Tamiang kini sangat memprihatinkan. Warga bukan hanya kesulitan memperoleh makanan, tetapi juga mengalami krisis air bersih. Untuk sekadar mengganjal perut, mereka terpaksa mengolah sisa-sisa bahan makanan yang terbawa arus banjir.

“Kami sampai mengambil mi instan yang sudah terendam air, lalu dipanaskan lagi, direbus ulang, dan itu yang kami makan bersama,” tuturnya menggambarkan keterbatasan yang dihadapi.

Kondisi serupa juga terjadi untuk kebutuhan minum. Akses terhadap air bersih terputus, sementara persediaan air dalam kemasan di sekitar lokasi sudah habis. Dalam situasi darurat, warga akhirnya memilih mengambil air dari genangan banjir, kemudian direbus sebelum dikonsumsi.

“Kami sangat kehausan. Supaya bisa bertahan hidup, terpaksa kami ambil air dari banjir itu, kami panaskan, dan kami minum bersama keluarga,” kata Irwan. Ia menegaskan, praktik itu dilakukan bukan karena pilihan, melainkan keterpaksaan di tengah ketiadaan alternatif.

Irwan menyebut kondisi ini berlangsung beberapa hari terakhir. Pada awal masa banjir, masih ada satu-dua swalayan di sekitar lokasi yang sempat berjualan dan menjadi tumpuan warga membeli kebutuhan pokok. Namun, stok barang di toko-toko itu kini telah habis, menyusul terputusnya pasokan dan meluasnya area terdampak.

“Beberapa hari lalu masih ada swalayan yang buka, tapi sekarang stoknya sudah habis. Sampai hari ini kami belum tahu harus mencari bantuan ke mana,” ujarnya.

Ia juga menyinggung minimnya kehadiran pejabat daerah di tengah kondisi darurat tersebut. Menurut Irwan, hingga saat ini Bupati Aceh Tamiang belum tampak langsung di lokasi yang ia tempati.

“Sejauh ini Bupati Aceh Tamiang belum kelihatan. Kami mencari-cari, tapi tidak tahu di mana posko bantuan utamanya. Kemarin Kapolda Aceh memang datang membawa bantuan, tapi kami di sini tidak kebagian karena dampak banjir ini meluas di seluruh Aceh Tamiang,” kata Irwan.

Kesaksian tersebut menambah panjang deretan cerita pilu dari kawasan yang terdampak banjir dan longsor di Sumatra. Laporan terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ratusan korban jiwa dan jutaan warga terdampak di berbagai provinsi. Di Aceh Tamiang, persoalan yang paling mendesak kini adalah pemenuhan kebutuhan dasar: makanan siap saji, air bersih, serta layanan kesehatan darurat untuk mencegah munculnya penyakit akibat sanitasi buruk dan konsumsi air tidak layak.

Berita Terkait