03 December 2025, 15:49

Korban Banjir Aceh Tamiang Mengaku Minum Air Genangan, BNPB: 3,3 Juta Jiwa Terdampak di Sumatra

Kondisi pengungsi korban banjir bandang dan longsor di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, masih jauh dari kata layak.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
2,189
Korban Banjir Aceh Tamiang Mengaku Minum Air Genangan, BNPB: 3,3 Juta Jiwa Terdampak di Sumatra
Seorang warga terdampak banjir di Aceh Tamiang, Aceh, Fira mengungkapkan kondisi di daerah tersebut usai bencana banjir yang melanda, disampaikan pada Rabu (3/12/2025). (Sumber: Tangkapan Layar YouTube KompasTV)

Aceh, Perspektif.co.id - Kondisi pengungsi korban banjir bandang dan longsor di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, masih jauh dari kata layak. Seorang warga bernama Fira mengungkapkan hingga Rabu (3/12/2025) siang, mereka belum juga mendapat tenda darurat untuk berlindung.

Ia menuturkan, warga yang selamat terpaksa bertahan di ruang terbuka tanpa pelindung memadai dari cuaca.

“Tenda di sini belum ada, jadi kalau hujan kami basah, kalau panas ya kepanasan, angin juga langsung kena. Sampai sekarang belum ada bantuan apa-apa,” kata Fira, dalam siaran Breaking News KompasTV yang dipantau dari Aceh Tamiang.

Lebih memprihatinkan, Fira menyebut warga di lokasi tersebut bertahan hidup dengan memanfaatkan apapun yang tersisa dan hanyut terbawa arus. Sumber air bersih sangat terbatas, sehingga mereka mengambil risiko mengonsumsi air yang tidak layak minum.

“Untuk minum, kami pakai air yang menggenang ini. Kadang ada botol minuman yang kebawa banjir, sisa-sisa Aqua, itu kami kumpulkan. Makanan juga kami ambil yang terseret di jalan, yang masih bisa dimakan sedikit, itulah yang kami makan,” ujarnya.

Ia menambahkan, sampai laporan ini disampaikan, bantuan logistik maupun perlengkapan dasar belum menjangkau lokasi pengungsian mereka. Di tengah situasi itu, sejumlah pengungsi mulai jatuh sakit.

“Sampai sekarang kami mohon sekali bantuannya. Adik kami ada yang sakit, tapi belum ada bantuan turun ke sini, belum ada obat-obatan, belum ada apa pun,” kata Fira.

Menurutnya, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah tenda atau tempat berteduh, makanan, pakaian, dan terutama obat-obatan untuk anak-anak dan warga yang mulai mengalami gangguan kesehatan. “Sandang pangan, terutama obat, itu yang paling kami butuhkan,” ucapnya.

Sementara itu, data resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan skala bencana di Sumatra meluas dan terus memburuk. Hingga Rabu (3/12/2025) pagi, BNPB mencatat sedikitnya 753 orang meninggal dunia akibat banjir dan longsor di Sumatra Utara (Sumut), Aceh, dan Sumatra Barat (Sumbar).

“Meninggal 753 jiwa,” demikian keterangan BNPB yang dipublikasikan melalui laman resmi mereka.

Selain korban jiwa, jumlah warga yang masih dinyatakan hilang mencapai 650 orang di tiga provinsi tersebut. Adapun korban luka-luka dilaporkan sekitar 2.600 jiwa.

Kerusakan fisik di kawasan terdampak juga tergolong masif. BNPB merinci ada sekitar 3.600 rumah yang mengalami rusak berat, 2.100 rumah rusak sedang, dan 3.700 unit rusak ringan akibat terjangan banjir dan longsor.

Di sisi lain, jumlah pengungsi dilaporkan mencapai sekitar 576.300 jiwa yang tersebar di berbagai titik penampungan sementara. BNPB menyebut total penduduk terdampak bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar mencapai kurang lebih 3,3 juta jiwa.

“Sumatra Utara 1,7 juta; Aceh 1,5 juta; Sumatra Barat 141,8 ribu jiwa,” tulis BNPB dalam laporan tersebut. Secara keseluruhan, BNPB mencatat ada 50 kabupaten/kota yang terdampak bencana banjir dan longsor di tiga provinsi ini.

Situasi di Aceh Tamiang seperti yang disampaikan Fira menjadi gambaran nyata tantangan besar penanganan darurat di lapangan. Selain kebutuhan logistik dan infrastruktur dasar, percepatan distribusi bantuan dan penyediaan sarana pengungsian yang layak menjadi sorotan utama agar korban tidak semakin jatuh dalam kondisi krisis berkepanjangan.

Berita Terkait