21 December 2025, 17:49

Viral Lagi! Cuitan Lawas Ridwan Kamil Singgung “Air Susu Aura Kasih”, Netizen Kian Berspekulasi

Sebuah cuitan lama yang dikaitkan dengan Ridwan Kamil kembali beredar luas di media sosial dan memantik polemik baru.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
3,510
Viral Lagi! Cuitan Lawas Ridwan Kamil Singgung “Air Susu Aura Kasih”, Netizen Kian Berspekulasi
tweet Ridwan Kamil 1 Juli 2010 viral lagi / doc : istimewa

Perspektif.co.id - Sebuah cuitan lama yang dikaitkan dengan Ridwan Kamil kembali beredar luas di media sosial dan memantik polemik baru. Cuitan tersebut menyinggung nama penyanyi dan aktris Aura Kasih, di tengah ramainya gosip miring yang sebelumnya sudah berputar soal kedekatan keduanya.

Cuitan yang ramai dibahas itu disebut berasal dari 1 Juli 2010, saat Ridwan Kamil masih dikenal sebagai akademisi. Dalam percakapan dengan akun lain, muncul kalimat bernada candaan yang kini dikutip ulang warganet: “Kang capung mah bkn minum ASI tp ASAK: Air Susu Aura Kasih :D”.

Kemunculan ulang cuitan tersebut membuat warganet menautkannya dengan rentetan konten lama lain yang juga sempat viral, termasuk potongan video pantun yang menyebut nama Aura Kasih. Perbincangan pun melebar, dari sekadar nostalgia era Twitter awal 2010-an, menjadi tafsir liar yang menyeret isu rumah tangga dan gosip pihak ketiga.

Di sisi lain, pihak keluarga Ridwan Kamil sebelumnya telah merespons isu yang beredar. Kuasa hukum Atalia Praratya, Debi Agusfriansa, disebut menegaskan bahwa nama Aura Kasih tidak tercantum dalam dokumen gugatan cerai, sekaligus meluruskan kabar yang menyeret sang artis sebagai “orang ketiga”. 

Meski demikian, viralnya kembali cuitan lawas tersebut membuat ruang spekulasi di media sosial sulit diredam. Hingga kini, belum ada pernyataan terbuka dari Ridwan Kamil terkait konteks cuitan yang kembali beredar maupun klarifikasi lanjutan untuk menjawab tafsir publik. Aura Kasih juga belum memberikan tanggapan langsung atas ramainya perbincangan, sementara komentar warganet terus membanjiri berbagai unggahan yang menautkan nama keduanya.

Fenomena ini kembali menunjukkan bagaimana jejak digital era awal media sosial bisa muncul kembali dan dipakai sebagai “bukti” baru dalam drama opini publik—meski konteksnya lahir dari candaan lama, dan realitasnya belum tentu sejalan dengan narasi yang dibangun warganet hari ini.

Berita Terkait