17 January 2026, 14:33

Siklon Nokaen dan Bibit 96S “Ngerek” Gelombang, BMKG: Sejumlah Perairan RI Berpotensi 4 Meter

BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi gelombang tinggi di berbagai perairan Indonesia yang diperkirakan berlangsung 17–20 Januari 2026

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Deden M Rojani
948
Siklon Nokaen dan Bibit 96S “Ngerek” Gelombang, BMKG: Sejumlah Perairan RI Berpotensi 4 Meter
Ilustrasi gelombang tinggi di perairan Indonesia. (ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI)

JAKARTA — BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi gelombang tinggi di berbagai perairan Indonesia yang diperkirakan berlangsung 17–20 Januari 2026. Peningkatan gelombang ini dipicu aktivitas dua sistem cuaca: Siklon Tropis Nokaen di Laut Filipina (utara Maluku Utara) serta Bibit Siklon Tropis 96S di Samudra Hindia (selatan NTB). 

Dalam prospek cuaca mingguan, BMKG menyebut Siklon Tropis Nokaen diprakirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum 35 knot dan memengaruhi pembentukan pola angin terutama di wilayah utara Indonesia bagian timur

BMKG juga menjelaskan, Bibit 96S diprakirakan persisten dengan kecepatan angin maksimum 20 knot dan berpengaruh terhadap pola angin sekaligus pembentukan daerah konvergensi memanjang dari pesisir barat Sumatra hingga sejumlah perairan termasuk Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Seram, Laut Arafura, dan Papua Barat. Kondisi tersebut dinilai mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan dan memicu dampak turunan seperti peningkatan gelombang. 

Dari sisi angin permukaan, pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari barat laut hingga timur laut dengan kecepatan sekitar 8–25 knot. Sementara di wilayah selatan, angin cenderung bergerak dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan 8–30 knot, dengan kecepatan tertinggi terpantau di Samudra Hindia selatan NTT dan Laut Arafuru

BMKG memetakan potensi gelombang kategori sedang 1,25–2,5 meter yang berpeluang terjadi di antaranya Selat Malaka bagian utara; Samudra Hindia barat Aceh hingga barat Kepulauan Nias; Samudra Hindia selatan DI Yogyakarta; Selat Karimata bagian utara; Selat Makassar bagian selatan; Laut Jawa (barat–tengah–timur); serta sejumlah perairan lain seperti Laut Bali, Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, Teluk Bone, Laut Sulawesi, dan Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua

Untuk gelombang lebih berbahaya, BMKG mencatat peluang 2,5–4,0 meter di sejumlah titik, termasuk Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai, Bengkulu, Lampung; Samudra Hindia selatan Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur; Samudra Hindia selatan Bali hingga NTT; Laut Arafuru (barat–tengah–timur); serta Samudra Pasifik utara Maluku

BMKG mengingatkan kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan pelayaran. Ambang kewaspadaan antara lain pada perahu nelayan (angin >15 knot dan gelombang >1,25 m), kapal tongkang (angin >16 knot dan gelombang >1,5 m), serta kapal ferry (angin >21 knot dan gelombang >2,5 m). Warga pesisir di area terdampak juga diminta meningkatkan kewaspadaan.pas”: lebih halus dan edukatif—tanpa ubah fakta.

Berita Terkait