27 February 2026, 18:02

BMKG Buka Suara soal Cuaca Mudik Lebaran 2026: Rute Padat Jabar–Jateng Masih Mengintai Ekstrem, Posko 24 Jam Disiagakan

Menjelang arus mudik Lebaran 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan periode Idulfitri tahun ini masih berada dalam musim hujan.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
613
BMKG Buka Suara soal Cuaca Mudik Lebaran 2026: Rute Padat Jabar–Jateng Masih Mengintai Ekstrem, Posko 24 Jam Disiagakan
Ilustrasi cuaca hujan (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)

Perspektif.co.id - Menjelang arus mudik Lebaran 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan periode Idulfitri tahun ini masih berada dalam musim hujan. Situasi itu dinilai krusial karena cuaca ekstrem dapat berdampak langsung pada kelancaran perjalanan lintas moda—darat, laut, dan udara—serta meningkatkan risiko gangguan keselamatan di rute-rute padat pemudik.

Dalam rilis resmi tertanggal 25 Februari 2026, BMKG menyatakan komitmennya mendukung penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2026 melalui layanan informasi cuaca, iklim, dan peringatan dini yang akurat serta terintegrasi. 

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, pada Februari 2026 curah hujan diprakirakan berada pada kategori rendah hingga tinggi, dengan peluang “sangat tinggi” di sejumlah wilayah. Daerah yang masuk perhatian antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Memasuki Maret 2026, polanya masih relatif serupa, dengan potensi curah hujan sangat tinggi diprakirakan terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Tengah. 

Faisal menekankan, ketika memasuki periode Idulfitri, sebagian wilayah masih berisiko menghadapi cuaca ekstrem—terutama di rute dengan mobilitas pemudik terbesar. “Saat memasuki Idulfitri, kita masih menghadapi cuaca ekstrem, terutama di Jawa Barat dan Jawa Tengah,” kata Faisal dalam rapat koordinasi persiapan Angkutan Lebaran 2026 di Kementerian Perhubungan, Jakarta. Namun BMKG memprediksi intensitas hujan mulai menurun di pengujung periode Lebaran. “Di sepuluh hari terakhir bulan Maret itu curah hujan sudah mulai melandai,” ujarnya. 

Di tengah potensi itu, BMKG mendorong mitigasi terpadu untuk menekan risiko gangguan cuaca selama arus mudik dan balik. Salah satu opsi yang disiapkan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang bersifat situasional, dilakukan berdasarkan kebutuhan serta pertimbangan ilmiah. Pemerintah daerah dengan tingkat risiko tinggi dapat berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG terkait pelaksanaan OMC tersebut (BMKG)

BMKG juga menegaskan pemantauan atmosfer dilakukan berkelanjutan dan peringatan dini akan disampaikan tepat waktu untuk mendukung keselamatan publik selama masa Angkutan Lebaran 2026. “BMKG terus melakukan analisis dan pemantauan kondisi atmosfer secara berkelanjutan,” kata Faisal, seraya menekankan kesiapan lembaga dalam menyampaikan informasi dan peringatan dini secara cepat. BMKG juga memastikan bila muncul kondisi yang membahayakan, seperti potensi siklon tropis, pihaknya akan menyurati kepala daerah agar langkah antisipasi bisa segera dijalankan di lapangan. 

Pada sisi layanan, BMKG menyiapkan sistem informasi cuaca berbasis digital yang terintegrasi untuk berbagai moda transportasi. Untuk penerbangan, tersedia System of Interactive Aviation Meteorology (InaSIAM). Untuk jalur darat, BMKG menyediakan Digital Weather for Traffic. Sementara sektor pelayaran didukung melalui Indonesia Weather Information for Shipping (InaWIS). Informasi cuaca juga disebarluaskan lewat situs resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, kanal media sosial, hingga display cuaca di sejumlah ruas tol agar mudah diakses masyarakat selama perjalanan.

Penguatan layanan juga ditopang kesiapsiagaan personel dan jaringan kerja BMKG di daerah. Sebanyak 191 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG di seluruh Indonesia disiagakan selama periode Lebaran, sementara posko BMKG di 38 provinsi dioperasikan 24 jam guna memastikan layanan informasi berjalan optimal.

Berita Terkait