TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — China tengah membangun supremasi kecerdasan buatan yang tidak lagi bisa diabaikan dunia. Konsumsi token harian China mencapai lebih dari 140 triliun pada Maret 2026, melonjak drastis dari hanya 100 miliar pada awal 2024, sebagaimana diungkapkan Liu Liehong, kepala Administrasi Data Nasional China, dalam China Development Forum di Beijing. Angka itu bukan sekadar statistik teknis — ia merepresentasikan skala penerapan AI industri China yang kini melampaui negara mana pun di dunia, termasuk Amerika Serikat.
Liu Liehong, administrator Administrasi Data Nasional China, memperkenalkan istilah resmi baru untuk token dalam bahasa Mandarin, yaitu ciyuan, di konferensi pers Dewan Negara pada Maret lalu, seraya menegaskan bahwa token kini menjadi “satuan penyelesaian yang menghubungkan pasokan teknologi dengan permintaan komersial.” Penetapan istilah resmi ini bukan sekadar simbolik — pemerintah China secara aktif menempatkan konsumsi token sebagai indikator ekonomi strategis setara produksi baja atau ekspor manufaktur di era industri.
Angka konsumsi harian 140 triliun token itu bahkan melonjak lebih dari 40 persen dibandingkan posisi akhir 2025 yang sudah menyentuh 100 triliun, menurut data resmi Administrasi Data Nasional China yang dirilis pada April 2026. Laju akselerasi yang melampaui proyeksi ini didorong oleh dua faktor utama: booming agen AI berbasis model besar, dan kebijakan nasional “AI+” yang mendorong seluruh industri mengadopsi kecerdasan buatan sebagai infrastruktur inti.
Laporan bersama Andreessen Horowitz dan OpenRouter mengungkapkan bahwa selama pekan 16–22 Februari, model-model AI asal China memproses 5,16 triliun token di platform OpenRouter, sementara model AS hanya menghasilkan 2,7 triliun token. Dominasi itu bukan anomali sesaat. Data OpenRouter menunjukkan bahwa pada periode 30 Maret hingga 5 April, total penggunaan token global mencapai 27 triliun, dengan model China menyumbang 12,96 triliun — naik 31,48 persen secara mingguan — sementara model AS hanya mencatat 3,03 triliun, menjadikan ini minggu kelima berturut-turut model China mengungguli rivalnya dari Amerika.
Keunggulan kompetitif model China sangat ditopang oleh efisiensi harga yang luar biasa: DeepSeek V3.2 hanya membebankan biaya sekitar 0,42 dolar AS atau sekitar Rp6.900 per juta token keluaran, dibandingkan dengan 75 dolar AS atau sekitar Rp1,23 juta untuk model Claude Opus milik Anthropic — selisih harga lebih dari 170 kali lipat. Celah harga yang masif ini mendorong jutaan pengembang global beralih ke model-model buatan China tanpa mempertimbangkan afiliasi geopolitik mereka.
Zhipu AI, salah satu pemain utama model besar China, justru menaikkan harga API sebesar 83 persen pada kuartal pertama 2026, namun volume panggilan API-nya malah meningkat — sebuah sinyal bahwa pasar tidak sekadar mengejar harga murah, melainkan telah mempercayai kualitas model domestik China. CEO Zhipu AI Zhang Peng menegaskan bahwa keunggulan harga yang dimaksud bukan berarti persaingan harga yang merusak, melainkan efisiensi rekayasa yang sesungguhnya.
“Efisiensi model China bukan hasil dari pemotongan kompromistis, melainkan dari arsitektur rekayasa yang lebih ramping dan deployment yang lebih efisien,” kata Wei Wei, pejabat dari Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China, sebagaimana dikutip China.org.cn dalam laporan resmi April 2026.
Sementara itu, laporan tahunan bergengsi dari Stanford University turut memperkuat gambaran pergeseran kekuatan ini. Stanford HAI 2026 AI Index mengungkapkan bahwa kesenjangan Arena Score antara model AI terbaik AS dan China telah menyusut menjadi hanya 39 poin, dengan model unggulan Anthropic, Claude Opus 4.6, memimpin model terbaik China, Dola-Seed 2.0, dengan margin tipis 2,7 persen per Maret 2026. Sebagai perbandingan, pada Mei 2023, model terbaik AS unggul lebih dari 300 poin Arena Score atas China — sebuah jurang yang kini nyaris tertutup sepenuhnya.
Amerika Serikat menginvestasikan sekitar 109 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.786 triliun dalam riset dan pengembangan AI swasta pada 2024, sementara China hanya mengalokasikan 9,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp152 triliun — selisih 12 kali lipat — namun kesenjangan performa puncak model keduanya hanya tersisa 2,7 poin persentase. Efisiensi investasi China dalam AI menjadi salah satu paradoks paling mencolok dalam sejarah persaingan teknologi modern.
Laporan Stanford HAI mencatat bahwa AS dan China telah bergantian menempati posisi teratas dalam peringkat performa model sejak awal 2025, dengan DeepSeek-R1 sempat menyamai model terbaik AS pada Februari 2025 sebelum kembali tertinggal. China juga memimpin dunia dalam volume publikasi ilmiah AI, output paten, dan instalasi robot industri — tiga pilar yang menentukan arah pengembangan AI jangka panjang.
JPMorgan memproyeksikan konsumsi token inferensi China akan tumbuh sekitar 370 kali lipat antara 2025 dan 2030, sementara industri terkait AI China diperkirakan melampaui angka 10 triliun yuan atau sekitar Rp22.400 triliun pada akhir periode Rencana Lima Tahun 2026–2030. Directive delapan kementerian yang diterbitkan pada Januari 2026 menetapkan target 1.000 agen AI industri pada 2027, dan Rencana Lima Tahun terbaru secara resmi mengadopsi “AI+” sebagai kerangka aksi nasional.
Di platform OpenRouter yang mengagregasi lebih dari 400 model dari lima juta pengembang di seluruh dunia, model-model AI China menguasai 61 persen dari total konsumsi token di antara sepuluh model teratas pada Februari 2026, dengan empat dari lima model paling banyak digunakan secara global berasal dari China. Angka ini mengkonfirmasi bahwa dominasi China dalam ekosistem AI bukan fenomena domestik, melainkan kemenangan global yang beroperasi di luar batas-batas geopolitik.