TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Startup infrastruktur AI asal Amerika Serikat, FluidStack, tengah dalam pembicaraan serius untuk menggalang dana segar senilai 1 miliar dolar AS atau setara Rp16,2 triliun dengan kurs saat ini, dengan target valuasi mencapai 18 miliar dolar AS (sekitar Rp291,6 triliun). Informasi ini pertama kali dilaporkan Bloomberg pada pertengahan April 2026 berdasarkan keterangan sejumlah sumber yang mengetahui negosiasi tersebut secara langsung. Angka ini menjadikan FluidStack sebagai salah satu pemain infrastruktur AI dengan pertumbuhan valuasi tercepat dalam sejarah industri teknologi global.
Putaran pendanaan terbaru ini dipimpin oleh Jane Street dan Situational Awareness—dana investasi milik mantan peneliti OpenAI, Leopold Aschenbrenner—dengan Morgan Stanley bertindak sebagai penasihat keuangan transaksi tersebut. Lonjakan kepercayaan investor ini tidak datang dari ruang kosong; melainkan lahir dari serangkaian pencapaian bisnis yang dalam waktu singkat mengubah wajah FluidStack dari pemain pinggiran menjadi tulang punggung infrastruktur AI global.
Pada November lalu, Anthropic mengumumkan kontrak senilai 50 miliar dolar AS dengan FluidStack untuk membangun pusat data yang dirancang khusus sesuai kebutuhan komputasi Anthropic di Texas dan New York. Kesepakatan berskala raksasa itu menjadi katalis utama yang mendongkrak nama FluidStack di hadapan para investor kelas dunia, sekaligus mempertegas bahwa era infrastruktur AI yang terspesialisasi sudah benar-benar tiba.
Apabila kesepakatan ini berhasil dituntaskan, valuasi FluidStack bakal melampaui dua kali lipat angka yang dicatatkan hanya beberapa bulan sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada Desember 2025 perusahaan yang didirikan tahun 2017 itu baru saja menyelesaikan putaran senilai sekitar 700 juta dolar AS pada valuasi 7,5 miliar dolar AS—putaran yang kala itu dipimpin oleh Situational Awareness dan didukung oleh bersaudara Collison dari Stripe, mantan CEO GitHub Nat Friedman, serta investor AI Daniel Gross.
Kecepatan ascent FluidStack sungguh mencengangkan: dari pendapatan hanya 1,8 juta dolar AS pada 2022, melesat ke 66,2 juta dolar AS pada 2024, dan kini tengah mengincar valuasi 18 miliar dolar AS di bulan April 2026. Lompatan ini mencerminkan betapa tingginya permintaan terhadap infrastruktur komputasi yang dirancang khusus untuk beban kerja AI, bukan sekadar layanan cloud serbaguna dari pemain besar seperti AWS atau Google Cloud.
Berbeda dari penyedia cloud konvensional, FluidStack memosisikan dirinya sebagai akselerator proyek AI dengan mengeliminasi hambatan komputasi yang kerap memperlambat pelatihan model-model besar. Model bisnis ini dianggap semakin relevan seiring meningkatnya kompetisi antar laboratorium AI dalam memperebutkan kapasitas GPU yang terbatas di seluruh dunia.
Pasar global infrastruktur AI sendiri diproyeksikan mencapai 90,91 miliar dolar AS pada 2026, tumbuh dengan laju majemuk tahunan sebesar 26,5 persen. Di tengah proyeksi yang menggiurkan itu, FluidStack tidak sendiri; ia bersaing ketat dengan CoreWeave yang juga menjadi salah satu penyedia infrastruktur AI independen terbesar saat ini.
FluidStack juga telah merelokasi kantor pusatnya dari Inggris ke New York, sinyal strategis yang menegaskan fokus perusahaan untuk merebut peluang pasar Amerika Serikat yang terus membesar. Langkah ini sekaligus mencerminkan pergeseran besar dalam geopolitik infrastruktur teknologi, di mana Amerika Serikat kian mendominasi peta investasi AI global dibandingkan kawasan Eropa.
Jika putaran ini resmi ditutup pada nilai yang disepakati, ia berpotensi menjadi salah satu kesepakatan modal ventura terbesar sepanjang 2026 dan mengukuhkan FluidStack bersama CoreWeave sebagai penyedia infrastruktur AI independen paling bernilai di dunia. Baik FluidStack maupun Anthropic belum memberikan konfirmasi resmi atas laporan ini hingga berita diturunkan, namun bergulirnya negosiasi berskala jumbo ini sudah cukup membuat industri teknologi global menahan napas.