17 April 2026, 17:33

Rupiah Tembus Rekor Terburuk! Anjlok ke Rp17.188 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah

Pelemahan ini menandai tekanan signifikan terhadap mata uang Garuda di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Deden M Rojani
154
Rupiah Tembus Rekor Terburuk! Anjlok ke Rp17.188 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah
Nilai tukar rupiah melemah 0,29 persen ke Rp17.188 per dolar AS pada Jumat (17/4) sore. Ilustrasi

JAKARTA, Perspektif.co.id - Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah setelah menyentuh level Rp17.188 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (17/4/2026) sore. Pelemahan ini menandai tekanan signifikan terhadap mata uang Garuda di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.

Berdasarkan data pasar, rupiah melemah sekitar 50 poin atau 0,29 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatat posisi rupiah di angka Rp17.189 per dolar AS.

Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga berada di zona merah. Yen Jepang tercatat melemah tipis 0,01 persen, baht Thailand turun 0,17 persen, yuan China melemah 0,03 persen, peso Filipina turun 0,10 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,05 persen.

Di sisi lain, dolar Singapura justru menguat sebesar 0,07 persen, sementara dolar Hong Kong mengalami pelemahan sebesar 0,08 persen. Kondisi ini menunjukkan tekanan yang tidak merata di kawasan, meskipun tren pelemahan tetap mendominasi.

Berbeda dengan Asia, sejumlah mata uang utama negara maju justru menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Euro Eropa naik 0,10 persen, poundsterling Inggris menguat 0,03 persen, dan franc Swiss naik 0,17 persen.

Selain itu, dolar Australia dan dolar Kanada masing-masing mencatat penguatan sebesar 0,24 persen dan 0,23 persen, mencerminkan sentimen global yang masih beragam terhadap pergerakan dolar AS.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah kali ini dipicu oleh faktor domestik yang masih memberikan tekanan signifikan.

“Rupiah kembali melemah cukup besar dan mencatatkan rekor terlemah sejarah. Sentimen negatif domestik masih menjadi pemicu utama perlemahan rupiah,” ujar Lukman.

Ia menambahkan bahwa meskipun indeks dolar AS mengalami sedikit penguatan, posisinya masih relatif dekat dengan level terendah dalam enam pekan terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak semata-mata berasal dari penguatan dolar global.

Pelemahan tajam ini menjadi perhatian serius pelaku pasar karena berpotensi berdampak pada inflasi, biaya impor, serta stabilitas ekonomi nasional secara keseluruhan.

Berita Terkait