JAKARTA, Perspektif.co.id - Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan Rabu (25/2/2026) di level Rp16.800 per dolar AS di pasar spot. Mata uang Garuda tercatat menguat 29 poin atau 0,17 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp16.829 per dolar AS.
Sejalan dengan itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah pada posisi Rp16.813 per dolar AS, menguat dari hari sebelumnya di Rp16.830.
Pergerakan rupiah hari ini berlangsung di tengah sentimen pasar yang cenderung “risk on”, ditopang aliran dana asing ke pasar ekuitas domestik dan pelemahan indeks dolar AS (DXY). Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan rupiah tak lepas dari perubahan arah dolar setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump. “DXY (indeks dolar AS) sendiri berbalik turun merespon pidato Trump yang mengatakan tidak akan ada perubahan pada kebijakan tarifnya,” ujar Lukman.
Di kawasan Asia, mayoritas mata uang bergerak menguat pada penutupan sore ini. Baht Thailand menguat, yuan China menguat, peso Filipina menguat, dan won Korea Selatan juga menguat. Sementara itu, yen Jepang tercatat melemah. Dari Asia lainnya, dolar Singapura menguat dan dolar Hong Kong terpantau menguat.
Tren positif juga terlihat pada mata uang utama negara maju. Euro Eropa, poundsterling Inggris, dan franc Swiss kompak berada di zona penguatan. Di sisi lain, dolar Australia menguat cukup kuat dan dolar Kanada turut menguat.