21 January 2026, 23:19

5 Biang Kerok Rupiah Anjlok Dekati Rp17 Ribu per Dolar AS, Bos BI Angkat Bicara.

Siap-siap, rupiah nyaris tembus Rp17.000 per dolar AS lagi. Bank Indonesia (BI) akhirnya buka-bukaan soal lima faktor yang bikin nilai tukar Garuda tertekan

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,188
5 Biang Kerok Rupiah Anjlok Dekati Rp17 Ribu per Dolar AS, Bos BI Angkat Bicara.
Gubernur BI Perry Warjiyo beberkan penyebab melemahnya rupiah terhadap dolar AS. Mata uang Garuda beberapa kali nyaris menyentuh Rp17 ribu per dolar AS. (FOTO:ANTARA/BAYU PRATAMA S).

Perspektif.co.id - Siap-siap, rupiah nyaris tembus Rp17.000 per dolar AS lagi. Bank Indonesia (BI) akhirnya buka-bukaan soal lima faktor yang bikin nilai tukar Garuda tertekan, sekaligus menegaskan bakal intervensi besar-besaran bila diperlukan.

Pada Rabu (21/1/2026), rupiah ditutup di kisaran Rp16.936 per dolar AS setelah sempat bergerak mendekati Rp17.000. (ANTARA News) Sementara kurs referensi BI (JISDOR) tercatat Rp16.963 per dolar AS pada tanggal yang sama.

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bank sentral tak akan ragu memakai amunisi stabilisasi. “Cadangan devisa kami kumpulkan pada saat masuk dan tidak segan-segan kami gunakan… untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Kami meyakini rupiah akan stabil dan bahkan akan cenderung menguat,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2026. 

Perry merinci, tekanan rupiah datang dari kombinasi faktor global dan domestik. Pertama, meningkatnya dinamika geopolitik global yang bikin pasar cenderung defensif. (ANTARA News) Kedua, efek kebijakan tarif Amerika Serikat yang memicu ketidakpastian, ditambah tingginya imbal hasil US Treasury yang membuat aset dolar lebih menarik. (ANTARA News) Ketiga, pasar membaca ruang pemangkasan suku bunga acuan AS lebih terbatas (ekspektasi penurunan Fed Funds Rate lebih kecil), sehingga dolar makin perkasa dan mendorong arus dana keluar dari negara berkembang. 

BI juga mencatat arus modal keluar masih terasa. Perry menyebut hingga 19 Januari 2026 terjadi net outflow 1,6 miliar dolar AS

Keempat, dari sisi domestik, tekanan muncul dari kebutuhan valas yang besar oleh sejumlah korporasi, yang ikut menambah permintaan dolar di pasar. (ANTARA News) Kelima, ada faktor persepsi pasar terkait kondisi fiskal serta proses pencalonan Deputi Gubernur BI. Namun Perry menekankan proses tersebut berjalan sesuai aturan dan tidak mengganggu independensi kerja bank sentral. “Proses pencalonan Deputi Gubernur adalah sesuai undang-undang, tata kelola… dan tentu saja tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan Bank Indonesia,” ujarnya.

Dari sisi kebijakan, BI menegaskan siap masuk pasar lewat berbagai instrumen, mulai dari intervensi pasar spot, DNDF, hingga pasar offshore NDF. (ANTARA News) Di saat yang sama, BI juga mempertahankan suku bunga acuan. Dalam RDG 20–21 Januari 2026, BI menahan BI-Rate 4,75%, Deposit Facility 3,75%, dan Lending Facility 5,50%

Respons pasar pun mulai terlihat. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah menguat karena pernyataan BI dianggap tidak terlalu “dovish”. “BI masih perlu mencermati peluang untuk memangkas suku bunga dan peluang ini ditafsir sebagai tekanan pada rupiah,” kata Lukman.

Sebagai gambaran tambahan, pada kurs transaksi BI (acuan transaksi BI dengan pihak ketiga), kurs jual USD tercatat Rp17.065,90 dan kurs beli USD Rp16.896,10 dengan pembaruan 21 Januari 2026

Berita Terkait