EKONOMI, Perspektif.co.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menyerah di bawah level psikologis 7.000 pada perdagangan Senin, 6 April 2026, setelah tekanan jual bertubi-tubi menghantam lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak pembukaan. IHSG dibuka melemah 69,30 poin atau 0,99 persen ke level 6.957,48, dengan indeks sempat menyentuh titik tertinggi di 7.008,95 sebelum tergerus hingga level terendah 6.955,82 sepanjang sesi awal.
Pada penutupan perdagangan hari tersebut, IHSG terjerembap 0,53 persen ke level 6.989,43, resmi menjebol pagar psikologis yang selama ini menjadi benteng terakhir kepercayaan investor. Kejatuhan ini bukan peristiwa tunggal, melainkan puncak dari tekanan berlapis yang telah menggerogoti pasar modal Indonesia sejak awal tahun. Dihitung secara year-to-date, IHSG sudah merosot 19,17 persen sejak Januari 2026, menjadikannya bursa saham dengan kinerja paling buruk di seluruh dunia.
Dua pemicu utama yang mengunci IHSG dalam jurang merah adalah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran, serta derasnya pelarian modal asing yang tak kunjung berhenti. Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran bahwa batas waktu pembukaan kembali Selat Hormuz jatuh pada 6 April 2026, dengan ancaman eskalasi militer besar-besaran jika tuntutan itu diabaikan.
Tekanan dari investor asing mencatatkan net sell hingga Rp2,8 triliun dalam satu sesi, memperparah kondisi pasar yang sudah rapuh. Dari sisi sektoral, infrastruktur mencatat penurunan paling dalam sebesar 2,15 persen, disusul sektor bahan baku yang turun 1,83 persen, serta transportasi yang terkoreksi 1,76 persen. Seluruh tekanan ini terjadi di tengah ketidakpastian global yang diperkuat oleh kebijakan tarif resiprokal Presiden Trump yang memukul kepercayaan investor di hampir seluruh pasar berkembang Asia.
Di sisi nilai tukar, rupiah sudah lebih dahulu mencetak sejarah kelam sebelum IHSG menyusul ke jurang yang sama. Mata uang Garuda resmi menembus level Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan 1 April 2026, yang sekaligus menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang masa secara intraday di pasar spot berdasarkan data Refinitiv. Sehari sebelumnya, pada 31 Maret 2026, rupiah ditutup melemah tipis 0,03 persen ke posisi Rp16.990 per dolar AS, yang sudah menjadi posisi penutupan terlemah dalam sejarah nilai tukar Indonesia.
Memasuki pekan pertama April, rupiah masih bertengger di kisaran Rp17.039 per dolar AS, menunjukkan bahwa tekanan depresiasi belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pelemahan nilai tukar rupiah yang cukup drastis turut memperbesar biaya impor bahan baku, yang dampak lanjutannya adalah kenaikan inflasi yang dapat mempersempit ruang konsumsi masyarakat dan menekan kinerja emiten di berbagai sektor.
“Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang menghadapi ujian berat akibat kombinasi lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang cukup drastis,” ujar analis pasar dari Kabarbursa dalam laporan hariannya, Senin 6 April 2026.
“Hal tersebut berpotensi terjadi capital outflow dan berlanjutnya depresiasi Rupiah,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam kajian yang dikutip Antara News.
Dalam laporan terbarunya, MNC Sekuritas menyebutkan IHSG masih berada dalam fase koreksi lanjutan dengan potensi menguji area support di kisaran 6.745 hingga 6.849, meskipun dalam skenario terbaik indeks berpeluang melanjutkan penguatan ke rentang 7.450 hingga 7.675 apabila tekanan dari eksternal mereda. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memperkirakan IHSG berpotensi kembali menguji level support di kisaran 6.900 hingga 7.000 dalam jangka pendek, seiring kombinasi sentimen geopolitik dan tekanan nilai tukar yang belum mereda.
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia terus memantau pergerakan pasar dan mengimbau pelaku pasar untuk tidak panik dalam menghadapi volatilitas yang bersifat jangka pendek ini. Jika harga minyak mentah mampu bertahan di atas level USD100 per barel, beban subsidi energi dalam APBN berpotensi meningkat signifikan, yang berisiko memperlebar defisit fiskal dan menambah tekanan terhadap stabilitas ekonomi domestik. Kondisi ini memaksa para manajer investasi dan pelaku pasar untuk memutar ulang strategi portofolio mereka, menggeser alokasi dari aset berisiko ke instrumen yang lebih aman seperti obligasi pemerintah dan emas.