18 December 2025, 21:46

Putin Ngotot Soal Wilayah Ukraina Meski Didorong Trump, Rusia: Bisa Tempuh Jalur Militer Kalau Diplomasi Mentok

Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan tidak akan berkompromi terkait tuntutan Moskow agar Ukraina menyerahkan wilayah

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,694
Putin Ngotot Soal Wilayah Ukraina Meski Didorong Trump, Rusia: Bisa Tempuh Jalur Militer Kalau Diplomasi Mentok
Presiden Ukraina Vladimir Putin ogah kompromi soal Ukraina meski didesak Presiden AS Donald Trump. (REUTERS/Jeenah Moon)

Perspektif.co.id - Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan tidak akan berkompromi terkait tuntutan Moskow agar Ukraina menyerahkan wilayah, di tengah dorongan diplomatik dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mencapai kesepakatan damai. Sikap tersebut disampaikan Putin dalam pertemuan tahunan Kementerian Pertahanan Rusia pada pertengahan pekan ini, saat AS dan negara-negara Eropa sama-sama melakukan manuver diplomasi guna mencari formula penghentian perang. 

Putin menyatakan Rusia tetap “lebih memilih” jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik, tetapi mengancam akan melanjutkan perebutan wilayah dengan kekuatan militer bila pihak lawan menolak pembicaraan substantif. “Kami lebih memilih melakukan ini, dan menghilangkan akar penyebab konflik, melalui diplomasi. Jika negara lawan dan pelindung asingnya menolak untuk terlibat dalam diskusi substantif, Rusia akan mencapai pembebasan tanah bersejarahnya melalui jalur militer,” kata Putin. (Reuters

Pernyataan itu menggarisbawahi bahwa isu wilayah tetap menjadi titik paling keras dalam perundingan damai. Reuters melaporkan Putin juga menyebut Rusia bisa mengambil lebih banyak wilayah Ukraina “dengan kekuatan” jika Kyiv dan pemimpin Eropa menolak membahas proposal perdamaian yang didorong AS. Dalam forum yang sama, Putin melontarkan kritik tajam kepada sebagian politisi Eropa serta menuding mereka menghambat proses menuju kesepakatan.

Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan Kyiv tidak akan mengakui wilayah Donbas yang diduduki sebagai bagian dari Rusia, baik secara hukum maupun de facto. “Neither de jure nor de facto will we recognise Donbas as Russian, the part that is temporarily occupied,” ujar Zelensky, seraya menyebut isu wilayah adalah salah satu kunci perundingan yang belum mencapai konsensus.

Zelensky juga memperingatkan bahwa retorika “tanah bersejarah” bisa menjadi preseden berbahaya bagi Eropa. “Ada negara-negara lain di Eropa yang suatu hari nanti mungkin disebut sebagai ‘tanah bersejarah’ mereka oleh seseorang di Rusia. Kita butuh perlindungan nyata dari sejarah kegilaan Rusia ini,” kata Zelensky. 

Lembaga pemantau konflik Institute for the Study of War (ISW) menilai Rusia telah mengklaim/menganeksasi Donbas secara ilegal namun belum sepenuhnya menguasainya. Dengan laju kemajuan saat ini, Rusia dinilai baru akan bisa menguasai seluruh Donbas sekitar Agustus 2027—menunjukkan betapa isu teritorial dan jaminan keamanan masih sulit dijembatani dalam jalur negosiasi. 

Sementara itu, Trump tetap menyampaikan optimisme peluang kesepakatan damai kian dekat. Namun, kubu Eropa cenderung lebih berhati-hati dan menekankan pentingnya jaminan keamanan yang kuat bagi Ukraina agar penghentian perang tidak berubah menjadi jeda sementara. (Media Indonesia)

Tekanan politik dan ekonomi juga ikut mengiringi dinamika ini. Di Brussels, pemimpin-pemimpin Eropa masih memperdebatkan langkah lanjutan terkait dukungan pendanaan dan pertahanan Ukraina, termasuk wacana pemanfaatan aset Rusia yang dibekukan. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan dukungan terhadap Ukraina tetap menjadi agenda pertahanan Eropa yang paling mendesak. 

Berita Terkait