05 March 2026, 14:49

Prabowo Minta Stok BBM RI Tahan 3 Bulan, Bahlil Beber “Biang Keroknya” Bukan Pasokan tapi Gudang Penyimpanan

Pemerintah menargetkan ketahanan energi nasional diperkuat lewat peningkatan cadangan bahan bakar minyak (BBM) hingga setara kebutuhan tiga bulan.

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Deden M Rojani
833
Prabowo Minta Stok BBM RI Tahan 3 Bulan, Bahlil Beber “Biang Keroknya” Bukan Pasokan tapi Gudang Penyimpanan
Prabowo memerintahkan Bahlil untuk meningkatkan kapasitas cadangan BBM nasional menjadi tiga bulan. Saat ini ketahanan energi RI hanya sampai 25 hari. / Doc; istimewa

JAKARTA, Perspektif.co.id - Pemerintah menargetkan ketahanan energi nasional diperkuat lewat peningkatan cadangan bahan bakar minyak (BBM) hingga setara kebutuhan tiga bulan. Arahan itu datang langsung dari Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, yang kini menyiapkan pembangunan fasilitas penyimpanan (storage) baru agar kapasitas stok nasional dapat melonjak signifikan dari kondisi saat ini.

Bahlil menjelaskan, tantangan utama selama ini bukan karena ketersediaan pasokan BBM, melainkan keterbatasan infrastruktur penampungan. Ia menyebut kapasitas daya tampung Indonesia selama bertahun-tahun hanya sanggup menjaga stok sekitar 20–25 hari. Dalam pernyataannya di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/3/2026), Bahlil mengungkap persoalan itu kerap menjadi pertanyaan publik, lalu ia menegaskan jawabannya ada pada minimnya fasilitas penyimpanan, “Teman-teman sering bilang kenapa tidak stok sampai 60 hari. Mau taruh di mana? Storage kita tidak punya. Makanya arahan Bapak Presiden sekarang kita segera membangun storage supaya cadangan kita bisa sampai tiga bulan.”

Menurut Bahlil, posisi cadangan nasional saat ini berkisar 20 sampai 23 hari, dan ia menyebut kondisi terkini sudah berada di atas standar minimal. Namun, pemerintah tetap menilai kebutuhan memperbesar cadangan menjadi krusial sebagai bantalan menghadapi guncangan eksternal, terutama ketika pasar energi global sedang rentan oleh dinamika geopolitik. Bahlil menyampaikan kemampuan tampung yang terbatas membuat ruang pengamanan pasokan juga terbatas, sehingga langkah paling realistis adalah menambah kapasitas storage, bukan sekadar menambah volume pengadaan.

Untuk mengejar target tiga bulan, pemerintah sedang mengkaji lokasi pembangunan fasilitas penyimpanan melalui studi kelayakan. Salah satu opsi yang mengemuka berada di wilayah Sumatera. Kajian lokasi ini menjadi bagian dari desain besar penguatan ketahanan energi, sekaligus mempertimbangkan efisiensi distribusi dan kedekatan dengan jalur logistik energi domestik.

Rencana memperbesar cadangan muncul ketika ketegangan global berpotensi mengganggu rantai pasok minyak, terutama di jalur-jalur strategis. Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi “nadi” pengiriman energi dunia. Sejumlah rujukan berbasis data EIA menyebut sebagian besar minyak yang melintas di Selat Hormuz mengalir ke Asia—bahkan sekitar 84 persen minyak mentah dan kondensat serta sekitar 83 persen LNG yang melewati selat tersebut ditujukan ke pasar Asia. 

Kondisi itu membuat negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, rawan terdampak bila terjadi gangguan pelayaran atau eskalasi konflik. Dalam beberapa hari terakhir, pasar juga mencerminkan kekhawatiran tersebut lewat penguatan harga minyak. Sejumlah laporan internasional menunjukkan harga Brent dan WTI sempat menanjak ke level tertinggi beberapa bulan terakhir seiring meningkatnya tensi yang menyorot Selat Hormuz sebagai jalur vital pasokan. 

Berita Terkait