08 January 2026, 14:12

OJK Buka Kartu: Merger Bank Nobu–MNC Tetap Jalan Meski Nobu Diakuisisi Hanwha 40%

(OJK) angkat bicara soal kelanjutan rencana merger antara PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) yang selama ini dikaitkan dengan Grup Lippo

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,612
OJK Buka Kartu: Merger Bank Nobu–MNC Tetap Jalan Meski Nobu Diakuisisi Hanwha 40%
OJK buka suara merger NOBU BABP masih berlanjut / Doc : Istimewa

Perspektif.co.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) angkat bicara soal kelanjutan rencana merger antara PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) yang selama ini dikaitkan dengan Grup Lippo, dan PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP). OJK menegaskan, proses penggabungan usaha kedua bank tersebut hingga kini masih berlanjut dan tidak otomatis batal meski muncul aksi korporasi baru berupa rencana akuisisi saham mayoritas Bank Nobu oleh konglomerasi asal Korea Selatan, Hanwha Life Insurance Co., Ltd.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan, komitmen merger antara Bank Nobu dan MNC Bank masih berjalan, serta tidak gugur karena masuknya Hanwha sebagai calon pemegang saham signifikan di NOBU. “Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, merger antara dua bank dengan kultur dan karakteristik bisnis yang berbeda tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa,” kata Dian kepada Kontan.co.id, Minggu (2/1).

Dian menambahkan, sinyal keseriusan kedua kelompok pemegang saham tetap terlihat melalui kepemilikan saham silang antara Grup Lippo/Nobu dan Grup MNC pada masing-masing bank. Menurutnya, OJK akan memantau perkembangan lanjutan setelah aksi akuisisi Hanwha atas Bank Nobu diumumkan. “OJK akan terus memantau perkembangan selanjutnya paska akuisisi Hanhwa terhadap Bank Nobu,” ujarnya.

Sebelumnya, di tengah rencana merger yang sempat disebut-sebut sebagai proyek percontohan penggabungan sukarela perbankan nasional, Bank Nobu mengumumkan rencana pengambilalihan saham oleh Hanwha Life Insurance. Dalam ringkasan prospektus yang dipublikasikan Jumat (31/1), Hanwha melalui entitas Hanwha Life Insurance disebut akan mengakuisisi 40% saham NOBU atau setara 2,99 miliar saham. Kemunculan rencana transaksi ini memicu spekulasi bahwa merger NOBU dan BABP akan mengalami perubahan arah, bahkan disebut membuat kelanjutan merger menjadi tidak jelas.

Namun, pengamat perbankan dan praktisi sistem pembayaran Arianto Muditomo menilai akuisisi 40% saham Bank Nobu oleh Hanwha dan rencana merger Bank Nobu–MNC merupakan dua agenda korporasi yang berbeda. Ia menyebut, hingga kini belum ada pernyataan resmi yang menyebut akuisisi Hanwha bertentangan dengan proses merger tersebut. “Hingga saat ini, belum ada informasi resmi yang menyatakan bahwa akuisisi oleh Hanwha Life bertentangan dengan rencana merger tersebut. Namun, proses merger antara Bank Nobu dan MNC Bank telah mengalami penundaan sejak target awal penyelesaiannya pada Agustus 2023,” kata Arianto.

Di sisi lain, OJK menekankan bahwa rencana merger berada dalam ranah keputusan pemegang saham kedua bank. Dalam konteks itu, Arianto memandang masuknya Hanwha sebagai pemegang saham besar dapat memengaruhi dinamika rencana penggabungan usaha, tergantung strategi pemegang saham dan ruang persetujuan regulator. Menurutnya, “dengan masuknya Hanwha Life sebagai pemegang saham signifikan di Bank Nobu, dinamika rencana merger dengan MNC Bank mungkin akan mengalami perubahan, tergantung pada keputusan strategis para pemegang saham dan persetujuan regulator.”

Rencana merger Bank Nobu dan Bank MNC sebelumnya mencuat seiring tekanan pemenuhan ketentuan modal inti minimum bank umum sebesar Rp 3 triliun yang tenggatnya berakhir pada akhir 2022. Pada periode itu, kedua bank disebut belum memenuhi ketentuan modal inti tersebut. Namun, setelah kabar merger menguat pada awal 2023, posisi modal inti keduanya berangsur memenuhi syarat. Modal inti Bank MNC pada akhir 2023 tercatat Rp 3,35 triliun, sedangkan Bank Nobu berada di kisaran Rp 3,1 triliun.

Dari sisi skala usaha, per November 2024 aset Bank Nobu tercatat sebesar Rp 32,63 triliun, dengan total kredit Rp 19,97 triliun. Sementara aset Bank MNC tercatat Rp 19,73 triliun, dengan total kredit Rp 10,96 triliun. Dengan komposisi tersebut, arah kebijakan pemegang saham setelah masuknya Hanwha akan menjadi salah satu faktor yang dinilai menentukan kecepatan dan bentuk akhir konsolidasi, termasuk apakah merger tetap berjalan sesuai desain awal atau berubah mengikuti strategi baru pemegang saham di masing-masing entitas.

Berita Terkait