14 May 2026, 17:08

Nvidia Cetak Sejarah Kapitalisasi Pasar Rp 90.475 Triliun, Jensen Huang Naik Air Force One ke Beijing

Nvidia jadi perusahaan pertama capai market cap US$5,5 triliun. Jensen Huang naik Air Force One ke Beijing bersama Trump bahas ekspor chip AI ke China.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
6
Nvidia Cetak Sejarah Kapitalisasi Pasar Rp 90.475 Triliun, Jensen Huang Naik Air Force One ke Beijing
Nvidia, produsen chip AI terbesar dunia yang sahamnya mencetak rekor kapitalisasi pasar US$5,5 triliun pada Mei 2026 seiring kunjungan CEO Jensen Huang ke China bersama Presiden Trump.​​​​​​​​​​​​​​​​ (Foto: Nvidia)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Nvidia resmi menjadi perusahaan pertama dalam sejarah yang menembus kapitalisasi pasar senilai US$5,5 triliun (sekitar Rp 90.475 triliun) setelah saham NVDA melonjak lebih dari 2% ke rekor tertinggi sepanjang masa pada Rabu, 14 Mei 2026. Tonggak bersejarah ini terjadi bersamaan dengan kehadiran CEO Jensen Huang dalam delegasi Presiden Donald Trump ke China, setelah Huang menaiki Air Force One secara mendadak.

Huang awalnya tidak termasuk dalam daftar delegasi resmi Trump ke Beijing. Namun setelah laporan media menyoroti ketidakhadiran sang CEO, Trump langsung menelepon Huang secara pribadi pada Selasa pagi dan memintanya bergabung. Huang kemudian terbang ke Alaska untuk menaiki Air Force One. Nvidia mengonfirmasi kehadiran Huang “atas undangan” Presiden Trump untuk mendukung tujuan kebijakan AS, sebagaimana dilaporkan CNBC.

Trump membenarkan hal ini melalui postingan di Truth Social dengan menyebut, “Jensen saat ini berada di Air Force One,” dan menyatakan bahwa kehadiran para pemimpin teknologi AS—termasuk Elon Musk dari Tesla, Tim Cook dari Apple, Larry Fink dari BlackRock, dan Cristiano Amon dari Qualcomm—merupakan sebuah “kehormatan” dalam upaya menekan Presiden Xi Jinping membuka pasar China bagi perusahaan-perusahaan Amerika.

Konteks diplomatik ini krusial bagi Nvidia. China yang dua tahun lalu menyumbang US$25 miliar atau sekitar 32% dari total pendapatan Nvidia pada 2024, kini mencatatkan nol dolar pemasukan bagi perusahaan akibat pembatasan ekspor chip AI oleh pemerintah AS. Nvidia mengantongi pendapatan sekitar US$215,9 miliar sepanjang fiskal 2026—tumbuh 65% dibanding tahun sebelumnya—dengan segmen data center menyumbang US$197 miliar, sementara pangsa pasarnya di segmen akselerator AI global melampaui 80%.

Sentimen positif dari kunjungan diplomatik tersebut mendorong reaksi cepat dari Wall Street. Wells Fargo menaikkan target harga saham Nvidia dari US$265 menjadi US$315 dengan mempertahankan rating overweight, memproyeksikan potensi kenaikan hingga 44% dari penutupan Senin. Analis Aaron Rakers menyatakan, “Dengan indikasi yang terus menunjukkan permintaan komputasi melampaui pasokan, kami meyakini kemampuan Nvidia dalam menskalakan infrastruktur AI dalam gigawatt menjadi faktor kunci pendorong pendapatan data center perusahaan.”

Di tengah euforia pasar, short seller Culper Research merilis laporan setebal 40 halaman yang mengklaim lebih dari 20% pendapatan komputasi Nvidia pada fiskal 2026 masih berasal dari China melalui pengalihan GPU ilegal dan perantara di Asia Tenggara—bertentangan langsung dengan pernyataan Huang bahwa Nvidia “100% keluar dari China.” Culper mengungkapkan posisi short atas saham NVDA dalam laporan tersebut.  Nvidia belum memberikan tanggapan resmi atas klaim tersebut hingga berita ini diturunkan.

Nvidia dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal pertama fiskal 2027 pada 20 Mei 2026, hanya beberapa hari setelah KTT Trump-Xi berakhir. Investor kini memfokuskan perhatian pada potensi kelonggaran ekspor chip H200 ke China, program yang hingga kini masih menghasilkan nol pendapatan bagi Nvidia meski sempat disetujui Trump pada Desember 2025 dengan syarat pemerintah AS menerima 25% dari pendapatan yang dihasilkan.

Berita Terkait